
Sebelum belut tersebut keluar dari air, semua orang lebih memilih untuk menghabisinya di danau yang membeku. Seperti yang diduga belut itu bisa bergerak di luar air menandakan bahwa selama ini dia hanya bermain-main dengan manusia di sini.
Ardhi menarik dua pedang di tangannya dan berlari secara sejajar dengan pergerakan Anastasia.
Di belakangnya Nisa, Mery mengikuti dan di belakangnya lagi Latifa sebagai pendukung. Dia pertama merapalkan pelindung untuk dirinya selanjutnya penguatan fisik untuk orang-orang di garis depan.
"Ini baru menyenangkan nyan. Mery kita lakukan itu."
"Baik."
Ardhi berfikir lakukan apa maksudnya dan jawabannya muncul secara mengejutkan. Nisa melompat ke udara lalu menjadikan perisai Mery sebagai pijakan sebelum dia di dorong terlempar ke udara.
"Ini adalah gerakan yang kami ciptakan nyan, bagaimana Ardhi?"
"Kalian memang hebat."
Ardhi menebaskan pedang di sisi kiri dan Anastasia di kanan, untuk Nisa dia mengincar bagian kepalanya.
Mery tak ingin menjadi pelindung saja, dia juga mengambil pedang pendek dari belakang tubuhnya untuk menikam belut tersebut dari depan, sayangnya dari rentetan serangan tersebut tidak ada yang berhasil mengenainya, tubuhnya terlalu licin dan juga terlalu kenyal.
Dengan satu kibasan mereka bertiga terlempar menjauh.
Nisa mengulurkan tangannya untuk mengirim bola api, sementara Anastasia mengirim tebasan berikutnya.
Itu tidak terlalu memberikan damage tinggi dan hanya membuat belut semakin marah hingga menembakan bola air dari mulutnya.
Mery berdiri di belakang Ardhi untuk melindunginya dari serangan dengan perisainya, sementara Anastasia dan Nisa lebih memilih menghindarinya melalui gerakan gesit keduanya.
Beberapa serangan terbang ke arah Latifa yang berhasil ditahan lewat pelindungnya. Suara teriakan Risa terdengar.
"Aku tidak keberatan menggunakan sihirku loh, biarkan aku bertarung juga."
"Tidak usah, kami bisa mengatasinya."
Atas pernyataan Ardhi, Anastasia mengangguk mengiyakan.
"Mery gunakan lemparan perisaimu lagi tapi sekarang lakukan pada Anastasia."
"Dimengerti."
Nisa dan Ardhi bergerak maju dengan tebasan yang mereka buat, sejauh ini Ardhi tidak harus menggunakan keenam pedangnya secara bersamaan.
__ADS_1
Mereka memberikan goresan sebelum mundur saat belut itu hendak mengibaskan mereka dengan ekornya, Anastasia yang sudah mendaratkan kakinya tampak menyayatkan pedangnya di telapak tangannya membuat pedangnya bersinar dengan warna darah.
"Pedang itu meminum darah pemiliknya nyan."
"Mungkin itu bukan pedang biasa."
"Lemparkan aku."
"Baik."
Mery mendorong tubuh Anastasia seperti roket hingga dia meluncur di udara, belut itu menembakan kembali serangannya namun berhasil ditembus dengan baik, sebelum Anastasia menerobos kepalanya layaknya sebuah peluru.
Dia mendarat di lantai es bertepatan saat belut raksasa itu jatuh ke samping. Dengan sihir Latifa semua orang disembuhkan termasuk luka di tangan Anastasia.
"Sepertinya mereka melakukannya tanpa meminta bantuanku desu, kurasa aku akan akan diusir sekarang sebagai pembawa masalah."
"Aku pikir Ardhi tidak akan berfikiran demikian," ucap Purin di sampingnya.
"Apa menurutmu begitu? Aku ini pembawa bencana dan akan terus melibatkan orang-orang tak berdosa, bahkan saat rasku memperlakukanku dengan menyegelku di sana, aku tidak keberatan... semua itu demi kebaikan semua orang."
"Lalu apa yang baik untukmu?" balas Purin dengan senyuman simpati.
Walau keluarganya melarangnya untuk menjadi Idol, Purin tetap memilih hidupnya. Dalam kasus tertentu Purin sedikit mengerti apa yang dirasakan Risa.
"Yah, kamu akan mengerti ketika bicara dengan Ardhi."
Setelah danau di kembalikan sedia kala kelompok Ardhi sedang melakukan rapat tertutup. Ardhi mengangkat tangannya sebelum dipotong oleh Risa.
"Apa yang kau lakukan?"
"Jadi siapa yang memilih Risa tetap berada di kelompok kita, angkat tangan."
Dan semua orang mengangkat tangannya.
"Setelah masuk ke kelompok kita, aku tidak mungkin akan membiarkanmu begitu saja keluar dan kami juga tidak akan mengeluarkanmu," ucap Latifa.
"Aku juga nyan, sebelumnya kami kesulitan karena tidak memiliki mage, kami jelas tidak akan mengeluarkanmu dan tidak ada siapapun yang dibuang."
"Aku juga bersependapat," tambah Mery dengan anggukan kuat.
"Tapi jika aku bersama kalian, mungkin monster yang kuat akan berdatangan?"
__ADS_1
Kini Ardhi yang menjawabnya.
"Jika monster kuat muncul, kita hanya harus mengalahkannya dengan semakin kuat juga, asal tahu saja Nisa dan Mery selalu tertantang melawan monster kuat."
"Aku jadi malu nyan."
"Yah seharusnya kau tidak merasa malu tentang itu."
"Aku tidak sepertimu yang tidak malu bahkan mengatakan hal kotor seperti sek dan lainnya."
"Hah? Kau mau berantem."
"Kemarilah."
Mereka berdua saling mendorong dengan tangannya.
"Mereka selalu seperti itu jadi abaikan saja, tentu aku yang paling dewasa di sini," Mery malah memuji dirinya sendiri dengan bangga.
"Tapi jika begitu mungkin kota juga..."
"Soal itu, kota Georginia telah dilindungi oleh semacam pelindung, monster tidak akan bisa dengan mudah masuk."
Ardhi diam sejenak lalu mengulurkan tangannya.
"Jadi apa kamu masih mau tetap berada bersama kami? Tentu saja kami sangat membutuhkanmu."
Air mata menetes dari wajah Risa yang tersenyum seperti gadis kecil pada umumnya. Dia meraih tangan Ardhi dengan kedua tangannya yang mungil.
"Tentu saja aku mau desu, terima kasih banyak."
Baginya ini pertama kalinya seseorang mengatakan bahwa dia dibutuhkan, kini ia merasakan bahwa ia telah menemukan tempatnya di dunia ini.
"Kalau begitu Latifa, Purin dan juga Mery tolong bantu semua orang yang terluka, biar aku, Anastasia dan Nisa yang mencoba mencari makanan."
"Dimengerti."
Kini yang tersisa untuk dilakukan adalah melihat apa ada sesuatu yang bisa mereka temukan di bawah danau.
"Ngomong-ngomong, apa kita tidak memakan belutnya saja nyan? Mungkin itu terasa enak."
"Dia sebelumnya memakan manusia, aku merasa tidak ingin memakannya."
__ADS_1
Anastasia juga mengangguk mengiyakan.