Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 58


__ADS_3

Suster mulai menangani Tari kembali di mana mereka menyuruh Ainun untuk pergi dari ruangan pasien.


"Maaf sebelumnya, kami mau menangani pasien Ibu Tari terlebih dahulu, mohon menunggu di luar ruangan. "


"Baik, sus. " Kedua mata Ainun menatap ke arah Tari, dimana pintu ruangan perlahan demi perlahan tertutup.


Ainun tak mengerti, dengan tingkah Tari yang tiba-tiba saja berteriak sembari menangis, " kalian jahat. "


Heran ketika Ainun mendengar perkataan Tari yang seakan menyalahkan suster dan juga pihak rumah sakit.


Reza menyusul sang istri, lelaki itu memegang kedua bahu istrinya," kenapa kamu malah ada di sini?"


"Mas! Aku hanya ingin. "


Ainun mulai menceritakan reaksi Tari ketika ditangani oleh suster, " mas. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Tari?"


Pertanyaan Ainun tak mungkin dijawab oleh Reza saat itu. Di mana para suster keluar memanggil Reza untuk menemui Tari.


"Pak Reza, pasien Tari ingin bertemu dengan anda?"


Ainun tampak bingung, " kenapa hanya suamiku saja?"


Pertanyaan Ainun, membuat Reza berusaha menenangkan sang istri, " mungkin ada hal penting yang ingin dibicarakan Tari, hanya padaku saja. "


Terlihat Ainun membantah perkataan suaminya yang terlihat begitu santai, " tidak bisa begitu, mas. Walau hal penting aku harus tahu, dia kan mau kamu ceraikan."


Deg ....


Si situasi seperti itu Ainun tetap pada pendiriannya, walau ia perhatian terhadap Tari, tetap tak ada rasa kasihan untuk masalah rumah tangganya, jika cerai harus tetap cerai, jika memilih harus tetap memilih tak ada kata kasihan yang mengakibatkan pendirian Ainun malah hancur.


"Iya, tapi ...."


Reza terlihat begitu bingung menjawab perkataan Ainun, yang tadinya ia ingin memberi kesempatan untuk Tari berubah dan masih menjadi istri keduanya.


"Tapi, kenapa?"


Nada bicara Reza membuat Ainun sedikit curiga, terlebih lagi Ainun belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Tari, pasca pemerkosaan sadis yang dilakukan oleh Rendy.


Reza menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal, lelaki berbadan kekar itu mulai mengalihkan pembicaraan," kalau begitu ayo kamu ikut ke dalam ruangan."


Pada akhirnya Ainun ikut masuk, mereka berdua melihat keadaan Tari, wanita itu terbaring di atas ranjang tempat tidur, dengan beberapa selang yang menempel pada tubuhnya.


"Tari."


Reza mendekat dengan langkah terburu-burunya, ia berdiri di samping Tari.

__ADS_1


Tari tampak senang melihat kedatangan Reza, tangan kanannya mulai meraih lelaki yang sangat berharga dalam dirinya," Pak Reza. "


Ainun kesal dan tak suka melihat keduanya tampak begitu mesra, apalagi mereka saling menatap satu sama lain.


"Hem."


Berpura-pura batuk, membuat Reza melepaskan tangannya.


"Apa kabar Tari?"


Terkejut melihat kedatangan Ainun, Tari menatap ke arah Reza, padahal Ia sudah menugaskan suster untuk memanggil Reza saja.


"Mbak Ainun, loh kok. "


Ainun melipatkan kedua tangannya, menatap tajam ke arah Tari, berjalan perlahan demi perlahan mendekati wanita yang sudah merebut suaminya," kenapa? Kamu terkejut. "


Reza terlihat ingin menghentikan perkataan Ainun, namun Ia seperti tak kuasa, melihat wajah istrinya yang begitu kesal.


"Ahk, tadi saya. "


Ainun memotong pembicaraan Tari, " hanya menyuruh Reza masuk menemui kamu saja, sedangkan aku kamu biarkan begitu saja."


"Bukan begitu, Mbak Ainun. Sebenarnya ada hal yang penting ingin saya bicarakan dengan Pak Reza. "


Disini Ainun tak memperdulikan rasa sakit yang dirasakan Tari, bagi dirinya Iya ingin adil, dengan perjanjian dari awal.


