
"Papah, kenapa?"
Pertanyaan anakku membuat aku terasa susah menelan nasi goreng. " Pah, nih minum. "
Denis begitu perhatian padaku, ia menyodorkan gelas berisi air padaku. Meminumnya, " Ahk, lega. "
Ainun masih duduk, ia menatap ke arahku curiga. " Kamu bukan buronan kan, mas?"
Aku terkejut dengan pertanyaan Ainun, " Hah, buronan, mana ada. Aku tidak pernah melakukan kejahatan apapun. "
Pintu terdengar di gedor lagi, Ainun bangkit dari tempat duduknya, melihat siapa yang datang. Sedangkan aku kebingungan sendiri, menghela napas berusaha tetap tenang, walau sebenarnya hati bimbang.
"Semoga saja bukan Tari. "
Rasa penasaran menggebu gebu dalam hati, melihat anak anak terlihat begitu fokus memakan makanannya. " Denis, kamu jaga adik adik kamu ya, papah mau nyusul mama. "
"Iya pah. "
Aku mulai berjalan, mengendap ngendap melihat siapa yang datang ke rumah Ainun, perasaanku sudah tak menentu, mendengar suara seorang wanita.
Mengintip dibalik tembok, apa yang aku lihat benar saja, Tari datang dengan membawa kepala desa. Ke rumah Ainun.
"Bagaimana ini, pasti dia akan mempertanyakan keberadaanku?Aku harus kabur. "
__ADS_1
Membalikkan badan, " Mas Reza. "
Pada akhirnya, panggilan Ainun menghentikan langkah kakinya. " Iya. "
Aku menggaruk belakang kepala yang tak terasa gatal, membuat aku seperti orang bodoh.
"Mas, sekarang kamu selesaikan masalah kamu, jangan libatkan aku dan anak anak dalam masalahmu. Karena nanti siang kita selesaikan masalah kita di pengadilan. "
Aku menggenggam tangan istriku, meminta tolong untuk pertama kalinya, sampai menghilangkan rasa ego pada diri ini. " Tolong, aku satu kali ini saja. "
Ainun melepaskan tanganku begitu saja, ia pergi dimana aku menarik tangan dan memeluknya. " Aku mohon, bantu aku."
Ainun berusaha melepaskan pelukan dariku, " Mas, kamu ini kenapa?"
Istriku memalingkan wajah, ia terlihat berpikir sejenak, " Ainun. "
Menghela napas, Ainun menyuruhku untuk berdiri. " Sepertinya aku tak bisa, mas. "
"Tolong lah Ainun. Sebenarnya aku di fitnah oleh Tari. "
"Kenapa bisa?"
"Aku tergoda olehnya, dan …."
__ADS_1
"Kamu tidak bisa menahan godaan itu, semua salah kamu sendiri, mas. Apa yang kamu perbuat akan balik lagi ke diri kamu, padahal dari dulu aku sudah memberimu kesempatan mas, tapi kamu sia siakan. Apa kurangnya aku selama ini mas, setelah punya masalah, kamu datang lagi padaku. Kamu anggap aku apa mas. "
Ainun menangis, disini aku baru merasakan bahwa diriku begitu ber*ngs*k sudah menyia nyiakan wanita baik, demi wanita yang ternyata malah menghancurkan diriku karena kepuasan dan keinginan dari hawa napsunya.
"Sebaiknya kamu pergi dari rumah ini, selesaikan masalahmu, aku tidak mau anak anak yang tak tahu apa apa, menjadi sakit hati dan benci pada kamu, karena melihat kelakuan bej*d kamu itu. "
" Ainun, tolong."
Ainun tidak memberi aku kesempatan sama sekali, ia malah mengusirku dari rumahnya.
Apa yang harus aku lakukan sekarang?
" Jadi kamu ada disini, Pak. "
Aku terkejut dengan kedatangan Tari yang masuk ke dalam rumah Ainun, membuat aku berusaha lari. " Tari, aku tidak mau menikah denganmu. "
Kepala desa kini mencegahku, membuat aku tak bisa lari dari kenyataan yang menimpaku.
"Ainun, tolong. Aku mohon. "
Ainun tetap saja diam, ia hanya melihat saat aku diseret paksa oleh para warga dan kepala desa, " Ainun, please. Aku akan berubah, aku tidak mau egois lagi. Tolong aku. "
Teriakanku membuat anak anak datang, mereka memanggilku berulang kali, " papah. "
__ADS_1
Namun, Ainun terlihat mencegah anak anak untuk tidak menghampiriku.