
Ternyata Tari masuk ke dalam kamar, ia segera mengemasi barang barangnya, pantas saja kedua pipinya memerah seperti udang rebus.
"Tari, akhirnya kamu menyerah juga?"
Perkataan Ainun membuat Tari menatap sekilas ke arahnya, sambil mengemasi barang. Tanpa berucap satu patah katapun.
Ainun mendekat kembali, ia memegang dagu Tari. " Wajahmu kayak udang rebus. "
Tari menyingkirkan tangan kanan Ainun, menatap tajam ke arahnya, aku yang takut mereka berkelahi, kini menyingkirkan tubuh Ainun perlahan.
" Saya pergi. "
Aku tak tahu maksud Tari pergi dengan tatapan kesal, membiarkanya. Tiba tiba Denis datang berlari ke arahku, menyenggol tubuh Tari tak sengaja.
"Ahk, kalau jalan pake mata. Dasar anak se***."
Ainun menghampiri Tari, menarik lengan tangannya. Sampai mereka berhadapan satu sama lain.
Plakk ....
Tamparan Ainun layangkan untuk Tari, dimana ia berucap dengan nada kesalnya." Sembarangan kamu mengatakan kalau Denis anak se***."
Tari memegang tangan kanan, ia membulatkan kedua mata. Mungkin kesal dengan Ainun, tanpa aku sadari, Tari sudah mencekik leher Ainun.
"Rasakan ini, pasti sakit kan."
Ainun bukannya kesakitan, ia malah memukul perut Tari, membuat wanita itu jatuh tersungkur ke atas lantai.
"Jangan suka menyepelekan aku Tari, aku tidak suka dengan nada bicaramu yang mengatai anakku. "
Tari bangkit dari atas lantai, dimana Ainun yang melihat pemandangan itu kini menendang kaki Tari. "Ahk."
Mendengar jeritan Tari membuat aku berusaha menolong wanita itu." Ainun hentikan, jangan tendang lagi Tari, kasihan dia. "
"Kasihan, wanita lemah kaya begitu di kasihani. Miris. "
Aku tak tahu apa yang aku katakan benar tidaknya, " Tari, please tolong. Jangan membuat Ainun marah lagi, cepat kamu pergi dari sini. "
Tari malah menyingkirkan tanganku, ia berusaha bangkit sendiri, tanpa bantuan dari tanganku.
__ADS_1
"Saya bisa berdiri sendiri. "
Menghindar darinya, Ainun kini berucap, " sudah mas, biarkan saja dia pergi, nggak ada gunanya kamu menolong dia. "
Aku menuruti perkataan Ainun, menghindar dan mendekat ke arahnya.
"Kalian akan menyesal dengan apa yang kalian lakukan."
Itulah ancaman terakhir yang diberikan Tari kepadaku, saat ia keluar dari rumah ini.
"Bodoh, nggak ketulungan. "
Denis berdiri, menghampiri Ainun. " Hore, akhirnya. Tante itu keluar dari rumah ini "
"Kamu senang, Denis?"
Pertanyaanku membuat Denis menganggukkan kepala, ia tersenyum lebar di hadapanku.
Setelah kepergian Tari, Ainun kini berpamitan kepadaku. " Mas, aku pamit pulang dulu ya. "
"Kamu mau pulang kemana?"
Belum ucapannya terlontar semuanya, aku mendekat ke arahnya, memegang tangan wanita yang masih jadi istriku.
"Kita rujuk lagi demi anak anak, kamu mau kan?"
kedua mata Ainun perlahan menatap ke arah anak- anak. " Gimana. "
Senyuman anak anak membuat Ainun membalasnya, aku yang tak sabar dengan jawaban Ainun, bertanya lagi. " jadi gimana?"
"Baiklah, tapi dengan syarat yang kemarin aku katakan pada kamu, mas."
"Syarat kemarin, aku akan menurutinya. "
Tak sabar, menunggu jawaban dan pada akhirnya, Ainun setuju, ia mau rujuk kembali padaku.
Aku berjingkat jingkat, senang dengan jawaban istriku.
"Terima kasih Ainun, kamu mau memberikan kesempatan untukku. "
__ADS_1
Memeluk erat tubuhnya, Ainun kini melepaskan pelukkanku, " kenapa Ainun?"
"Aku masih beri kamu kesempatan satu kali, tapi kalau kamu mengulanginya lagi, aku tidak akan memberikan kesempatan itu lagi. "
Menghela napas, aku menjawab dengan wajah gembira. " akan aku jaga baik baik kesempatan yang kamu berikan padaku. "
Ainun kini menjongkokan badan, menyuruh kayla dan Kania mendekat, keduanya kini memeluk Ainun.
Sedangkan Denis yang berada disisiku, bersorak hore, memeluk kakiku dengan berkata. " Yeh, Denis senang sekali, kalau mama tinggal di sini. "
Kebahagiaan yang sesungguhnya, memang seperti ini, aku terlalu melihat kekurangan istriku tanpa menyadari kekuranganku sendiri.
Beristigfar beberapa kali, sampai suara ponsel berbunyi. Tari kini meneleponku, padahal baru saja dia pergi dengan sebuah ancaman.
" Siapa, mas?"
"Tari menelepon!"
"Angkat saja mas, aku ingin tahu, mau apa lagi dia."
Menganggukkan kepala, menuruti perkataanya. Aku mulai mengangkat panggilan dari Ainun.
" Halo. "
"Pak, tolong saya. Pak. Tolong. "
Aku terkejut dengan permintaan tolong dari sambungan telepon.
"Ada apa dengan kamu Tari. "
Tuttt ....
Panggilan dimatikan begitu saja, aku terdiam mendengar permintaan tolong dari sambungan telepon.
Ainun mendekat dengan bertanya, " kenapa, mas. "
Lamunanku membuyar, menatap ke arah Ainun. " Tari meminta tolong. "
"Kenapa dengan dia?"
__ADS_1