Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 07 : penglihatan Masa Depan


__ADS_3

Di ruangan itu Ardhi maupun Purin menjelaskan pada yang lainnya tentang keadaannya. Dia membungkukkan badannya selagi berkata.


"Aku mohon pinjamkan bantuan kalian semua."


Latifa mendesah pelan.


"Sudah pasti kami akan membantumu, lagipula bukannya kau telah menyewa jasa kami."


"Latifa?"


"Sungguh mengejutkan bahwa kamu adalah demi-human, Purin.. Tapi aku senang bahwa kita sedikit punya kemiripan nyan."


Mery mengacungkan jempol untuk mengutarakan hal sama bahwa dia juga tidak keberatan.


"Kalian semua, terima kasih banyak."


Ardhi hanya mengawasi pemandangan itu dengan senyuman hangat, lagipula lambat laun Ardhi memang harus pergi ke kerajaan Arvensia. Sebelum keberangkatan ke kota ini sebuah pesan alarm telah memintanya untuk pergi ke kuil air yang berada di kerajaan tersebut.


Semua yang terjadi sepertinya sudah diramalkan oleh dewi yang telah memanggilnya ke dunia ini.


Satu hari sebelum penampilan Purin, dia tengah berkeliling bersama Latifa.


Dibandingkan terlihat seperti orang yang bekerja lebih cocok mereka disebut berkencan.


"Ini dia, untuk kalian sepasang pasutri yang begitu mesra."

__ADS_1


"Ya ampun, apa kami terlihat begitu, aku jadi sedikit malu."


Ardhi bisa mengerti kenapa bibi penjual crepe tersebut mengatakan hal demikian, bagaimanapun Latifa terlalu erat menempel padanya sehingga dia bisa merasakan sesuatu yang lembut itu menempel di sikunya.


Ardhi mencoba setenang itu walaupun kini Latifa jelas menunjukkan karismanya sebagai wanita dewasa.


Dia kemudian bengong.


"Ada apa Ardhi apa kau baik-baik saja?"


"Latifa, kamu tidak mengenakan bra."


"Fufu untuk hari ini aku memang sengaja."


Itulah fakta yang terjadi.


"Padahal aku tidak keberatan."


Sementara dia berganti pakaian Ardhi tertarik dengan pakaian yang berjajar di sampingnya, dia bertanya pada pelayan toko.


"Gaun Purin sepertinya sangat populer ya."


"Benar tuan, tak hanya laku di para gadis, para pria juga kerap membelinya."


"Mereka benar-benar tidak keberatan memakai hal seperti ini."

__ADS_1


"Hehe."


Pelayan tersebut tersenyum ragu, bagi dirinya atau tokonya tidak masalah siapa yang membeli atau digunakan untuk apa, yang jelas itu masih akan menguntungkan bisnis.


Dengan wajah lesu Latifa keluar dari toko mengikuti Ardhi di belakangnya sampai sebuah kerumunan mengalihkan perhatian keduanya, mereka menerobos masuk dan melihat salah satu orang telah terbaring di jalanan dengan luka darah keluar dari perutnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Ardhi pada salah satu penjaga, karena Ardhi terlihat seperti seorang kesatria maka penjaga tersebut langsung memberitahukannya tanpa menanyakan asal usulnya.


"Dia diserang seseorang, kami belum tahu siapa pelakunya yang jelas dia berhasil melarikan diri."


Apa mungkin mereka? Ketika Ardhi menggumamkan hal itu Latifa menarik bajunya, wajahnya terlihat pucat jadi dia segera mengikuti ke mana Latifa membawanya.


"Ardhi, barusan aku mendapatkan penglihatan masa depan."


"Untuk sekarang duduklah sebentar."


"Tidak, aku harus mengatakannya... kota ini dalam bahaya, aku melihat semuanya terbakar habis oleh api."


Ardhi mengalihkan pandangannya ke kiri ke kanan untuk memastikan apa yang memicu sebuah kebakaran namun dia tidak menemukan sebuah kejanggalan.


Latifa adalah seorang Arch Priest yang memiliki kemampuan melihat masa depan, jika dia mengatakan hal itu maka semuanya akan benar-benar terjadi, terakhir kali ia mengatakan bahwa kota Georginia akan diserang gerombolan monster dan tak perlu waktu lama untuk memastikan kebenarannya.


"Apa kamu tahu siapa yang melakukannya?"


Latifa menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Penglihatan masa depan Latifa memang terbatas meski begitu itu tetap saja sangatlah membantu.


__ADS_2