Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 7


__ADS_3

Kedatangan ibu membuat aku senang, dimana ia banyak sekali membantu di rumah, menyuapi si kembar, membereskan rumah. Memasak untuk makan malam. Hah, walau ada rasa jengkel saat mendengar ucapan ibu yang terus menasehatiku. 


Tok …. Tok ….


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, aku mulai membuka pintu rumah. 


Dimana Ainun pulang dengan raut wajah juteknya, " Siapkan aku makanan, aku lapar. "


Perkataan -nya sama persis  seperti yang selalu aku katakan padanya dari dulu. 


"Kenapa?"


Aku memalingkan wajah, berusaha tidak terpancing  emosi. " Iya. "


Ainun melihat ke sekeliling rumah, mengecek semua pekerjaanku. " Jadi gimana, hem, pekerjaanku bereskan. " Melipatkan kedua tangan, menyombongkan diri di depannya, Ainun mengangkat alis tak berucap satu patah kata pun. 


"Tadi, ibu menelepon padaku?"


Mendengar perkataan Ainun membuat aku menjawab, " Terus apa katanya!"


"Ibu suruh batalkan peran kita. "


Mendengar perkataan itu membuat aku senang dan bersemangat, " Lalu kamu jawab apa pada ibu. "


Ainun tersenyum tipis, ia berjalan ke arah dapur, duduk di atas kursi dengan menjawab, " Aku tidak mau, karena kamu sudah tanda tangan kontrak pertukaran peran selama tiga bulan menjadi Irt dan aku menjadi pekerja. "


"Apa?"


Aku kira Ainun akan mengatakan pada ibu untuk mengakhir tukar peran ini, tapi nyatanya aku salah menduga. 


Ainun menatap ke arahku dengan wajah juteknya, " Kenapa, kamu seperti syok gitu. Mm, atau jangan jangan kamu menyerah. "


"Ah ,..."


Belum berucap satu patah kata pun, Ainun


Kembali berucap, " Kamu tahu sendirikan di atas berkas berwarna biru itu, jika salah satu dari kita ada yang menyerah. Harus bayar denda dua M. "


"Meliar, hah. Dari mana ada perjanjian seperti itu?"

__ADS_1


Ainun malah tertawa melihat raut wajahku yang syok dan tak percaya. Dimana ia mengambil berkas biru, menunjuk tulisan perjanjian yang dibuat olehnya. 


"Kamu lihat ini, mas?"


Aku menatap ke arah wajahnya, dimana ia tersenyum bahagia, disaat aku menderita. 


"Baca dulu makanya mas, sebelum menandatangani perjanjian!"


Aku benar benar seperti orang bodoh yang dibuatnya tak berdaya, dimana ia begitu pintar menyusun rencana.


"Kenapa mas, kamu keberatan dengan perjanjian yang aku buat ini. Mm?"


Aku terdiam, memandangi wajah istriku yang terlihat begitu menyebalkan. Tangannya kini memegang bahuku, dengan berkata, " Jangan sampai kamu menjadi pecundang, mas. Kalau kamu jadi pecundang, kamu akan menanggung malu. Karena. "


Memegang punggung tangan istriku, menariknya sampai wajah kami berhadapan. " Karena apa? Kamu ingat ini, aku tidak akan pernah kalah pada wanita lemah seperti kamu. "


"Baiklah, kalau itu yang kamu mau, kita lanjutkan penggantian peran ini, aku ingin tahu sejauh mana kamu bertahan. Mengganti peran sebagai seorang ibu. Karena peran sebagai seorang ayah tidak akan pernah membuat wanita syok dan terkejut. ".


" Aku tak menyangka jika kamu seangkuh ini. "


"Tidak mas, aku tidak angkuh. Aku masih sepertu dulu, Ainun yang kamu kenal. "


Perkataanku malah membuat Ainun, membulatkan kedua matanya, " itu hanya perasaan kamu saja. Kalau kamu merasa ada yang berubah dari diriku sebagai Ainun, coba kamu koreksi diri kamu sendiri, apa kamu sudah membuat aku bahagia, dan nyaman bersama kamu. "


Deg .... Tiba tiba perkataan Ainun, membuat aku merasa bersalah, dimana ia melangkahkan kaki pergi dari hadapanku saat itu.


"Ainun."


Panggilan ku tak dijawab sama sekali oleh, Ainun. Ia pergi begitu saja, membuat rasa bersalah semakin mengores hatiku.


Biasanya aku selalu tetap santai menghadapi Ainun, tapi mendengar nada bicaranya membuat aku sedikit terkejut.


********


Makanan yang sudah di masak ibu tadi sore, tak tersentuh sedikitpun oleh Ainun. Ia malah pergi begitu saja.


Sampai sepuluh menit kemudian, Ainun keluar dari dalam kamar, tampilan dan gaya bajunya begitu berbeda, cantik dan menarik.


Jika orang yang melihatnya pasti akan tergoda, melewatiku, membuat aku berusaha menahan tangannya. " Mau kemana kamu?"

__ADS_1


Ainun malah menghempaskan tanganku, membuat aku mencekram erat jari tangannya itu.


"Diam di rumah. "


"Mas, kamu tak usah melarangku, sekarang kita sudah berganti peran. Kamu tidak ingat kelakuan kamu di saat menjadi seorang ayah, aku kelelahan seharian di rumah. Kamu malah keluyuran begitu saja, tanpa memetingkan perasaanku sebagai istrimu. "x


Entah kenapa egoku begitu tinggi, sampai aku begitu enggan meminta maaf padanya.


"Aku laki laki, sedangkan kamu wanita. Kalau terjadi apa apa dengan kamu aku yang repot. "


Kedua mata Ainun terlihat berkaca kaca, melepaskan tanganku dengan sekuat tenanga yang ia bisa.


"Mas, kamu ini benar benar egois. "


Ainun mendorong tubuhku, sampai aku tersungkur jatuh ke atas lantai. Entah kenapa aku begitu lemah saat berhadapan dengan Ainun yang sekarang, sifatnya berbeda sekali dengan Ainun yang dulu aku kenal.


"Apa semua karena ulahku sendiri, aku yang terlalu menekan dia setiap kali berbicara. "


Beranjak bangkit, Ainun menaiki mobil dengan beberapa wanita yang tak pernah aku lihat sama sekali, " siapa mereka. "


"Ainun." Mencoba berlari mengejar istriku, namun mobil itu tak dapat aku kejar sama sekali.


Tak ingin Ainun pergi, aku mulai mengambil motor untuk mengejar mobil yang membawa istriku.


Namun, saat diwaktu yang terburu buru, suara anak kembarku terdengar, mereka menangis. Di susul dengan Denis.


"Mama. Mama. "


Selalu kata mama yang mereka layangkan ketika merenget mengiginkan sesuatu. "Nak, kalian tunggu dulu. "


Saat berkata seperti itu, anak anak malah semakin menjadi jadi, mereka malah semakin menjadi jadi menangis dihadapanku.


Membuat aku dengan terpaksa mengurungkan niat, untuk mengejar kepergian Ainun bersama teman-temannya.


Turun dari motor, berjalan ke arah anak-anakku. Tersadar jika aku yang selalu pergi di saat perasaanku kesal, aku tak ingat kepada anak-anakku yang ada di rumah.


Baru kali ini aku meneteskan air mata hingga mengenai kedua pipiku.


Peran sebagai seorang ibu bukanlah hal yang mudah, kemanapun kita pergi selalu di tangisi oleh anak-anak.

__ADS_1


__ADS_2