
Reza mulai menyalakan mesin mobil, ia bergegas pergi untuk segera menjemput ketiga anak anaknya, " semoga saja, tempat penitipan anak masih buka. "
Reza merasa kuatir dengan keadaan ketiga anak anaknya, di setiap perjalanan menuju penitipan anak, hatinya merasa gundah, ia tak sabar ingin bertemu dengan ketiga anak anaknya.
Mengendari mobil dengan kecepatan tinggi, akhirnya Reza sampai di tempat tujuan, membuka jendela kaca mobil, " kemana anak anak, biasanya mereka menunggu di kursi. "
Reza membuka pintu mobilnya, hening. Tak ada satu orang pun disana, " aku harus bertanya pada siapa, tidak ada orang satu pun. "
Melihat pengurus dan penitip anak keluar dari ruangan. Reza bertanya pada wanita bertubuh tinggi semampai itu. " Bu, saya mau tanya, Kayla dan Kania. Begitu pun Denis kemana ya, biasanya mereka menunggu saya di kursi ini. "
"Loh, saya juga tidak tahu, mereka tidak masuk lagi ke dalam. Jadi saya tidak memperhatikan mereka bertiga. "
Jawaban yang tak menyenangkan untuk di dengar Reza, apalagi sang pengurus terlihat tak peduli.
"Saya pulang dulu. "
"Bu. Tunggu. "
Pengurus itu berjalan cepat menjauh dari hadapan Reza, seperti tak ingin disalahkan.
"Loh kenapa malah pergi. Bu, tunggu. "
Reza berteriak memanggil sang pengurus, ia berlari untuk menanyakan keberadaan ketiga anak anak ya.
Namun sang pengurus malah berpura pura tuli, menaiki motor pergi dari hadapan Reza.
"Ye elah malah pergi. "
Pada akhirnya Reza terpaksa mencari keberadaan ketiga anak anaknya, berjalan menelusuri jalanan,
__ADS_1
" Kayla, Kania. Denis. Kalian ada dimana?"
Dimalam hari, awan terus berhembus, membuat rasa dingin dirasakan Reza. " Denis. "
Perasaan Reza tak menentu, dimana ia sedikit merasakan ikatan batin yang amat terasa dalam hatinya.
"Aku merasa jika ketiga anak anak, ada di sekitar sini. "
Mencari dengan harapan Denis dan anak kembarnya ketemu.
Reza mulai mengamati, mobil hitam yang terlihat mencurigakan baginya.
Melihat pada kaca mobil, seperti anak anak yang sedang disekap.
"Apa itu Denis?"
"Maaf, apa ibu melihat ketiga anak ini. "
Reza mempelihatkan poto ketiga anak anaknya. " Mm, saya tidak melihat mereka. "
"Owh, terima kasih. "
Wanita itu mulai naik ke dalam mobil, dimana Reza mengikuti langkah kakinya, menarik wanita itu dan memukul wajahnya.
Brukk.
Wanita itu jatuh ke atas jalanan sepertinya ia pingsan akibat satu pukulan dari Reza. Baru kali ini Reza berani memukul seorang wanita.
"Ahk, dia pingsan lagi."
__ADS_1
Reza membuka pintu mobil, dan. " Kayla, kania. Denis. "
Apa yang ia pikirkan ternyata benar, ketiga anak anaknya hampir dibawa oleh seorang wanita yang sudah ia buat pingsan.
Reza mulai membuka, penutup mulut mereka. Melepaskan tali tambang. Yang mengikat tangan dan kaki mereka.
" Papah. "
Ketiga anak anak keluar dari dalam mobil, mereka bertiga memeluk tubuh Reza dengan begitu erat.
"Papah, kemana saja, kami nunggu papah. "
" Sebaiknya kita pergi dari sini, sebelum wanita jahat ini bangun. "
"Ya sudah ayo. "
Sebelum Reza pergi, ia mengikat tangan dan kaki wanita itu dengan tali tambang. " Ayo pergi. "
Reza berlari pergi dengan ketiga anak anaknya menuju ke mobil.
Mereka masuk, dimana mesin mobil dinyalakan.
"Kalian aman sekarang. "
"Papah, memang hebat. Papah the bes. "
Ketiganya memuji Reza dimana lelaki berbadan kekar itu sadar jika, kebahagiaan anak anak terletak dari pengawasannya sebagai seorang ayah.
Kalau tidak ada sosok seorang ayah, bagaimana kebahagian Denis, kayla dan Kania?
__ADS_1