Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 37


__ADS_3

Anakku tampak merengut, " Denis. "


"Iya, pah."


Berjalan ke kamar untuk segera mengganti baju, ceklek.


Tari. Duduk di ujung kasur, ia tampak merapikan rambut yang terlihat basah, " pasti anda mau masak?"


Aku tak memperdulikan wanita menyebalkan itu, terburu buru mengganti baju. Pergi tanpa berucap satu patah kata pun. 


Masuk ke ruangan dapur, aku sempat bingung untuk membuat sebuah makanan, entah makanan apa. Mencoba mencari bahan makanan di dapur, dan. Sialan tak ada apa apa?


Kesal, aku berjalan cepat menghampiri wanita yang sedang bersantai di dalam kamar. 


Brak. 


"Tari, kenapa di dapur tidak ada apa apa?"


Tari berdiri, menghampiriku. " Lah, kenapa tanya saya, bapak nggak ngasih uang ke saya!"


Aku mengepalkan erat kedua tanganku, " Kamu kan kerja, belilah untuk kebutuhan dapur. "


"Dih, enak sekali. Bapak juga kerja, yang wajib beli bahan dapur ya bapak, salah sendiri nggak ngasih uang ke istri. "


Aku mengacak rambut dengan kasar, Tari begitu pelit sekali mengeluarkan uang, " Ya sudah aku pinjam uangmu."


Tari tertawa di hadapanku, " Dih. Pinjam. "


"Kenapa tertawa, uangku habis belum gajian. "


"Nggak ada. "


Ia pergi melewatiku, " Mau kemana kamu?"


"Pergi, beli makan. Emang kenapa!?"


"Beliin sekalian untuk aku dan Denis. "


"Nggak ah, rugi saya ngeluarin duit buat bapak."


Tari pergi begitu saja, sedangkan aku berusaha mengejarnya, " Tari. "


Ia seperti sengaja balas dendam padaku, karena tak diberi jatah uang nafkah tadi pagi. Padahal uang tabunganku habis membayar biaya pernikahan mendadak kemarin, aku tak tahu jika kepala desa itu menagih uang dengan alasan kerugian. 


Entah kerugian apa? Semua gara gara Tari, bisa bisanya ia membuatku menderita seperti ini. 


"Sudahlah pak, saya tidak akan kasihan pada anda, toh anda juga kayak begitu sama saya. "


"Tari, aku bisa saja mec …."


"Apa, ayo ngomong saja. Saya sudah cape berhadapan dengan anda. " Ia mendekatkan bibirnya pada telingaku. 


"Anda lupa ya pak, dulu waktu kita saling mengenal satu sama lain, bapak ngasih apa ke aku. "

__ADS_1


"Maksud kamu. "


"Pikirkan saja sendiri. "


Tari pergi dari hadapanku, dimana. " papah. "


Aku berusaha menenangkan suasana, " Denis." 


Mendekat ke arah Denis, memegang bahunya dengan berkata, " Denis. Ada apa nak. "


Denis mengusap pelan perutnya, membuat aku berucap, " Kita keluar ya.  Cari makanan."


" Iya, pah. "


Aku mulai menyusul Tari, menuntun tangan anakku, berharap ia tidak pergi jauh untuk membeli makanan. 


Melihat keluar rumah, motor yang biasa dipakai ternyata dibawa oleh Tari. 


"Tari, bisa bisanya ia membawa motorku. "


Menghela napas, melihat ke arah Denis. Anakku terlihat tak kuat menahan rasa laparnya. 


Berjalan, sampai menginjak tanah. Mobil angkot berhenti begitu saja, aku melihat seorang wanita turun dari angkot berwarna merah itu. Melihat wanita itu, ternyata ia adalah  


Ainun. 


"Mama."


Aku melihat Ainun membawa sebuah tempat makan begitu besar dengan menggendong kayla dan Kania.  "Mas Reza, loh kalian mau kemana?"


Ainun tersenyum, menatap ke arah Denis, " Kamu pasti lapar ya sayang. "


Denis menatap ke arahku sekilas, ia takut jika Ainun marah, " Maafkan aku, Ainun. "


Ainun mengerutkan dahi, menurunkan kayla dan kania," Minta maaf untuk apa, oh ya. Kebetulan mama bawa makanan kesukaan Denis,  kita makan yuk. "


Kayla dan Kania tertawa senang, ia memeluk kedua kakiku. " Ayo masuk. "


Aku dengan bangganya menggendong mereka berdua. Masuk beriringan dengan Ainun dan juga Denis. 


