Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 59 : Kabold Dari Lantai 4


__ADS_3

Ardhi maupun Nisa telah menyadari bahwa keduanya telah dikepung pasukan tengkorak dari segala arah.


"Mereka terlalu banyak nyan, apa ini nyan? Dungeon lantai pertama harusnya tidak sesulit ini nyan."


Ardhi juga merasa demikian, normalnya hanya petualang rank-E pasti bisa melewati hal ini namun pikiran itu dibantahkan dengan cepat.


Ardhi melesatkan empat pedang di udara untuk menjatuhkan seluruh tengkorak di sekelilingnya, di sisi lain Nisa menghadapi para tengkorak yang muncul dari belakang.


Sebelum semakin banyak keduanya hanya harus terus menerobos ke depan. Ada sebuah tangga yang menghubungkan lantai tiga dan mereka kembali menyusuri kegelapan lorong.


Lantai tiga diisi oleh para goblin, ada sesuatu yang aneh dari mereka bahwa tubuh mereka terlihat dua kali lipat dari goblin pada umumnya yang menandakan bahwa kemungkinan besar semuanya hobgoblin.


Nisa berdiri di depan Ardhi selagi mengulurkan dua tangannya.


"Fire Bolt."


Menyerukan sihir tersebut, api menyembur melewati dinding koridor membakar para hobgoblin menjadi debu.


Ada beberapa yang berhasil menjaga jarak namun seluruh pedang Ardhi yang melayang di udara menghabisi mereka tanpa sisa.


Nisa menyeka keringat selagi mengatur nafas dari mulutnya yang tersengal-senggal, tanpa ada Latifa ia kemungkinan besar tidak akan bisa menggunakan sihir lagi.


"Nisa kamu baik-baik saja?"

__ADS_1


"Aku tak apa nyan, lebih baik kita segera pergi ke lantai 4 nyan."


Ardhi mengangguk mengiyakan dan kembali menyusuri dungeon sampai ke lantai 4 yang kini telah dipenuhi berbagai serigala.


Mereka melolong dengan suara memekikkan telinga hingga Nisa ataupun Ardhi segera menutupi telinga mereka.


Salah satunya melompat pada Nisa, dengan sigap Ardhi mendorong Nisa ke samping dan hanya tangannya yang digigit oleh serigala tersebut.


"Ardhi?"


"Tak apa."


Ardhi menusuk serigala di tangannya dengan pedang hingga tewas begitu saja. Dia menyelimuti dirinya dengan petir hitam dengan aura membunuh, tanpa melakukan apapun para serigala tiba-tiba saja mundur.


Setelah mengelilingi lantai Nisa menemukan darah menggenang di bawah kakinya ketika dia melirik ke samping dia menemukan tubuh laki-laki yang bersandar di dinding dengan tubuh tercabik dan kepala yang hampir putus.


"Oh tidak, orang ini.. pendeta Marpin nyan."


"Dia sudah tidak tertolong lagi."


Mendengar suara pertarungan di depan, mereka bergegas maju, dari kejauhan mereka melihat bagaimana Siesta hanya memeluk lututnya ketakutan sementara Anderson terus memblokir serangan musuhnya dengan sihir penguatan di tangannya.


"Tidak, jangan mendekat... Anderson."

__ADS_1


Srak.


Sebuah tebasan menyayat lehernya membuatnya menyemburkan darah dari leher, yang melakukannya adalah seekor Kabold dengan tinggi dua meter dan bertubuh besar.


Siesta menjerit, sebelum cakar itu menyerangnya juga dua pedang menembus lengan Kabold membuatnya mundur ke belakang.


"A-Ardhi."


"Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi lebih baik kita keluar dari sini, Nisa bawa dia?"


"Baik."


Kabold ini jelas merupakan seekor bos. Sejauh ini Ardhi tidak menemukan bos dalam perjalanan kemari kemungkinan bahwa kelompok Siesta berhasil menghabisinya dan hanya menyisakan bos lantai 4.


Nisa memapah Siesta untuk keluar sementara dua pedang yang sebelumnya menusuk Kabold kembali ke tangan Ardhi.


"Jelas sekali kau tidak ingin mundur apa kau ingin bertarung?"


Ardhi memberikan peringatannya, sedangkan Kabold telah menghentakkan kakinya untuk menerjang maju.


Ia mengayunkan cakarnya dan Ardhi menghindarinya dengan membungkuk ke bawah sebelum menebaskan dua pedangnya secara bergantian.


Kabold bereaksi dan langsung membenturkannya dengan tangan yang lain menciptakan percikan ke udara.

__ADS_1


__ADS_2