Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 15


__ADS_3

Motor diparkirkan di halaman rumah, dimana Denis berlari menghampiri Ainun yang sedang duduk di depan teras bersama ibu. 


"Mama, mam. "


Wanita itu berdiri, berjalan menghampiri Denis. Memeluk anak pertamanya dengan begitu erat. Aku yang melihat pemandangan itu, merasa tak bahagia, Ainun terlihat tidak seperti Tari. 


Penuh kelembutan sedangkan Ainun, banyak emosi dan selalu bersikap  kasar padaku. 


"Reza, dari mana kamu menemukan Denis?" pertanyaan ibu, membuat aku menjawab dengan memperlihatkan senyuman di hadapannya. " ini semua karena Tari, bu. Dia yang sudah menemukan Denis. "


Ainun melepaskan pelukan anaknya, kedua mata begitu penuh dengan air yang mengenang. " Tadi kamu bilang, Denis ditemukan Tari?"


"Iya, memangnya kenapa. kamu mau menyalahkan lagi  Tari!"


Ainun mengerutkan dahinya, " jelas, aku akan menyalahkan Tari, karena awal Denis hilang karena kamu fokus berkirim pesan dengan wanita itu, lantas sekarang Denis ditemukan Tari. Pasti dia sudah menyusun rencana untuk semua ini. "


Plakk ….


Tamparan keras melayang dari tangan Reza untuk Ainun, " Reza, kenapa kamu tampar Ainun?"


Telunjuk tangan menunjuk ke arah Ainun, aku tak segan segan memarahi Ainun di depan ibu dan anakku. 


"Karena dia sudah lancang berkata tidak baik pada Tari, bu. Jelas jelas Tari itu baik. "


"Jadi kamu lebih membela wanita itu daripada. Istrimu sendiri," timpal Ainun padaku. 


"Iya." Urat leher aku perlihatkan di depan istriku, saking emosi dan tak bisa mengendalikan diri. 


"Reza, istigfar nak, kamu sudah melukai hati istrimu demi membela wanita lain," nasehat dari sang ibunda terus terdengar dari telingaku. 


" Ahk, sudahlah bu. Reza cape dengar ibu ngoceh terus. Sebaiknya Reza tidur saja. "

__ADS_1


Aku berjalan pergi meninggalkan mereka berdua, dimana Denis berucap. " Mamah, nenek. Jangan marahin papa, papah nggak salah. Yang salah itu Denis, pergi tanpa izin, untungnya Denis ketemu bidadari cantik yang beliin Denis mainan dan juga makanan. "


Deg ….


Aku tersenyum lebar, dikala Denis memuji Tari. 


"Denis, kamu itu hanya di asut dan dimanfaatkan, jadi jangan percaya wanita itu ya. "


Perkataan Ainun, membuat aku membalikkan badan dan mendekat ke arahnya. " Denis, cepat masuk ke dalam kamar." Perintahku pada Denis, ingin aku memarahi Ainun habis habisan, agar ia sadar jika ucapannya tak pantas diucapkan pada anak berumur dua tahun. 


"Berani kamu mengajarkan hal yang tidak baik? Mengatakan jika Tari itu seolah olah wanita jahat.  Pada Denis. " Aku membulatkan kedua mataku, dihadapan Ainun. Memarahi dia habis habisan. 


Namun tanpa kusadari, ibu memukul mulutku. " Sebelum kamu menasihati istrimu, nasehati diri kamu sendiri. Sudah lebih baik belum, kamu ini gimana sih Reza, lebih membela wanita di luar sana dari pada istri kamu yang susah senang nemani kamu, ngerawat anak kamu. "


"Bukan begitu konsepnya, bu, aku hanya ingin dia itu sadar jika, Tari itu wanita baik. "


Ibu terlihat semakin kesal padaku, membuat ia mengepalkan kedua tangan. " Ainun, sebaiknya kamu beri dia kesadaran. Agar dia merasakan gimana rasanya ada diposisi kamu."


Aku terkejut  dengan perkataan ibu, " Apa maksud perkataan ibu. "


Perkataan ibu semakin berbelit belit, membuat aku kesal dan murka, " ahk, ibu dan Ainun sama saja. "


*******


Keesokan harinya 


Setelah kejadian perdebatan, antara ibu, Ainun dan juga aku. Suasana tampak biasa saja, Ainun tetap duduk bersantai melihat layar ponselnya, sedangkan anak anak masih ateng dengan ibu yang menginap beberapa hari di rumah. " Mas, kamu sudah bangun. Mau sarapan apa?"


Tidak ada kemarahan sedikitpun di perlihatkan istriku, ia seperti biasa menawarkan aku sarapan. 


"Kopi sama roti isi selai kacang saja. "

__ADS_1


" Baiklah. "


Ainun beranjak berdiri, menyimpan ponselnya, dimana ia pergi dari hadapanku. Ibu sekilas melirik ke arahku. 


"Bu, kenapa?"


"Nggak apa apa!" Ibu kembali memalingkan wajahnya ke arah si kembar. 


Sedangkan aku mulai duduk di kursi, sampai dimana. Tring, pesan masuk dari ponsel istriku, membuat rasa penasaran menggebu gebu dalam hati ini. 


Menoleh sebentar, dan betapa terkejutnya aku melihat pesan datang dari seseorang bernama Farhan. (Kamu lagi apa, sudah sarapan belum.) 


Pesan yang datang dari ponsel istriku, membuat aku mengeceknya dan melihat isi pesan percakapan istri dan seorang lelaki bernama Farhan. 


Mereka saling berbalas pesan dan ingin ketemuan di sebuah taman. Aku yang kesal dengan isi pesan itu, membuat mulutku kini berteriak memanggil nama Istriku. 


" Ainun. "


Istriku berjalan cepat dengan membawa roti dan kopi hangat. " Sabar sedikit mas, kenapa sih marah marah terus dari tadi. "


Aku menunjuk isi pesan percakapan antara istriku dan juga laki laki lain, " Ini apa?"


Ainun menaruh sarapanku di atas meja, ia malah tersenyum dan bersikap santai, menjawab pertanyaanku. "Oh itu dari teman mas, emangnya kenapa?"


Aku menggenggam erat ponsel Ainun, dimana ia begitu santainya menjawab dan bertanya padaku. 


"Kamu ini sudah punya suami, tak pantas meladeni sahabatmu seperti ini. "


"Ya ampun mas, namanya juga sahabat, kamu kok gitu.  Bukannya kamu kemarin sama Tari begitu ya. "


Deg ….

__ADS_1


" Apa maksud kamu berkata seperti itu?"


"Ya, sebagai seorang istri, aku mencontoh kepala rumah tanggaku dong!"


__ADS_2