Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 41


__ADS_3

Setengah sadar, dengan kedua mata sipit ini, melihat pintu dibuka begitu keras, ketiga anak anak datang. Berteriak memanggilku.


"Papah."


Mencoba tersenyum, mereka naik pada ranjang tempat tidur, " papah. " Memeluk tubuhku, dimana aku yang kelelahan tak mempedulikan ketiga anak anakku.


"Papah, kami boleh main. "


Denis meminta izin padaku, dimana aku yang tak bisa berpikir lagi karena rasa kantuk menganggukkan kepala.


Sedangkan Tari yang berada disampingku, berteriak, memarahi mereka. " Heh, kalian ini punya kamar sendiri, ngapain kesini. Cepat turun. "


Melirik ke arah Tari, wanita disampingku terlihat prustasi, ia mengacak rambutnya hingga terlihat menggumpal. Wanita itu kini bangkit dari tempat tidur, membuka selimut, lalu duduk.


Aku yang berusaha sadar dari rasa kantukku, mulia berucap, " Tari, namanya juga anak anak." Menguap beberapa kali, Tari tampak berkacak pinggang didepanku. " Anak anak, anda gila pak. Tengah malah begini waktunya tidur bukan bermain. "


Tari memperlihatkan wajah ketidak sukaanya pada ketiga anak anak didepanku.


"Kamu tinggal tidur saja, nggak usah perduliin mereka, nanti juga kalau mereka cape pergi dari kamar ini. "


Mencoba menasehati Tari, agar memberi pengertian pada anak anak. Namun wanita berambut pendek itu malah mengelak perkataanku.


"Tapi pak, saya tidak suka berisik. "


"Kalau tidak suka berisik pindah ke tempat Tv, aman kan. " Mengusirnya secara terang terangan, Tari memperlihatkan wajah juteknya.


"Ogah, anda saja. "


"Ya sudah kalau kamu nggak mau, nikmatin saja teriakan anak anak, kalau nggak suka tutup kuping kamu, agar teriak mereka tak terdengar. "


Tari sepertinya mengikuti apa yang aku katakan, dimana ia mencari hendset pada laci, mulai menutup telinganya dan tertidur kembali.


Namun. " Ahkk. "


Tari kembali berteriak, " ada apa lagi. "


" Lompat, lompat. " Ucap Denis dan Kalya begitu juga Kania.


"Kakiku, pak. Mereka mengijak kakiku, sakit rasanya. "


" Heheh, ayo lompat. " Denis mengajak aku dan Tari untuk bermain, dimana mereka melompat lompat di atas kasur.


"Ahkk. Sakit. " Teriakan Tari memegang pipinya.


Wanita disampingku sepertinya, terkena pukulan dari mainan yang dibawa Denis ke kamar.


Aku kira mereka akan tertidur dan kelelahan tapi nyatanya, malah semakin berisik. Karena sudah biasa. Aku hanya tersenyum, kembali lagi untuk meneruskan tidurku yang tertunda.


Tari tampak menggerutu kesal dengan mengumpat perkataan kasar pada ketiga anak anakku. " Dasar, anak set*n. "


Mendengar hal itu membuat aku bangun dan bertanya, " kamu ngomong apa tadi?"


Tari mengerutkan bibirnya, bangkit dari ranjang tempat tidur, menatap tajam ke arahku, dengan tatapan tajamnya.


" Tari. "


Menarik tangan wanita berambut pendek itu, dimana anak anak masih melompat lompat di atas kasur kami.


Aku berusaha menghentikan aksi anak anak yang terus melompat, " anak anak, sudah dulu ya. Mainnya, sekarang tidur. "


Anak anak menggelengkan kepala, membantah perkataanku, mereka tak menurut. Sedangkan aku masih memegang tangan Tari. Bertanya lagi padanya, "Tari, tadi kamu ngomong apa?"

__ADS_1


Menghempaskan tanganku, Tari pergi, rambutnya begitu terlihat berantakan. "Kamu mau kemana?"


"Ke neraka. "


Perkataanya terdengar tak karuan, " Tari. " Memanggil wanita itu, tapi Tari begitu cuek sekali, membuat aku kesal dan mengikuti langkah kakinya.


"Tari, tunggu. "


Ketiga anak anakku, menarik tangan membawa aku tidur di atas ranjang tempat tidur. " Papah kita tidur yuk, kami mau tidur sama papah. "


Hatiku luluh merebahkan tubuh, dan kembali tertidur bersama anak anak.


Melihat pintu terbuka begitu saja, Tari sepertinya marah besar kepadaku.


" Papah, bobo ya. "


Kata kata lembut Denis, membuat aku menganggukkan kepala, mencium jidat mereka satu persatu.


"Kalian juga tidur ya. "


Pelukan ketiga anak anakku, terasa begitu hangat, sampai aku dengan mudahnya tertidur lelap.


