Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 28


__ADS_3

Gedoran pintu terdengar begitu keras, aku yang baru saja merasakan kekesalan pada  Tari, berusaha menghela napas. Melihat jendela atas kamar mandi terbuka. 


Sepertinya aku harus lewat jalan jendela. Menaiki sebuah kloset, perlahan memanjat pada tembok. " Sebentar lagi aku pasti bebas dari balai desa ini. "


Gedoran pintu semakin keras, jendela yang aku lewati cukup lumayan sempit. Aku masih beruntung karena tubuh kecilku  bisa melewati jendela di kamar mandi. 


Menghentakkan kaki ke atas tanah, aku turun dan berlari bebas dari balai desa. 


"Akhirnya, aku bebas. "


Aku bingung dengan tujuanku saat ini, pergi kemana? Berjalan sampai aku melihat sebuah mobil bak sedang mengangkut barang, " Apa aku masuk ke mobil itu saja ya. "


Menyelinap, berharap jika orang itu tak mencurigaiku yang ikut ke dalam mobilnya. 


Sampai beberapa menit kemudian,  aku terlelap tidur. 


Tring ….


Ponsel terus berbunyi beberapa kali, membuat aku memaksakan diri untuk bangun dari tidurku. Membuka kedua mata, ternyata sudah pagi lagi, menatap  jam pada ponsel,  pukul 07.00 pagi. 


" Heh, bangun. Siapa kamu. "


Aku turun dari mobil bak, disaat sang supir mengusirku pergi. 


Melihat ke arah jalanan, ternyata aku turun di tempat kediaman Ainun. Pas di mana  rumah Ainun tak jauh dari tempatku berada, " sepertinya aku harus menemui istriku,  beralasan jika aku merindukan ketiga anak anakku. 


Berjalan, dimana ponselku terus berbunyi. Menatap pada layar ponsel. Ternyata Tari mengirim pesan padaku. Ponsel kembali berbunyi berulang kali, membuat aku mengabaikan panggilan telepon dari gadis gila itu. 


Menghela napas, mencoba mengetuk pintu. 


Ceklek. Pintu sudah terbuka begitu saja, aku melihat sosok Ainun berdiri dengan menggendong Kayla. 


"Mas Reza. "


Menundukkan wajah, memberanikan diri menjawab ucapan Ainun. " Selamat pagi, Ainun. "


"Papah."


Kayla tampak senang dengan kedatanganku, ia terus memanggilku berulang kali dengan sebutan khasnya. " Papae."


"Kayla."

__ADS_1


Ainun terlihat menjauhkan aku dengan Kayla, " Mas, kenapa kamu datang kesini? Bukannya kita akan bertemu di pengadilan?"


Kayla terus menatap ke arahku, menangis, ingin segera digendong papanya ini. 


"Mas, aku tanya sama kamu?"


Menundukkan wajah kembali, mana mungkin aku mengatakan semuanya, yang ada Ainun tidak akan percaya. 


"Mas."


"Ahk, iya. "


"Sebaiknya kamu pulang, aku nggak mau lagi berurusan denganmu, biar nanti pengadilan yang menentukan. "


Ainun malah menutup pintunya, dimana aku berusaha menjelaskan apa maksud kedatanganku yang sebenarnya. 


Suara tangisan terdengar begitu kencang, membuat, hatiku tersentak ingin menggedong Kayla. 


" Papah, papah. Ini Denis. "


Aku mendengar suara anak pertamaku, dimana ia mengetuk kaca jendela tersenyum  padaku. 


Menghampiri anak pertamaku, " Papah, sini."


Wajah Denis begitu polos, ia menyuruhku masuk, memegang kaca. Hatiku benar benar sakit, bodohnya aku menyia nyiakan istri dan anakku. Senyuman dari bibir mungil Denis, membuat aku mengusap pelan air mata. 


Memberikan kode, agar Denis mau membujuk Ainun untuk membiarkan aku  masuk ke dalam rumah. 


"Papah, kenapa di luar, sini masuk. "


"Denis, kamu dengar dulu papah. Denis bilang sama mama suruh papah masuk ke dalam rumah. "


Anak mungil itu menganggukkan kepala, mengerti dengan apa yang aku katakan. Ia berlari, menemui Ainun. 


Dimana aku menunggu kepastian di luar rumah, berharap jika Ainun membuka pintu. 


Ketukan jendela, membuat Denis tersenyum. Anak itu memperlihatkan jempol tangannya. 


Sampai dimana, suara pintu terdengar dibuka. 


"Ainun."

__ADS_1


Ainun terlihat begitu jutek, saat aku memanggil namanya, ia kini membuka lebar lebar pintu rumah. 


Denis berlari tertawa ke arahku, ia memeluk erat papahnya ini, " Papah, Denis kangen. "


Ainun melipatkan kedua tangannya, ia terlihat tak senang melihat aku memeluk Denis. 


Masuk ke dalam rumah, Ainun tak mengajakku sama sekali. " Papah. "


Denis melepaskan pelukannya, ia menarik tanganku untuk masuk ke dalam rumah. " Ayo masuk pak, kita sarapan sama sama. Denis kangen sarapan bareng papah. "


Semakin hari, Denis semakin pintar berbicara, membuat aku kagum dengan pola asuh Ainun. 


" Ayo mas, duduk. "


Ainun masih berucap, walau terdengar ketus. 


"Papah, ye. Ada papah. "


Aku tersenyum melihat kepolosan anak anakku yang terlihat bahagia saat diri ini ada di samping mereka. 


"Papah, ayo makan. Mama masak makanan spesial  buat papah loh. "


"Masa sih. Coba papah cicipi. "


Aku mulai menyuapkan satu sendok nasi goreng ke mulutku. Mengunyahnya perlahan, dimana anak anak bertanya. 


"Gimana pah, rasanya?"


"Mm, ini enak sekali!"


Semua tepuk tangan, apalagi Denis. " Enak kan, apa kata Denis. "


Kayla dan Kania, tertawa. Aku yang merasakan kebahagiaan ini tiba tiba menangis, membuat Denis bertanya dan menyadari kesedihanku ini. 


"Papah, kenapa menangis?"


Pertanyaan Denis, membuat Ainun menatap ke arahku, dengan tatapannya yang kurang terlihat bersahabat.


Sampai dimana suara ketukan pintu terdengar keras, membuat perasaanku tak karuan.


Apa itu Tari? 

__ADS_1


__ADS_2