
"Cepat pergi dari ruanganku, kenapa kamu malah diam saja menganggap aku ini seperti tak kenapa kenapa. "
Bentakan berulang kali, tak di dengar sama sekali oleh Afdal, lelaki itu seperti tak punya rasa malu. Ia memohon dan meminta minta seperti pengemis cinta yang tak bisa melupkan rasa cintanya.
"Beri aku kesempatan. "
Sudah habis, kesabaran Ainun, sampai pengunjung wanita yang duduk di luar ruangannya, terkejut mendengar teriakan Ainun.
Wanita yang menjadi pengunjung itu, sedikit kepo, ia mengintip di balik jendela, melihat Ainun menangis histeris.
"Kenapa dengan pasien itu, kok malah ngusir dokter. "
Semakin ingin tahu, Ainun yang menyadari intipan wanita pengunjung itu, membuat ia tak segan segan meleparkan sandal dengan keras, mengenai jendela kaca.
Sang pengunjung mengusap pelan dadanya, terkejut melihat orang yang sengaja ia intip.
"Ya ampun dia ngamuk kayaknya."
Afdal, yang melihat kemarahan Ainun berusaha menghentikan dengan berkata, " baik, Ainun. Aku akan pergi. "
__ADS_1
Ainun yang mendengar perkataan Afdal, kini diam, ia melihat langkah kaki, lelaki yang mencintainya pergi dari hadapannya saat itu juga.
Air mata tak bisa dibendung lagi, mengalir begitu banyak, sampai Ainun berusaha menahan rasa sakit pada hatinya.
Kepergian, Afdal, membuat ia merenung sendirian, berusaha bangkit dengan sekuat tenanga,tapi tak bisa.
Membayangkan betapa rumitnya perjalanan hidup. Ainun saat ini.
Reza tak datang sama sekali, ia sakit dalam kesendiran di ruangannya, " Reza kamu kemana?"
Menghela napas, Ainun seperti ingin berlindung pada Reza saat itu, menyakinkan dirinya bahwa Reza masih pantas ia pertahankan.
Air mata tak bisa berhenti begitu saja, Ainun terus mengepalkan kedua tangan, memukul mukul kan pada kasur. " Reza. Kamu kemana?"
Berusaha berpikir positif, di saat hidupnya sedang hancur. Ainun berulang kali beristigpar.
"Aku harus tetap berpikir positif, Reza mungkin kewalahan mengurus ketiga anak anakku. "
Setelah di rasa cukup tenang. Ainun, berusaha merebahkan tubuhnya lagi, menutup kedua mata untuk melupakan perkataan Afdal.
__ADS_1
Perkataan yang tak seharusnya ia dengar dari mulut lelaki bergelar dokter itu.
Menutup kedua mata, akhirnya Ainun dapat tertidur juga, walau perasaanya benar benar kacau saat itu.
Di satu sisi lain, pengunjung yang duduk, melihat Afdal sang dokter terlihat merenung, setelah keluar dari ruangan pasien Ainun.
Melihat kekecewaan Afdal, membuat sang pengunjung terkejut, terlebih lagi lelaki berseragam dokter itu, memukulkan tangan pada tembok.
"Sialan, aku tak bisa mendapatkan cinta kamu lagi Ainun, padahal di saat rumah tanggamu yang renggang ini kamu dapat aku meliki. "
Kepala depan Afdal senderkan pada tembok, sang dokter kini menitihkan air mata dengan kelukaan pada hatinya.
"Aku ingin kamu ada dipelukanku sekarang, tapi kenapa. Tak bisa. "
Menghela napas, Afdal berusaha berdiri tegar, walau hatinya rapuh, ia tetap ingin memperjuangkan cintanya walau, Ainun masih bersama dengan Reza.
Karena bagi dirinya semua keharusan, Afdal harus merebut apa yang dulu pernah menjadi miliknya, walau itu tak mungkin, sebagai seorang lelaki ia akan berusaha berkerja keras, walau resikonya nyawa dan rasa malu karena ingin merebut istri orang.
"Aku akan buktikan jika aku bisa mendapatkan kamu, Ainun. Lihat saja, nanti. Tak akan aku biarkan kamu menderita di tangan Reza. Lelaki tidak tahu di untung itu. "
__ADS_1