Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 23


__ADS_3

Dokter datang memberi kabar akan keadaan ibu, aku yang begitu antusias dan kuatir mendekat ke arah dokter itu. 


"Dok, jadi gimana keadaan ibu saya?"


Pertanyaanku membuat dokter itu menundukkan pandangan, seperti sesuatu yang fatal terjadi pada ibu. 


"Dok, kenapa anda malah diam saja?"


Dokter menghela napas, menjelaskan keadaan ibu yang sekarang. " Ibu anda mengalami stroke. "


" Kenapa bisa dok, padahal selama ini Ibu sehat-sehat saja tidak pernah sakit!"


" kami baru mengecek riwayat penyakit ibu anda, bahwa ibu anda mempunyai tekanan darah tinggi dan penyakit lainnya. "


Aku tak menyangka dengan pernyataan yang aku dengar dari dokter, " Stroke ini bisa sembuh, asal mendapatkan perawatan yang baik. Dan kesabaran extra. "


Ainun mendekat ke arah dokter, membuat aku membulatkan kedua mata, berharap dia tidak campur dengan urusan keluargaku lagi. 


"Mau apa kamu. Pergi. "


Aku mengusir Ainun pergi dari rumah sakit, tak ingin melihat wajahnya, apalagi sampai ia berusaha membujuk ibu." Pergi. "


Ainun tampak menatapku dengan tajam, " aku datang ke sini masih peduli dengan ibumu, tapi aku tak menyangka akan dapat perlakuan seperti ini darimu, mas. "


" Aku tak peduli dengan omong kosong yang kamu katakan padaku, sebaiknya cepat kamu pergi dari sini karena besok kita akan bertemu lagi di pengadilan, dan jangan harap jika hak asuh anak-anak jatuh pada kamu. "

__ADS_1


"Baiklah aku akan pergi. "


Ainun melangkahkan kakinya pergi dari hadapanku. 


"Pak Reza. "


Tari kini mendekat, memegang tangan. Nada lembutnya terdengar kembali dari telinga kiriku," Pak Reza, anda jangan kuatir masalah  penyakit yang diderita  ibu anda, saya akan menjaga ibu anda dengan baik apalagi dengan anak-anak anda. "


Siapa yang tak luluh dengan perkataan Tari,  apalagi aku yang berada dalam kesedihan saat ini, tersentuh dan ingin memilikinya, setelah perdebatan terjadi, emosi dan kemarahan seketika hilang begitu saja. 


Tari memegang bahuku, ia mulai meraba setiap jari jemari tangan. Membuat aku malah tergoda. " Tari. "


"Pak Reza, saya menyukai anda. "


Tari, mengusap pelan daguku, ia kini tersenyum di hadapanku dengan berucap lagi. " Pak Reza. "


Aku berusaha menghindar dan menolak rayuannya. " Tolong, jangan ganggu aku sementara waktu. "


Tari sedikit menjauh dariku, ia perlahan membenarkan posisi berdirinya. " Kalau begitu saya pamit pulang dulu. "


Aku mulai mempersilahkan gadis itu untuk segera pulang dari rumah sakit, mengabaikannya,  berusaha tidak terlalu respek dan memberi harapan padanya. 


********


Suster mulai memperbolehkan aku masuk keruangan ibu, di mana wanita tua itu sudah sadarkan diri. 

__ADS_1


"Bu."


Terlihat kedua mata ibu tampak berkaca kaca, membuat aku yang menatapnya kini mencium punggung tangan ibu. 


"Bu, maafkan Reza ya bu. Reza tidak bermaksud mencelakai ibu. "


Stroke yang dialami ibu sangatlah parah, ia tidak bisa berbicara satu patah kata pun. Hanya mengedipkan kedua mata dan melebarkan bibirnya perlahan demi perlahan. 


" Bu, tadi ada Ainun. Wanita itu sudah Reza usir, jadi ibu jangan berharap lagi wanita itu ya bu, " ucapanku membuat ibu terlihat menggerakan kepalanya, " ibu mau apa?"


Aku tak tahu apa yang dimaksud oleh gerakan tangan dan kepala ibu, " Ibu istirahat dulu ya, Reza mau berangkat untuk mengambil berkas buat di pengadilan besok. "


Ibu berusaha menggerakan kaki, membuat aku hanya diam, berusaha tetap tenang. "Bu, Reza pamit. "


Aku mulai menyuruh suster untuk menjagaku, dimana wanita tua itu terlihat ingin bagun. 


******


Setelah mengurus  semuanya, aku melihat sosok Ainun sedang berada di depan taman rumah sakit. Membuat aku menghampirinya, " Kenapa dia masih ada di lingkungan rumah sakit. "


Perlahan berjalan, menghampiri Ainun. Tiba tiba sosok Tari datang, aku yang penasaran kini menghentikan langkah kakiku sendiri. 


" Ada apa mereka saling bertemu. "


Suara mereka tak aku dengar sama sekali, dimana aku berusaha mendekat tanpa disadari oleh mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2