Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 10 : Pertempuran Di Kota Bawah Tanah Bagian Dua


__ADS_3

Aku tidak tahu siapa gadis ini namun tubuhnya cukup berat juga, dia sedang tak sadarkan diri karena itulah meski aku mengeluh apapun ia jelas tak akan mendengarnya.


Aku mengambil rute yang sedikit aman tanpa pertempuran, meski demikian tetap saja ada beberapa orang yang berhasil menemukanku, sekitar lima orang pria bertudung hitam telah menungguku.


Aku membiarkan wanita ini untuk duduk bersandar di dinding toko sementara aku telah menarik dua belati ke tanganku.


Mereka berlima segera meledekku yang telah menunjukkan sikap bertarung.


"Dia hanya gadis kucing."


"Haha, bukannya mereka hanya pandai melayani pria di distrik lampu merah."


Aku membalas dengan senyuman kucing.


"Mungkin itu benar nyan, tapi aku ini kucing berbeda. Aku kucing garong."


"Apa maksudnya?"


"Entahlah, pokoknya kita diperintahkan untuk menghabisi siapapun yang terlihat."


Mereka segera melompat untuk menyergapku.


"Jangan dendam pada kami yah."

__ADS_1


"Heh."


Satu orang yang berada di jarak seranganku, aku tendang hingga meluncur ke samping, sementara yang lainnya aku hindari kemudian memberikan beberapa teknik tebasan ganda.


"..Apa?"


Aku menyelinap di antara salah satunya, menggunakan kakiku untuk menendang kakinya kemudian aku menebas lehernya, meski tidak terpenggal itu cukup membuatnya menyemburkan darah ke udara kemudian roboh tanpa daya.


Penjahat yang tersisa mulai marah dan tidak perlu kukatakan lagi mereka segera menyerangku secara membabi-buta. Dua orang dari mereka menembakan bola api yang kulewati dengan pergerakan cepat, sementara dua lagi menyerangku dengan pedang.


Aku ingin saja bermain dengan mereka sayangnya sekarang ada orang yang terluka dan kemungkinan besar dia akan mati jika aku bermain-main lebih lama lagi, dengan gerakan kilat aku melemparkan dua pedang mereka jatuh lalu menebas leher mereka seperti sebelumnya, kemudian meluncur ke dua orang lagi yang sejak tadi menyerangku dengan sihir api.


"Mustahil, kenapa ras kucing bisa sekuat ini?"


Sebelum mereka bisa melarikan diri aku sudah membuat mereka kehilangan nyawanya.


Dengan cara menggendongnya aku menemukan Latifa dan Mery yang sedang melindungi Purin di belakangnya. Di sekitarnya masih ada pertarungan antara para penjaga serta musuh.


Mery mendorong beberapa dengan perisainya dan di saat yang sama pedang cahaya dari sihir suci menghabisi mereka.


Ketika mereka selesai aku mendekat.


"Kerja bagus nyan."

__ADS_1


Semua orang mengalihkan pandangan ke arahku khususnya kepada wanita yang berada di punggungku.


"Siapa dia Nisa?" tanya Latifa.


"Entahlah, tapi Ardhi bilang aku harus membawanya dan meminta kamu untuk mengobatinya."


"Mungkinkah dia selingkuhannya,," balasnya dengan ekpresi suram.


"Kurasa tidak begitu juga nyan."


Aku menjatuhkan wanita itu dan Latifa segera menggunakan sihir penyembuhnya sampai keadaannya membaik walaupun dia masih belum membuka matanya.


"Mery gendong wanita ini, dan kita akan segera pergi ke luar," kata Latifa.


Jika tidak Ardhi dia secara otomatis yang menggantikannya sebagai pemimpin kami, jujur tidak ada yang baik darinya, entah aku maupun Mery tidak cocok sebagai pemimpin.


"Aku mengerti."


"Lalu bagaimana dengan Ardhi?" tanya Purin.


"Ia pasti akan baik-baik saja, semakin banyak bangunan yang terbakar maka semakin tidak aman di sini, lagipula prioritas kita melindungimu agar selamat."


Yang dikatakan Latifa memanglah benar, kini kami berada di bawah tanah maka jika asap sampai memenuhi tempat ini maka semua orang tak akan selamat.

__ADS_1


Bisa saja kami memadamkan apinya sayangnya dengan kebakaran skala besar seperti ini, hampir mustahil melakukannya.


Kami mulai bergerak untuk menerobos kawanan orang-orang yang masih bertarung.


__ADS_2