Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 8


__ADS_3

Menunggu kepulangan istriku tak kunjung juga datang, aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Di mana rasa takut akan terjadi apa-apa dengan Ainun terus mengelilingi kepalaku, " Ahk, apakah ini yang dirasakan seorang wanita. Jika suaminya pergi sampai selarut malam ini. "


Ketiga anak-anakku sudah tertidur lelap, aku mulai berdiri beranjak pergi dari ranjang tempat tidur. Tubuh begitu terasa lemas, aku lupa mengisi perut. 


Berjalan ke arah dapur, untuk segera menikmati makanan yang sudah dimasak ibu tadi sore, saat membuka tudung saji, masakan terasa dingin, membuat aku terpaksa menghangatkannya kembali. 


Setelah semua terasa hangat, aku mulai menyuapkan makanan ke mulut,  untuk menghilangkan rasa lemas. 


Namun baru saja satu suapan aku masukkan ke mulut, si kembar menangis memanggil Ainun. 


Dengan terpaksa aku menghentikan suapanku, untuk segera menghampiri si kembar. 


"Kayla, kania. Kalian kenapa?"


Keduanya duduk, menangis memperlihatkan botol susu yang sudah kosong. " Kalian mau susu. "


Mengambil kedua botol susu, aku mulai mengisinya. Si kembar tetap menangis merengek tak sabar ingin kembali tidur. 


"Tunggu sayang, papa datang. "


Berjalan terburu buru, untuk segera masuk ke dalam kamar anak anak, " Nih sayang. "


Anak anak kembali tertidur, setelah meminum susu yang aku buatkan. 


Menatap jarum jam, sudah menunjukkan pukul dua belas malam, Ainun belum juga pulang. 


Aku kembali lagi pergi ke dapur, untuk meneruskan makanku. 


Duduk, dan rasanya sudah tak napsu lagi. Membuat aku menutupnya dan kembali untuk tidur. 


Tok …. Tok. 


Ketukan pintu terdengar  nyaring pada kedua telinga, membuat aku berjalan sempoyongan untuk menghampiri pintu depan rumah. 


Ceklek. 


"Ainun, kamu baru pulang jam segini. "


Ia malah tersenyum dan masuk begitu saja, " Ainun. "


Panggilanku tak didengar olehnya sama sekali, membuat aku berjalan cepat menyusul Ainun. Menarik tangannya. " Ngapain saja kamu, hah. Pulang larut malam, gila kamu. "


Satu tamparan mulai dilayangkan olehku pada pipi kiri Ainun, namun sesuatu tak terduga membuat aku terkejut. Ainun berhasil menahan tangan," Jangan pernah tampar aku. "


Melepaskan tanganku, Ainun kini menampar pipiku. 


"Bukannya ini yang kamu mau. Apa pernah kamu memikirkan perasaanku dulu, di saat aku kelelahan mengurus semuanya, pekerjaan rumah, ketiga anak anak. Belum kamu yang kerjaannya pulang larut malam nongkrong terus."


Ainun pergi meninggalkanku, masuk ke dalam kamar. 

__ADS_1


Aku mulai menyusul dan berkata. " Ainun, tunggu."


"Apa lagi. "


Tak terpikirkan untukku meminta maaf padanya, hanya memeluk perlahan tubuhnya itu dari belakang. 


"Lepaskan, aku capek, ingin istirahat. "


"Ahk, Ainun. "


Wanita yang menjadi istriku itu, kini tertidur tanpa menatap ke arahku sedikitpun. 


"Begitu kesalnya kamu terhadapku Ainun. Sampai kamu menatap ke arahku pun terlihat enggan. "


Menghela napas, aku berusaha tetap tenang. Merebahkan tubuh, dimana sosok istriku ini seperti orang asing. Karena melihat perubahannya yang derastis. 


Aku terbangun di jam empat, berjalan ke arah dapur, semua begitu berantakan. Tak ada jeda istirahat sedikit pun untukku benar benar melelahkan.


Hanya dua hari bertukar peran membuat aku benar benar stres.


Suara si Kembar kini merengek lagi, membuat aku menghentikan aktifitas di dapur.


Benar benar melelahankan kapan semua berakhir.


******


Hingga satu minggu berlanjut.


