
"Saya Reza. "
Mendengar nama Reza, pada sambungan telepon membuat Tasya tersenyum lebar, di mana tari dan juga Rendy mengerutkan dahi.
"Oh ya, Kebetulan sekali saya menemukan istri anda!"
Sontak Tari terkejut dengan perkataan yang terlontar dari mulut Tasya, " Pak Reza. "
Wanita itu langsung mengambil ponsel yang masih menempel pada telinga Tasya.
Memanggil nama Reza, " Pak Reza, saya ada di sini saya masih hidup tolong saya saat ini. "
Rendy tak suka dengan nada bicara Tari yang seakan dirinya dalam bahaya. " Pak Reza, saya ada ...."
Mengambil ponsel yang masih digenggam oleh Tari, Rendy mematikan sambungan telepon yang masih terhubung dengan sosok lelaki yang tak ia ketahui.
"Rendy, kenapa kamu malah mematikan panggilan telepon suami saya?"
Rendy terlihat marah ketika Tari mengatakan kata suami, " Aku tidak suka mendengar kamu bermesraan seperti itu dengan lelaki lain. "
" Dia itu suami saya, jadi saya berhak meminta bantuan padanya. "
Rendy kini melemparkan ponsel milik sang kakak, ke atas lantai hingga terpecah belah, berserakan ke mana-mana?
"Ponselku. Rendy. "
Rendy memperlihatkan telapak tangannya di hadapan sang kakak," aku akan menggantinya besok. Jadi Kakak jangan khawatir. "
"Rendy."
" kalau Kakak masih mengelak dan marah kepadaku. Aku tak akan mengganti ponsel itu kembali. "
"Gila kamu?"
Rendy malah membentak Tasya di depan Tari, menunjuk wajah sang kakak dengan tatapan tajamnya," justru kakak yang gila, Kenapa kakak malah menelepon lelaki bernama Reza itu?"
Deg ....
__ADS_1
Melihat perubahan dari wajah Rendy, membuat Tari diam saat itu juga, ia melihat jika Rendy begitu menyeramkan, ketika ia sedang marah.
" Kakak masih mau mengelak perkataan Rendy?"
Menggelengkan kepala berusaha tidak membantah lagi, " kalau begitu, kakak tidur dulu. "
Rendy menganggukkan kepala di saat sang kakak berpamitan untuk segera tidur, saat langkah kaki Tasya dekat dengan pintu kamarnya sendiri.
Rendy kini mengeluarkan nada suaranya yang terdengar menyeramkan, " urusan Rendy dengan Kakak belum selesai, apalagi menyangkut tentang Tari. "
Tasya kini dalam bahaya, setelah kata-kata menyeramkan itu keluar dari mulut adiknya sendiri.
Membuka pintu kamarnya Tasya terburu-buru masuk, Iya berusaha mengabaikan ancaman yang terlontar dari mulut adiknya.
Setelah kepergian Tasya yang masuk ke dalam kamarnya sendiri, Rendy mulai menatap ke arah Pujaan hatinya, yang menarik paksa tangan Tari.
Membawa wanita itu masuk ke dalam kamarnya lagi, " Rendy lepaskan tangan saya. "
Rendy malah mencengkeram erat tangan Tari, lelaki berotot itu seperti ingin memberi pelajaran pada wanita yang selalu ia sebut sebagai pujaan hatinya.
" Rendy. "
" kamu sudah menyakiti tangan saya."
Rendy malah tersenyum tipis, ia menjawab perkataan Tari, " rasa sakit yang kamu rasakan tidak sebanding dengan apa yang aku rasakan saat ini."
"Rendy, cepat lepaskan tangan saya, Saya ingin pulang menemui Pak Reza lelaki yang menjadi suami saya saat ini."
Rendy tiba-tiba saja menghentikan langkah kakinya, ia menghempaskan tangan Tari. membalikkan badan menatap tajam pada wanita yang menjadi Pujaan hatinya.
" kamu ingin pulang menemui suamimu?"
Tari menundukkan wajah, ia tak berani menatap tatapan tajam yang di perlihatkan oleh Rendy.
" Rendy, kamu kenapa? Bukanya sudah dengar, penjelasan tadi. "
Wajah Rendy kini semakin dekat pada wajah Tari, lelaki itu menghembuskan napas beratnya pada wajah sang pujaan hati.
__ADS_1
" kamu harus menurut kepadaku, sebaiknya kamu tinggalkan lelaki itu balik lagi kepadaku."
Berusaha melepaskan tangan Rendy, Tari ini membentak lelaki yang berada di hadapannya. ' Jangan berbicara omong kosong kamu ini, tidak mungkin saya meninggalkan Pak Reza yang sudah baik menikahi saya. "
Plakk ....
Rendy dengan sengajanya menampar pipi kiri Tari yang terus membahas Reza, lelaki yang ia ceritakan begitu baik di hadapan Rendy.
Rendy tak segan menarik tangan Tari, hingga wanita itu tersungkur jatuh ke atas lantai.
"Ahkk."
Rendy melepaskan tangan Tari," kenapa, sakit?"
Ucapan Rendy, membuat Tari mendelik kesal, " apa bisa kamu tidak memperlakukan saya sekejam ini. "
Rendy malah tersenyum mengusap dagunya," kamu bilang aku ini kejam. "
Tari menundukkan wajahnya, berusaha menghindari tatapan Rendy yang terlihat begitu menyeramkan sekali.
Tangan berotot dengan badan kekarnya itu kini mencengkram kedua pipi Tari.
" jangan membandingkan aku dengan lelaki bernama Reza."
"Jelas, kenapa saya bisa membandingkan kamu dengan Pak Reza, kamu itu terlalu kasar dan tidak menghargai saya. "
Perkataan Tari begitu menusuk pada hati Rendy, membuat lelaki itu malah semakin marah.
Brakk.
Memukul meja dengan begitu keras, sampai akhirnya Tari berusaha menutup kedua telinga, dia pergi dari hadapan Rendy.
"Mau kemana? baru saja lepas dari ikatan tali. "
Rendy malah membopong tubuh Tari, lelaki itu melemparkan Tari pada ranjang tempat tidur.
"Apa yang kamu lakukan, cepat turunkan aku dari gendongan kamu ini. "
__ADS_1
berusaha memberontak kembali. tak ada respon dari keluarga Reza.
sampai pada akhirnya'