
Tari terbangun, ia mengusap kedua mata. Melihat di sekeliling ruangan tampak beda. " Dimana aku?"
Wanita berambut panjang itu, berusaha menggerakan tubuhnya, sampai. " Ahkk. "
Masih terasa sakit, sampai ia memegang pinggangnya. " Kenapa sakit sekali. "
Menghela napas, Tari berusaha tidak mempedulikan rasa sakitnya itu, ia kini berteriak memanggil para suster.
Tak ada yang datang menghampirinya saat itu juga, Tari menggepalkan kedua tangan, ia memukul ranjang tempat tidur yang terasa kurang nyaman.
"Dimana aku ini. Bangkit pun susah. "
Terasa kepala berdenyut, Tari memijat mijat jidat dengan berkata, " kepalaku. "
Mengigat jika ia dipaksa di suntik bius, sampai pingsan dan bangun, tahu tahu sudah ada di ruangan yang kurang nyaman.
Ceklek.
Pintu ruangan kini terbuka, Tari melihat siapa orang yang datang ke ruangannya saat itu. Mencoba melirik.
Wajah yang tak asing membuat Tari, ingin memukul wanita yang datang ke rumahnya. " Sialan, suster itu. "
Mencoba tetap tenang, Tari kini menghela napas, menahan kembali rasa kesal dalam hatinya.
Suster itu melangkahkan kakinya mendekat dengan berkata, " wah, anda sudah siuman sekarang ya?"
__ADS_1
Tari langsung memalingkan wajah, ia malas sekali menjawab pertanyaan wanita yang ada dihadapannya.
"Kenapa diam, terus. Jawab dong, anda masih marah pada saya. "
Jari tangan kanan sudah Tari kepalkan, bersiap ingin meninju wanita dihadapannya, " kamu ini. "
Dan, Suster itu, malah hebat. Bisa menahan tangan yang hampir saja dilayangkan Tari pada wajahnya.
"Tidak kena. "
"Cih."
Membuang wajah, ingin rasanya Tari meludahi sang suster yang sudah. Membuat dirinya geram, "Masih marah? Kan saya sudah peringatkan anda dari dulu, jangan main main dengan saya. Karena saya bisa lakukan apa saja."
Sang suster perlahan menggenggam erat tangan Tari, mencekramnya dengan berkata, " tangan kamu yang sok jadi pemberani ini, bisa saya patahkan. "
Melepaskan tangan Tari, sang suster kini berpamitan pergi. " by. Sampai ketemu besok. "
Menghela napas, bisa bisanya, wanita yang ada dihadapan Tari begitu santai, setelah menjebloskan Tari ke dalam rumah sakit jiwa.
Berjalan perlahan demi perlahan, sampai lambaian tangan sang suster melambai lambai pada Tari.
Wanita yang dimasukkan ke rumah sakit jiwa itu, kini mengacak rambutnya, meresa frustasi dengan apa yang dilakukan sang suster.
"Aku ini nggak gila, sialan suster itu. "
__ADS_1
Tari hanya bisa pasrah merenungi nasibnya saat ini, ia tak bisa apa apa. Hanya menangis di ruangan sempit.
"SUSTER GILA, CEPAT LEPASKAN AKU DARI SINI, CEPAT. "
Berteriak, sekeras mungkin. Tari berusaha menggerakan tubuhnya yang terasa sangat kaku.
Perlahan demi perlahan, sampai.
Brukk ....
Tari terjatuh, ia meringis kesakitan, " kenapa bisa aku merasakan hal ini. "
Wanita yang sudah duduk di atas lantai, perlahan memegang besi ranjang tempat tidur. Dengan sekuat tenaga, Tari berusaha bangkit untuk berdiri.
Ia tak ingin hidup di rumah sakit jiwa.
"Aku harus pergi dari sini, menemui Reza. "
Akhirnya Tari bisa bangkit, ia berjalan pelahan demi perlahan, bawah tubuhnya masih terasa kaku, belum seimbang.
Setelah perjuangan yang cukup melelahkan, akhirnya Tari bisa berjalan, ia kini bisa memegang pintu keluar. " Akhirnya. "
Menatap ke sana kemari, Tari takut jika ada suster rese yang memegrokinya bisa kabur dari rumah sakit.
Sampai dimana. Ada tangan yang meraih pundak Tari.
__ADS_1
Siapa itu?