Ucapan Ainun membuat aku ingin sekali mengatakan ya, aku menyerah. Tapi karena gengsi dan harga diri sebagai seorang lelaki itu tak mungkin sekali aku katakan.


"Kenapa diam saja mas, aku masih punya hati untuk memberikan kamu kesempatan."


"Ahk, tidak. Aku tidak akan menyerah, sampai titik penghabisan, kamu saja yang lemah jadi Irt banyak ngeluh, buktinya aku bertukar peran denganmu tak ada ngeluh ngeluhnya. "


Ainun tiba tiba saja batuk dihadapanku, membuat aku tertawa, " kenapa kamu tertawa. "


"Baru saja aku katakan seperti itu, kamu sudah batuk. "


"Hey, memangnya batuk jadi permasalahan, kan tidak. "


Ainun berpamitan pergi dari rumah untuk segera bekerja, ia tak lupa memberikan uang jatah senilai lima puluh ribu padaku.


"Tidak ada tambahan. "


"Bukannya kamu dari dulu selalu memberiku uang jatah segitu ya mas. "


Mendengar perkelataan istriku membuat aku ingin menangis, uang simpananku habis tak tersisa karena menutupi semua kebutuhan rumah yang tak terbeli.


Mengacak rambut dengan kasar, aku mulai frustasi dengan peran sebagai istri ini. Jika aku menyerah harga diri, jika aku bertahan bunuh diri.

__ADS_1


Bagaimana ini, Ya Allah ingin aku berteriak, sekeras mungkin, biar orang tahu apa yang aku rasakan.


suara tangis kembali terdengar dari kamar, si kembar medekat dan berkata, " papah, papah. Mau makan. "


"Iya sayang, sabar dulu ya. "


Aku mulai mengecek bahan makanan, berharap jika bahan makanan yang aku beli masih ada.


Berjalan membuka pintu dan, apa yang aku lihat.


Tak ada bahan makanan sedikit pun yang bisa aku masak.


Aku mulai menghubungi ibu, meminta bantuan padanya.


"Halo, Reza ada apa?"


"Bu, bantu Reza sehari ini saja. Reza kerepotan, uang belanja habis dan bahan makanan habis. "


"Ibu juga nggak punya uang, baru kemarin uang hasil mijem sama kamu ibu bayarin pada Ainun."


"Apa bu, uang yang ibu pijam ibu kasih ke Ainun. Yaelah bu, itukan uang aku. Bu. "


"Ya ibu lupa lah, udah terlambat. "


"Ahk, ibu ini. Geselin, kenapa juga nggak laporan dulu pada Reza. "


"Kalau udah terlambat ya gimana lagi. "


"Ibu bantu Reza sekarang ya, Reza butuh bantuan ibu. Please. Mohon. "


"Bantuan apa lagi, memangnya tukar peran kamu sama Ainun belum selesai, bukannya ibu sudah beri masukkan pada kamu kemarin. "


"Nggak Reza lakuin bu. "


"Ya ampun Reza, kenapa. Kamu ini egois ya. Memetingkan Gengsi dari pada istri kamu dan kebahagiaan anak kamu. "


"Ya gimana lagi bu, Reza malu lah, harga diri. "


"Reza, setelah menikah dan memiliki anak. Jika sepasang suami istri itu harus saling mengayomi saling memahami, saling mengerti, bukan membesarkan Gengsi. Ainun itu istri yang baik, dia mau bertukar peran seperti itu, agar kamu sadar, agar kamu itu mengerti. Jika posisinya saat ini benar benar lelah dan capek. "


Aku langsung mematikan sambungan telepon, "pusing dengan ocehan ibu. Bukan mendukung anaknya ini selalu saja yang di dukung itu menantunya."


Kadang aku selalu berpikir, "aku ini anak kandung ibuku atau anak adopsi. Selalu di anggap salah jika mengutarakan masalah keluargaku. "


"Papah, lapar. Makan. "


"Iya nak, sabar ya. "


Tok .... Tok .

__ADS_1


Ketukan pintu membuat aku menggedong anakku, melihat siapa yang datang.


Berjalan, membuka gordeng yang masih tertutup, "Astaga, teman teman di kantor. Mereka datang kesini. Bagaimana ini, rumah berantakan anak semua nangis. Ahk, bakal jadi topik trending nantinya. Kalau keadaanku memalukkan seperti ini. "


__ADS_2