
Wanita itu masih berjalan sepoyongan, menghampiri kakak beradik yang sedang berdebat, " jangan bicara omong kosong kamu, Tari. "
Memegang tembok, berjalan dengan langkah yang terasa berat, Tari mulai mentihkan air mata. Menceritakan semua yang terjadi saat Rendy masuk ke dalam penjara.
"Setelah kamu masuk ke dalam penjara, karena membela saya, Kakak kamu, Tasya mengusir saya dari rumah ini. Ia terus menghina saya mengatakan jika saya wanita pembawa sial."
Tasya terlihat tak terima dengan ucapan Tari, menceritakan masa dimana Rendy di dalam penjara.
"Jangan fitnah kamu."
Berjalan ke arah Tari, namun sang adik menahan tubuh kakaknya itu.
"Rendy, jangan dengarkan apa kata Tari. Wanita pembohong seperti dia itu. " Tasya membuat sebuah pembelaan untuk dirinya, ia tak mau jika Rendy menganggap jika dirinya dalang dari semua kekecauan hubungan keduanya.
"Kakak bisa tidak jangan banyak bicara dan membuat sebuah pembelaan terus menerus. " Bentak Rendy kepada Tasya sang kakak.
"Tapi .... "
Rendy membulatkan kedua mata, menempelkan jari tangan pada bibir, " bukannya Rendy sudah bilang?"
"Ah."
Pada akhirnya Tasya mengalah, ia menghentikan pembelaanya, berdiri di samping Rendy untuk mendengarkan cerita yang terlontar dari mulut Tari.
"Kamu teruskan lagi ceritamu. "
Menghela napas, " setiap kali saya ingin datang ke penjara hanya untuk melihat kabar kamu, Kak Tasya melarang saya, iya mengancam saya. Jika saya masih berhubungan dengan kamu Rendy, kakak kamu akan membunuh saya. "
Deg .... Rendy terkejut dengan cerita yang terlontar dari mulut, wanita pujaan hatinya.
Tasya tak terima, ia mulai menghampiri Tari, " kamu ini. "
Menahan tangan Tasya, Rendy menatap sang kakak dengan kemarahannya yang menggebu gebu. "
"Bukannya sudah aku katakan pada kakak untuk tidak bertindak gegabah pada Tari, sebelum Tari menceritakan semuanya. "
"Tapi dia itu. "
__ADS_1
Rendy menghentikan perkataan sang kakak, " mm, atau jangan jangan, dalang dari semua ini, memang benar ulah kakak?"
Deg ....
Pada akhirnya Tasya terdiam, " kenapa diam, takut? Kalau kakak tidak ber salah, alangkah baiknya dengarkan dulu penjelasan yang sebenarnya dari mulut Tari, kalau kakak terus mengelak seperti ini, Rendy jadi curiga kalau kakak memang sudah merencanakan semua ini dari dulu."
"Sialan, aku benar benar terjebak dengan perkataan Rendy saat ini. " Gumam hati Tasya. "
Rendy menatap wanita yang ia cinta sampai sekarang, bertanya lagi, " coba kamu ceritakan lagi Tari, aku ingin mendengar semua kenyataanya yang sebenarnya. "
Tari tak sanggup berdiri, ia menarik kursi yang tak jauh dari hadapannya, duduk dan mulai menceritakan semuanya.
Obat tidur itu masih dirasakan Tari. Membuat Tari beberapa kali menguap. " Asal kamu tahu Rendy, Kak Tasya sudah mengirim orang untuk menyakiti saya, ia menganggap saya sebuah beban dan kesialan dalam keluarga kamu. "
Tatapan tajam dilayangkan oleh Rendy kepada sang kakak. Mengepalkan kedua tangan berusaha menahan emosi, Tasya yang berdiri di samping sang adik kini menelan ludah beberapa kali.
"Dan parahnya lagi, suruhan Kak Tasya memperkosa saya secara bergantian, di saksikannya oleh kedua mata kakak kamu Rendy."
