
"Tari, jangan buka pintu. Aku takut jika warga disini salah paham dengan kita," ucapku menahan tangan gadis bernama Tari itu.
Tatapan sang gadis kepadaku, terlihat menyeramkan, seperti tanda sebuah ancaman. "Apa maksud kamu menatapku seperti itu?"
Pertanyaan aku layangkan pada Tari, berulang kali, namun ia seperti tak terkendali. Mendorong tubuhku, hingga aku terjatuh ke atas lantai. Kepala ini terkena tembok.
"Tari." Berteriak, memanggil nama gadis itu berulang kali.
"Kesini kamu, " Tari malah tersenyum kecil menatap sekilas ke arahku wajahku.
"Tari."
Aku berusaha bangkit menahanya lagi, agar tak membuka pintu rumah.
Namun, ia malah sengaja melakukan hal itu. Membuka pintu dan ahk, benar saja dugaanku.
"Neng, kamu kenapa?"
Tari malah menangis, dengan menutup bajunya yang robek, ia berpura pura menangis di hadapan semua orang.
"Tolong saya. "
Warga yang ada disana masuk ke dalam kontrakan, dimana aku berusaha bangkit untuk melarikan diri, tapi mereka begitu cepat.
__ADS_1
" Heh, kamu apakan Neng Tari. "
Aku mencoba menjelaskan semua yang terjadi pada mereka, tapi para warga di sana malah menyeretku. Membawa ke balai desa, " Saya tidak melakukan apapun pada Tari. "
Tari memperlihatkan dramanya, semakin kesini semakin terlihat sifat aslinya.
"Bohong, dia sudah memperkosa saya. "
"TARI."
Aku membulatkan kedua mataku ke arah mereka, " jangan fitnah saya kamu, Tari. "
Tari malah menangis terisak isak di hadapan para warga, ia memperlihatkan bahwa dirinya menjadi korban.
Para warga yang kesal denganku, kini semakin menarik paksa, " Lepaskan saya."
Tari ditenangkan para ibu ibu disana, sedangkan aku seperti sebuah barang yang tak berguna diseret jauh.
Benar benar sial nasibku saat ini, sampai di jam dua malam, kami duduk termenung di balai desa.
Mereka menggeledah dompetku, mengambil ktp. " Status kamu ternyata sudah menikah?"
Aku hanya diam, tak henti memandangi wajah Tari, kesal dan sebal bercampur aduk menjadi satu.
__ADS_1
Gadis itu begitu nekat, melakukan semua ini. Membuat wajahku benar benar malu, dia tidak tahu apa, resiko yang akan terjadi nantinya jika aku mendapatkan cap seorang pemerkosa.
Tari terlihat santai, kedua matanya memerah. Semua keputusan ada di tangan kepala desa yang baru saja datang.
Tari terlihat begitu antusias menceritakan semua kebohongan yang ia buat buat. Dihadapan kepala desa dan warga yang lainnya.
Aku berusaha membela diri, tapi tak diberi kesempatan sedikitpun untuk berbicara, di mana orang-orang malah menatapku geram.
Saat itulah kepala desa mulai mempertanyakan apa kemauan Tari saat itu, dimana aku merasa cemas dengan pilihan gadis yang sudah berani memfitnahku, karena mereka bisa saja menjebloskan aku ke dalam penjara, atas persetujuan Tari. Dan kemauan Tari.
"Jadi, apa keinginan nak Tari saat ini?"
"Saya ingin dinikahi lelaki itu, karena dia sudah menyentuh kesucian saya. "
Sedikit terkejut. Karena Tari ternyata memilih agar aku menikahinya. " Kamu serius Tari, menikah dengan lelaki bej@#d ini. "
Tari mengganggukkan kepala, semua warga sepakat dengan keputusan gadis itu, tapi denganku.
Aku sama sekali tak setuju, karena masih banyak urusan yang harus aku urus, apalagi besok hari pengadilan perceraian antara aku dan juga Ainun.
"Kalau begitu, besok anda harus menikahi Tari. "
Itulah yang dikatakan kepala desa, dimana aku tak bisa menolak, karena yang tersalahkan saat ini adalah aku sendiri.
__ADS_1
Padahal semua ini akal akalan Tari, ia hanya ingin aku nikahi.