*******


Ahkkk ....


Teriakan kembali terdengar, aku mulai bangun dari tempat tidurku lagi, melihat anak anak sudah tidak ada disampingku saat ini.


"Kemana mereka?"


Bergegas bangun, kedua mata mulai menatap jarum jam pada ponsel, sudah menunjukkan pukul tiga pagi, aku mulai berjalan gontai, merasakan tubuh terasa lelah. " Denis, kayla, kania. "


" kemana mereka?"


Takut terjadi apa apa dengan ketiga anak anak.


"Kayla, Kania. "


Memanggil kembali


"Ahkkk."


Tubuh yang terasa lemas, seketika kembali segar begitu pun dengan badan yang tadinya membungkuk kembali tegap, setelah mendengar teriak dari ruang tamu.


Berlari dan melihat ke arah ruang tamu, ketiga anak anakku tengah menarik rambut Tari, " Ahkk, pak. Tolong. "


"Ini punyaku."


"Ini punyaku. "


Entah apa yang mereka perebutkan, membuat aku bingung. " Pak, anda jangan diam saja. Tolong hentikan perbuatan anak anak anda ini. "


Aku bingung menghentikan mereka, karena mereka begitu berisik dan juga kuat, jika aku tarik tangan mereka. Tari malah kesakitan.


"Punya ku, "


Wajah Tari begitu berantakan, terlihat pipinya bekas di coret coret oleh kerayon. " Kak, ini punyaku. "


"Bukan, ini punyaku. "


Tari kembali berteriak, " ahkk. Sakit. "

__ADS_1


"Pak Reza, anda budek apa tuli, cepat lepaskan anak anak anda yang tak bermoral ini, kepala saya sakit. "


"Tari, kamu sabar sedikit ya. "


Aku berusaha membujuk ketiga anak anakku, agar melepaskan tangan mereka yang terus menarik paksa rambut Tari.


"Kayla, Kania, Denis. Ayo nak, jangan begini, kasihan Tante Tari, kesakitan."


"Ahkk, sakit sekali. Pak Reza. Singkirkan lah anak anak durjana anda, saya tidak tahan. "


Ketiga anak anak tidak mendengarkan perkataanku, mereka begitu senang menarik narik tangan Tari, dan rambut Tari.


"Kayla, kania. Ayo lepaskan nak. "


Mereka malah menggelengkan kepala mereka, tidak mau menghentikan permainan, sampai-sampai menampar Tari.


"Denis, kenapa kamu tampar bibir Tante Tari?"


Denis mulai menjawab pertanyaanku," habisnya Tante Tari itu berisik, kan dia sendiri yang mau ikut bermain dengan kita bertiga. "


"Bohong, mereka bertiga yang mengejai saya pak."


Tari kembali mengelak perkataan Denis, " kami tidak berbohong kok Pah, Tante Tari yang mempunyai ide bermain seperti ini?"


" Anda jangan dengarkan perkataan anak-anak nakal anda ini pak. "


Denis mulai menunjukkan ponselku, membuka sebuah rekaman.


"Coba papah dengar rekaman ini. "


Aku tak mengerti, dari mana anak sekecil Denis bisa tahu cara menggunakan ponsel, dia memutar rekaman yang terdengar dari rekaman itu adalah suara Tari.


"Anak, anak kita main yuk, tarik tarik rambut, siapa yang kalah. Akan ditarik rambutnya, begitupun wajahnya. "


"Papah dengar sendirikan. "


"Tari, kamu yang bilang anak anak berbohong, tapi rekaman ini apa?"


Tari terlihat gelisah dengan perkataanku, ia seperti ingin mengerjai anak anak, tapi dirinya yang malah kena imbasnya.


" Tari, kamu jawab pertanyaanku jangan malah diam seperti orang bego. "


" Itu, tadi. Saya. Hanya."


Denis kembali menarik rambut Tari. " Ahk. "


"Pak Reza. " Tari kini menangis, merengek. Meminta tolong padaku, " Pak Reza, tolong saya dong. "


Menghela napas, " bukannya ini permainan yang kamu buat sendiri, jadi ngapain minta tolong padaku. "


"Pak, saya nggak tahan, mereka begitu pintar, saya mengaku salah. "


Aku tak bisa berbuat apa apa, karena anak anak tak bisa dicegah begitu saja.


" Kamu yang memulai, kamu juga yang mengakhiri Tari, siapa suruh kamu membuat permainan konyol, kamu tanggung sendiri akibatnya. "


"Ya ampun pak, masa ia bapak tega. Tidak menolong saya, pak. Saya istri bapak loh. "


Aku menguap di depan Tari istriku, mencoba tak mempedulikan rengekannya, " maaf ya, aku benar benar ngantuk, tak bisa menolong kamu. By. "


"Pak Reza, Pak Reza. "

__ADS_1


__ADS_2