Ainun tak mau hanya karena rasa kasihan perjanjian itu kini tak berguna lagi.


Langkah kaki Ainul semakin mendekati Tari, " Ainun. "


Reza tiba-tiba saja bersuara, membuat Ainun menatap ke arah suaminya." Kenapa Mas? Ada yang salah dengan perkataanku?"


"Ahk, tidak. "


"Lantas kenapa kamu seperti ingin menyela perkataanku. "


Reza menatap ke arah Tari, ia bingung, dari mana ia harus memulai pembicaraan pada Ainun.


"Kamu kok, ngedadak diam kayak gitu. Kenapa sih mas, ada yang kamu sembunyikan dariku?"


Menghela napas, pada akhirnya Reza mulai mengatakan semuanya. " Asal kamu tahu, Tari kini menderita. "


Mengerutkan dahi, " maksud kamu menderita. "


Tangan Tari, perlahan memegang lengan Reza. Ia seperti memberi pelindungan pada Suami Ainun. " Setelah pemerkosaan dan penganiayaan itu, Tari tak bisa hamil. "

__ADS_1


Ainun semakin bingung, ia tak mengerti.


"Lantas apa hubungannya dengan kamu mas, kalau Tari tidak bisa hamil?"


Tari mempelihatkan jika dirinya ingin dikasihani dan di beri kesempatan untuk bersama Reza. Memanfaatkan rasa sakitnya itu, untuk tidak pisah dengan Reza.


"Kalau saya tidak bisa hamil lagi, tidak akan ada lelaki yang mau pada saya, jadi .... "


Ainun menghentikan perkataan Tari, " hem. Aku tahu, tak usah kamu teruskan. "


Keduanya malah tersenyum senang, ia menyangka jika Ainun akan mengasihani Tari.


"Kamu mau di dua. "


Ainun mengerutkan dahinya, " aku belum selesai berbicara loh mas. Kamu jangan kegirangan kaya begitu. Dan kamu lagi Tari, mencari kesempatan dalam kesempitan, memang kamu ini kagak ada harga dirinya. "


Begitulah Ainun kalau berbicara selalu tegas.


"Ainun."


"Kenapa mas, bukannya kamu sendiri yang bilang akan menceraikan Tari, kenapa sekarang kenapa kamu malah berubah pikiran, hanya karena wanita itu tak bisa mempunyai anak lagi. "


Reza berusaha memberi pengertian pada istrinya," mas kasihan terhadap Tari, takut nanti tidak ada yang mau padanya. "


Ainun masih bisa tertawa lepas, setelah mendengar ucapan dari suaminya. " kamu memang lucu ya mas."


"Mbak Ainun, saya cukup sadar diri. Tak akan berharap lagi pada suami anda. "


"Ya bagus dong. Kamu memang harus seperti itu, sadar diri, jangan main serong suami orang lagi, sudah di kasih maaf masih saja berulah. "


"Ainun, ucapan kamu. " Reza terdengar menimpal, membuat Ainun malah kesal.


"Apa mas, kamu mau membela wanita tidak tahu diri ini lagi, kalau mau bela silahkan, aku akan terima. Karena tak ingin bersaing dengan wanita yang mengandalkan rasa kasihan orang lain, aku lebih baik pergi, bukan karena kalah tapi lebih tepatnya menjauhi lelaki egois dan plin plan seperti kamu yang tak punya pendirian. "


Dan pada akhirnya Ainun pergi dari hadapan Tari begitupun Reza.


Namun, Reza berusaha mengejar Ainun. Saat Tari memegang tangan Reza, menyuruh lelaki itu untuk berhenti agar tidak mengejar istri pertamanya.


"Pak. Apa anda tidak kasihan terhadap saya, istri anda Mbak Ainun itu masih sempurna, sedangkan saya. "


Begitu pintarnya Tari berbicara hanya untuk mengelabuhi Reza, " Tolong, temani saya beberapa menit saja. "


Tari memohon-mohon kepada Reza, dimana Reza tampak melihat wajah mengemis Tari.


"Pak, saya mohon, demi kesehatan mental saya, anda tahukan saya ini sedang sakit, dan tak bisa sembuh seperti sedia kala?"

__ADS_1


__ADS_2