Bertukar Peran Dengan Istriku

Bertukar Peran Dengan Istriku
Bab 18


__ADS_3

Ainun datang kembali ke ruangan ibu, dimana aku memalingkan wajah dengan berkata. " Aku berharap kamu tidak menghasut ibuku. "


"Maaf, aku bukan pengemis cinta yang ada di pikiranmu itu. Bagaimanapun aku punya harga diri. "


Ucapan Ainun, akan selalu aku ingat sampai kapanpun. " Semoga kamu mendapatkan laki laki yang sabar menghadapi sifatmu itu. "


Ainun malah tersenyum kecil dan menjawab, " Kenapa tidak, pasti akan ada. "


"Hah."


Ibu mencoba memegang Ainun, menangis dengan berkata, " Ainun, maafkan ibu. Maafkan ibu yang tak bisa menahanmu untuk bersatu dengan Reza."


"Ibu kenapa harus meminta maaf pada wanita gila ini. " Timpalku yang tak suka dengan penyampaian ibu  kepada Ainun. 


"Reza, justru ibu meminta maaf begini. karena ibu tidak becus mendidik kamu, " balas ibu padaku. 


"Bu." Aku mengusap kasar wajahku. 


" Ibu tidak usah menyalahkan diri ibu atas perpisahan Ainun dengan Mas Reza, ini semua sudah takdir. Sebagai manusia biasa Ainun hanya bisa menerima jika semua terbaik untuk Mas Reza. "


Ibu terlihat tak terima dengan perpisahan dan Ainun, wanita tua itu malah menangis terisak isak dan memeluk tubuh Ainun. 

__ADS_1


"Ahk, terlalu banyak drama. "


" Kalau begitu, Ainun izin pulang dulu ya bu. Besok Ainun bakal kesini lagi. "


Mendengar perkataan Ainun, membuat aku menjawab, " Tak usah, ibu biar aku saja yang jaga, kamu fokus saja pada diri kamu. "


" Reza, kenapa kamu ngomongnya kaya gitu, nak. "


"Bu, Reza itu bicara apa adanya. Jadi jangan terlalu termakan akan wajah sok baik dialah bu. "


Ainun berusaha menghentikan perdebatan aku dan ibu, " Sudah, kalian jangan berdebat lagi. Biar Ainun menurut saja pada Mas Reza. Dan lagi Ainun juga tidak ada hak soal rumah itu. "


" Baguslah kalau kamu sadar diri, kamu tunggu saja surat cerai dariku nanti. "


Ainun melangkahkan kakinya begitu cepat meninggalkan ruangan ibu, dimana wanita tua yang menjadi ibuku ini  tetap menangis memandangi kepergian Ainun. 


"Sudahlah bu, ngapain ibu menangisi kepergian Ainun, dia itu bukan siapa siapa kita lagi. "


"Reza, ibu nggak nyangka, kamu setega ini pada Ainun, dia istri yang baik Reza. "


Berulang kali, ibu mengatakan hal itu padaku. Membuat aku muak dan kesal. " bu, sudah cukup, jangan katakan itu lagi, semua sudah menjadi keinginan Reza jangan bahas lagi. "

__ADS_1


Ibu menggelengkan kepala di depanku, mungkin ia tak menyangka jika aku sekejam ini.


" Pak Reza. "


Suara itu, membuat aku dan ibu melirik ke arah belakang," Tari, kamu datang kesini. "


Gadis itu masih memakai kursi roda, membuatku tersenyum senang dengan kedatangan nya. " Aku hanya ingin melihat keadaan ibu. "


Aku menatap ke arah ibu, " Bu, ada Tari. Ibu lihat dia bawa apa untuk ibu. "


Tari tersenyum, " Bu, tadi orang tua Tari bawa coklat, jadi Tari ingat sama ibu. Nih. "


Saat coklat itu Tari sodorkan pada ibu, prakk. 


Coklat berhamburan kemana mana, dimana ibu menghempaskan coklat dari tangan Tari. 


"Ibu ini kenapa?" Tak sadar aku membentak ibu, membuat wanita tua itu memalingkan wajahnya. 


Sedangkan Tari tampak menangis dengan perlakuan ibu yang menolak pemberian darinya.


"Ibu tidak suka dengan wanita ini, ibu benci dia. Karena dia kamu jadi berpisah dengan Ainun. Dia wanita tidak tahu diri, perusak rumah tangga orang. "

__ADS_1


"Bu, cukup jangan salahkan Tari, dia tidak tahu apa apa tentang perceraian Reza dengan Ainun. "


__ADS_2