Hati Rendy semakin sakit mendengar hal itu, " kakak kamu juga mengacam saya jika saya melaporkan semua kejahatan kakak kamu, ia akan membunuh saya. Asal kamu tahu Rendy, saya benar benar tertekan saat itu. Namun ada sosok lelaki penyemangat dalam hidup saya, yaitu Pak Reza. Saya kagum pada dia sudah lama, saat kamu masuk ke dalam penjara, rasa kagum itu membuat saya jatuh cinta padanya. "
"Kamu jangan percaya begitu saja pada Tari, dia sudah merekayasa ceritanya. "
"Kamu jangan memfitnah saya ya. "
"Tidak saya tidak memfitnah kakak, saya berbicara sesuai fakta, padahal dulu saya sudah mendengarkan perkataan kakak dan ancaman kakak, untuk tidak mendekati Rendy lagi, tapi kakak Tasya, malah menyuruh orang untuk memperkosa saya lagi, membuat saya hamil. Dengan alasan, kalau nanti Rendy keluar dari dalam penjara, Rendy tidak akan tertarik lagi sama saya, kerena saya hamil dan sudah menghianti kepercayaan Rendy. "
Mebuang ludah, pada wajah Tari, Tasya semakin kesal, dimana Rendy, menampar kakaknya itu.
Tari tak tinggal diam, ia membuka semua penderitaanya.
"Dan di suatu kesempatan, saya menikah dengan Pak Reza, saya berhasil membuat rumah tangga Pak Reza hancur, demi kebahagian saya. Sampai saya mengalami keguguran. Demi apa, demi lari dari penderitaan yang selalu dilakukan oleh Kak Tasya kepada saya, kepuasan karena rasa benci kakak pada saya. "
"Kamu ini bicara omong kosong. "
"Saya berbicara sesuai fakta, tidak ada kebohongan yang saya tutup tutupi, semua nyata. Setelah saya menikah, kakak tidak lagi menganggu hidup saya. "
" Tari, saya baru tahu kamu menikah sekarang sekarang, jangan salahkan saya. "
__ADS_1
Mengacak rambut dengan kasar, Rendy disulitkan dengan cerita Tari, dimana sang kakak terus membantah jika cerita itu hanya rekayasa.
"Rendy, sebaiknya kamu bawa saja Tari ke rumah sakit jiwa, kakak curiga jika ia mengalami gangguan jiwa. "
Deg ....
Rendy menatap ke arah Tasya, " kenapa kakak malah berkata seperti itu, apa kakak takut jika aku mempercayai Tari?"
"Rendy, kenapa kamu tidak pernah mempecayai Kakak kamu ini, Tari berbicara omong kosong, tak ada bukti sama sekali, kalau kakak melakukan kejahatan brutal seperti itu. "
"Rendy, jika kamu tidak percaya pada saya, tidak apa apa." Terdengar suara lembut Tari mampu membuat hari Rendy luluh.
Air mata kembali Tari perlihatkan di depan Rendy, ia berucap, " makanya, saya berusaha menghindar, karena saya tidak mau hidup saya menderita, apalagi di tangan Kakak kamu ini yang jahat. "
"Sialan, Tari, kamu ...."
"Cukup Kak, Rendy lebih percaya pada Tari dari pada kakak. "
"Rendy, ayolah, Kakak tidak pernah melakukan hal itu. "
"Tidak pernah, lantas kenapa kakak malah melarang Tari untuk menemuiku di dalam penjara?"
"Tidak pernah sama sekali, itu semua hanya rekayasa Tari saja, walau kakak benci terhadap Tari, tapi kakak tidak sekeji itu. "
"Mana ada maling ngaku dijaman sekarang. "
Tari terus memgompori Rendy, agar berpihak padanya.
"Apa yang dikatakan Tari memang benar, tidak ada namanya maling ngaku. "
" Rendy, percaya pada kakak, perkataan Tari itu hanya omong kosong. Kamu jangan terlalun mempercayai wanita licik ini. "
Suara ponsel Tasya kini berbunyi, wanita itu mulai menatap layar ponselnya yang terus berkedip.
"Nomor baru. "
Tasya menginggat nomor baru yang meneleponnya, ia mulai mengangkat nomor baru itu.
__ADS_1
"Halo. Siapa ya. "
Tasya malah tersenyum mendengar suara dari sambungan telepon, membuat Tari penasaran, begitu pun dengan Rendy.