"Denis, ayo makan. "


Aku malu saat Ainun tak menawariku makanan, tapi kedua tangannya tiba tiba menyiapkan makanan, mengambilkan beberapa potong tempe dan tahu. " Mas ini. "


Aku terdiam, salah menduga. Jika Ainun perhatian padaku, " Ayo makan, aku sengaja kesini, membawakan kalian makanan. Takut kalian tak sempat makan, apalagi disini sedikit jauh dengan warteg. 


"Ahk, iya. "


Aku mulai menyuapkan makanan yang disodorkan Ainun untukku, secara perlahan memasukkan ke mulut. Benar benar terasa nikmat. 


"Gimana?"


Denis begitu semangatnya, menyuapkan nasi dengan cepat, ia terlihat kelaparan sekali. Membuat aku merasa menyesal karena sudah menyia nyiakannya. 

__ADS_1


"Ini enak sekali. "


Aku mulai ikut bicara, memuji masakan Ainun." Iya, ini enak sekali, kamu memang paling jago kalau masak. "


Kedua pipi Ainun tampak memerah, membuat aku tahu jika ia begitu senang dengan pujianku. Mulai berharap pada hati ini, " apa bisa aku memperbaiki hubungan ini?" 


"Mas Reza. "


"Mas Reza. "


Sentuhan tangan Ainun, membuat lamunanku membuyar, aku tersenyum dan bertanya kembali padanya. "Iya kenapa?"


"Kamu kenapa malah melamun!?"


" Sepertinya papah ingin mama tinggal disini lagi. " Perkataan Denis begitu mewakili sekali hatiku, walau dalam nada bicaranya kurang jelas. Tapi ia begitu pandai mengartikan isi hati papanya ini. 


Ceklek. Brak. 


Suara pintu dibuka dengan keras, membuat aku kesal. Tari seperti tak punya sopan santun sama sekali, ia bisa bisanya membuka pintu tanpa mengucap kata salam. 


Suara langkah kaki Tari semakin terdengar dekat, " Wah, wah. Ada yang nganterin makanan nih. "


Tari tiba tiba saja duduk, " Makanan enak nih. "


"Tari, apa apaan kamu ini, datang tiba tiba tanpa mengucap salam langsung duduk begitu saja. "


Tari mengabaikan perkataanku, membuat aku mengambil nasi dan lauk pauk yang masih tersisa. " Lah, pak, kok diambil. "


Aku mulai mengambil piring di hadapannya, mencolek nasi dan menaruh lauk pauk. Tari terlihat merasa jika aku akan memberikan makanan ini padanya. 


"Gitu dong jadi suami, perhatian. " Ucap Tari menatap ke arahku, ia seperti orang yang kelaparan menunggu makanan dari sang majikan.


Menatap ke arah Ainun, yang terlihat cemberut," Nih, makan. "


Ainun terkejut dengan apa yang aku lakukan, ia menjawab, " Ini tidak salah. "


Menganggukkan kepala, " Tidak kok, aku tahu kalau kamu dari rumah menyiapkan semua ini, pasti belum makan. "


Aku melihat Ainun tersenyum, walau sedikit. Tapi aku merasa jika ia bahagia dan suka aku perlakukan seperti itu. 


"Tapi Tari, tidak kebagian, mas. " Perkataan Ainun membuat aku menjawab, " Tadi dia sudah makan keluar, jadi kamu jangan kuatirkan dia. "


Brak ….


Tari tiba-tiba saja memukul meja, yang menatap tajam ke arah wajahku, membuat aku hanya melirik sebentar lalu menikmati lagi makanan yang dibuat oleh Ainun.


ketiga anak-anakku tampak terkejut dengan pukulan tangan tari yang memukul meja, mereka menatap ke arah Tari yang masuk ke dalam kamar.


Brukk.


Menutup pintu dengan begitu keras, Ainun mulai bertanya kepadaku, " Kenapa dengan istrinya? "


Aku mengangkat kedua bahuku, " Sudahlah jangan urus dia, lebih baik kita makan saja, nikmati kebersamaan ini," ucapku kepada anak-anak dan juga Ainun.

__ADS_1


Mereka akhirnya memakan kembali makanannya, aku merasa lebih bahagia ketika bersama mereka, hatiku baru tersadar, jika aku adalah lelaki bodoh yang menyia-nyiakan ketiga anak-anakku dan juga istriku.


Ya Allah, tolong kembalikan lagi mereka ke pangkuanku seperti dulu.


__ADS_2