
"Apa jangan jangan itu anak kita, mas, " ucap Ainun, raut wajahnya terlihat begitu panik. Membuat ia berjalan cepat menuju tempat kecelakaan.
"Ainun." Aku berteriak memanggil namanya, namun ia terlalu cepat berlari sampai aku tak bisa mengejarnya sama sekali.
"Ahk, Ainun. "
Mengambil motor, aku mulai datang kerumunan orang orang yang sedang menyaksikan korban kecelakaan. Mencari keberadaan istriku yang tak aku temui batang hidungnya sama sekali.
Jika aku berteriak di kerumunan itu tak mungkin.
Sampai dimana, " Ainun."
Menarik tangannya, ia terlihat menangis dengan pipi yang sudah basah dengan air mata. " Aku cariin kamu dari tadi."
Ainun mengusap pelan kedua pipinya, ia masih memperlihatkan raut wajah gelisah. Aku menatap ke arah korban kecelakaan itu, ternyata dia bukan anakku. Masih ada harapan mencari keberadaannya.
"Ayo kita cari keberadaan Denis. "
Aku menarik tangan istriku berjalan ke arah taman, dimana ia tiba tiba menghempaskan tangan ini dan berkata, " semua gara gara kamu, mas. "
"Kenapa kamu nyalahin aku. "
"Jelas karena Denis ikut denganmu. "
Aku menunjuk wajah istriku dengan penuh emosi," kamu sendiri yang menyuruh aku membawa Denis. "
Perdebatan terus berlanjut. Ainun menundukkan pandangan, membuat ia berkata, " kalau begitu, kenapa kamu bisa menjaga lengah anakmu, kamu sedang apa?"
Deg ….
__ADS_1
Itulah yang membuat aku bingung menjawabnya. " Kenapa diam saja? Ayo jawab mas? Sini ponselmu. " Tiba tiba saja, Ainun mengambil ponselku, ia melihat isi pesanku dengan Tari.
"Kembalikan."
Aku mencoba merebutnya, namun ponsel itu begitu susah aku dapatkan. " Jadi, karena ini. "
Menundukkan wajah saat Ainun memperlihatkan isi pesan percakapanku dengan Tari. " Aku hanya meluruskan masalah."
Ainun mengembalikkan ponselku, ia berkata, " Ckk, menyelesaikan masalah dengan membiarkan anak kita hilang, pikir mas."
"Aku."
Ainun, terlihat kesal, ia pergi meninggalkanku.
" Kamu kemana?"
"Denis, kamu kemana?"
Duduk di atas tanah, tiba dimana. " Pak Reza. "
Suara yang tak asing aku dengar, membuat mata ini melirik ke arahnya, " Tari. "
" Papah. "
Aku melirik ke samping kiri Tari, dimana anakku berjalan mendekat. Memelukku. " Papah. "
"Denis, papah kira kamu pergi kemana? Tari dimana kamu menemukan anakku, bukannya kita sedang mengirim pesan saat itu?"
"Kebetulan saat kamu mengerim pesan denganku pak, aku ada di sekitar taman ini!"
__ADS_1
Kenapa bisa pas dan kebetulan sekali, tanpa berpikir panjang, aku mendekat ke arah Tari dan berucap. " Terima kasih. "
"Sama sama. "
"Gimana kalau aku antar kamu pulang. "
Tari terlihat malu malu dengan tawaranku, membuat aku mengajaknya kembali, " jadi gimana, mau aku antar pulang. "
Perkataan yang penuh dengan rasa ragu, membuat Tari menjawab. " Boleh mas. "
Deris tersenyum ia berkata, " Tante ini baik pah, tadi beliin Denis makanan, belum lagi eskrim. "
"Benarkah?"
Aku menatap ke arah Tari, gadis manis berbola mata bulat itu, mempelihatkan kasih sayangnya terhadapan anak pertamaku.
"Denis, kamu tak usah berlebihan memuji Tante berlebihan. Tante senang aja kalau Denis suka bermain sama tante. "
Aku tak menyangka, jika Denis sedekat itu dengan Tari, membuat hati dan pikiranku tenang.
"Ayo kita pulang. "
Tari menganggukkan kepala, dimana ia mulai naik pada motorku. " Motornya butut, nggak papa?"
"Nggak papa, mas. Yang penting masih nyala dan bisa mengantarkan Tari pulang. "
Deg ....
Apa ini yang dinamakan pucuk dicinta ulampun tiba.
__ADS_1