Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 43


__ADS_3

Sampai di kantor, tempat aku bekerja, Ainun tiba tiba disapa sang pemilik perusahaan. " Ainun. Senang sekali kamu datang kesini?"


Deg ….


Sapaan itu membuat aku terkejut, bagaimana bisa pemilik perusahaan bisa menyapa istriku, jelas jelas aku menejer di perusahaan. 


Tetapi ….


Ainun menghampiri pemilik perusahaan itu, entah apa yang mereka bicarakan,  terlihat begitu serius. 


" Mas, hari ini aku akan menemani Pak Gunawan untuk metting. "


"Apa, itu tak mungkin. " Tari seperti mengelak, ia masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Ainun. Begitupun denganku. 


" Jangan main main, Mbak Ainun, ini metting penting. "


Ainun tersenyum kecil, ia melirik sekilas ke arah Tari. "Pak Gunawan. " Tari menghampiri pemilik perusahaan, 


"Kenapa, Tari?"


"Apa anda yakin dengan wanita ini!"


 Pak Gunawan melirik sekilas ke arah Ainun tersenyum dan menjawab perkataan Tari. " Kenapa tak yakin, saya senang jika ada Ainun disini. "


Alex kini menghampiriku dan juga Tari, ia merangkul bahu lalu berucap, " Wah, kamu sudah membawa seorang senior ke perusahaan ini, beruntung sekali Pak Gunawan, pasti metting hari ini akan sukses. "


"Maksud kamu?"


Alex menghela napas, ia tersenyum menjawab perkataanku!" Kamu lihat saja nanti. "


Alex pergi begitu saja, membuat aku terus menduga duga, jika Ainun pernah bekerja disini, atau dia sudah ahli di bidang perusahaan. Hanya saja Ainun selalu menyembunyikan hal ini dariku. 


Metting kini dimulai. Aku hanya mengintip dibalik kaca, melihat kepintaran Ainun sampai dimana. Apa yang dikatakan Alex itu benar. 


Para tamu penting datang, mereka duduk. Ainun terlihat santai dan tersenyum lebar. 


Perlahan ia mulai menjelaskan semuanya dengan begitu rapi dan tentunya mengagumkan. 


Semua yang ada di dalam ruangan bertepuk tangan, mereka senang melihat kepintaran Ainun dalam menjelaskan semuanya. 


"Aku baru tahu istriku begitu hebat, hanya saja dia tidak pernah memperlihatkan kehebatannya itu."


Alex datang, mengagetkan aku dan juga Tari.


"Bagaimana? Menajubkan bukan. "


Tari terlihat kesal, ia mengepalkan kedua tangan, seperti tak menerima. 


"Alex, aku mendengar dari cara bicaramu seperti tahu semua tentang istriku. "


Alex tertawa dan memukul punggungku, " coba kamu tanyakan, pada pemilik perusahaan ini, siapa Ainun itu. "


"Kenapa kamu tidak katakan saja sekarang padaku, kenapa harus menutupi siapa Ainun sebenarnya. "

__ADS_1


"Masalah itu, aku tidak mau mengatakan semuanya, kamu tanya saja. "


Alex, benar benar menyebalkan, pergi dengan meninggalkan rasa penasaran pada hatiku. 


Beberapa menit kemudia, Ainun keluar dengan Pak Gunawan, mereka begitu akrab sekali, seperti bukan seorang rekan kerja. 


" Ainun, Om senang sekali akan kedatangan kamu hari ini, berkat kamu. Metting tadi berjalan lancar dan inves yang om dapatkan begitu banyak, tidak seperti kemarin kemarin, ide kamu pun berlian sekali. "


Aku semakin terkejut, mendengar perkataan Pak Gunawan, saat ia menyebut dirinya sebagai om dihadapan Ainun. 


" Pak Gunawan, apa bapak tidak salah bicara?"


Pak Gunawan mengertukan dahinya, " Salah bicara apa?"


"Tadi anda menyebut diri anda sebagai om pada istri saya!"


Pak Gunawan tertawa, ia menepuk bahuku. " Jadi istri kamu belum pernah cerita kalau dia itu keponakan saya. "


Aku semakin tak mengerti, bagaimana bisa. Wanita sederhana seperti Ainun adalah keponakan dari pemilik perusahaan tempat aku bekerja. 


"Reza, kamu beruntung mendapatkan Ainun. Dia wanita sederhana, baik. Pintar. "


Ainun mengelak perkataan sang om. " Tak perlu berlebihan memuji Ainun seperti itu om, Ainun tetap saja ibu rumah tangga."


"Kamu ini sama seperti almarhum kedua orang tua kamu, tak suka memperlihatkan kekayaan."


"Om, terlalu berlebihan, Ainun hanya ingin dihargai dalam kesederhanaan Ainun saat ini. "


Pak Gunawan mengusap pelan kepala istriku, ia terlihat begitu menyayangi Ainun. 


"Ahk, baiklah."


Pak Gunawan pergi dari hadapan kami semua, sedangkan aku terus menatap dan kagum terhadap Ainun. 


Selama ini dia sudah menghargaiku sebagai suami, tetap setia, tak mengakui bahwa dirinya bisa dalam segala hal. Selalu merendah dihadapanku. Meninggikan drajatku sebagai seorang suami. 


Aku benar benar bodoh, terlalu melihat kekurangan istriku, tak menghargainya. Terlalu banyak menuntut. 


Alex mendekat ke arah istriku, tersenyum. " Apa kabar senior. "


" Alex, kamu masih betah kerja di sini?"


"Tidak, setelah kepergianmu. Hatiku hampar rasanya!"


Ainun tersenyum dengan gombalan yang dilayangkan oleh Alex membuat api cemburu kini tumbuh dan meluap pada hati begitupun kepalaku. 


"Ainun. Ayo kita pulang. "


Aku mulai menarik tangan istriku, menghindar dari hadapannya. 


Namun, baru saja pergi, Alex menahan Ainun begitupun denganku. " kalau dia mencampakan kamu, jangan lupa datang padaku. "


Siapa yang tak kesal dengan ucapan Alex, sebagai seorang suami, aku sangat kesal padanya. Mendekat, mencekram kerah baju milik Alex, " Apa maksud kamu, berbicara seperti itu. "

__ADS_1


Selama ini aku baru saja dengan tingkah Alex yang memang selalu mengomporiku,  menjelek jelekan Ainun. 


"Tenang brow, aku hanya ingin Ainun bahagia, kamu tahukan dulu kami sempat ingin menikah tapi gagal. "


Deg ….


Aku baru tahu akal hal itu, perlahan kutatap wajah istriku, ia tampak malu. Menundukkan wajah berusaha menghindar. 


"Ainun, aku masih mencintaimu. Kalau boleh aku akan menunggumu, sampai si keparat ini pergi menjauhimu. "


Satu pukulan aku layangkan pada wajah Alex, membuat Ainun berusaha menarik badanku. 


"JANGAN MULUT KAMU ITU. "


Alex tersungkur jatuh, ia malah tertawa sembari memegang pipinya. 


Sedangkan Ainun berusaha menenangkanku, dengan berkata, " tolong kamu jangan terpancing emosi, sebaiknya kita pergi dari sini saja mas. "


Aku yang masih kesal kini menjawab, " Tapi dia, keterlaluan Ainun. "


Pelukan Ainun semakin erat memeluk tubuhku," biarkan saja, sebaiknya kita pulang saja. "


Karena mendengar perkataannya, membuat aku mengela napas dan menurut. " kalau begitu, baiklah. "


"PENGECUT."


Teriakan Alex membuat darahku seketika mendidih, ingin aku memukul mulutnya saat itu juga. 


Namun, tertahan oleh Ainun. " Sudah ayo cepat kita pulang. "


Kami mulai pulang meninggalkan perusahaan, dimana aku meminta izin cuti untuk sementara waktu. 


"Ainun, 1 Love you. "


Sialan, Alex malah sengaja berkata seperti itu. Ingin rasanya kugampar mulutnya itu. 


"Sudah, kamu jangan ladeni dia. Alex memang seperti itu. "


Ainun terus menenangkan hati yang penuh dengan rasa cemburu, " Ayo kita pulang. Buang rasa kesal dan emosi kamu itu. "


Aku menganggukkan kepala, dimana Tari masih berdiri diluar mobil. 


"Tari, kenapa kamu malah berdiri saja disana. Ayo kita pulang. " Ucap Ainun, masih terdengar baik saat memanggil Tari. 


Tari terlihat ragu, sepertinya ia malu dengan Ainun yang pintar dalam segala hal. 


Tari kini membuka pintu mobil, wajahnya terlihat merah, sepertinya ia dari tadi menahan rasa malu karena melihat kepintaran istriku Ainun. 


Saat di dalam mobil, ada saja tingkah Tari, ia masih belum puas dengan apa yang ditunjukkan Ainun saat di  kantor. 


" Mbak Ainun, pastinya anda tidak bisa mengendarai mobil? Kalau saya bisa, karena ya …."


Belum perkataan Tari terlontar semuanya, Ainun langsung pindah dari tempat duduknya, menancabkan gas mobil, Ainun ternyata pintar mengendarai mobil. 

__ADS_1


"Kamu lihat ini, bukannya Pak Gunawan bicara kalau aku keponakannya. "


Pertarungan kini semakin memanas, membuat aku melihat jika Tari tak ingin terkalahkan, padahal dalam posisinya yang sekarang dia sudah tak berdaya lagi dan kalah. 


__ADS_2