Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 13 : Pertarungan Di Kota Bawah Tanah Bagian Lima


__ADS_3

Pertarungan Vares melawan Ardhi masih terus berlanjut, keduanya tidak menunjukkan tekad untuk mengalah walaupun sekarang asap telah mencapai 50 persen dari keseluruhan kota ini.


Ardhi merobek pakaian seorang mayat kemudian menutupi setengah wajahnya agar tidak menghirup asap tersebut sedangkan Vares juga melakukan hal sama.


Ardhi sudah lelah untuk menggerakkan pedangnya di udara karena itulah empat pedang miliknya kembali tersarung di pinggangnya, sementara dua lagi di tangannya.


Dia menerjang ke depan selagi mengayunkannya dengan cepat, di sisi lain Vares memblokir serangan tersebut kemudian melesatkan serangan balasan dengan kekuatan penuh, ia memegangi pedangnya dengan dua tangan memaksimalkan semua kekuatannya dengan baik.


Dentrang.


Trang.


Tung.


Pedang terus berbenturan untuk beberapa menit lamanya, sebuah tebasan membuat tubuh Ardhi terluka begitu juga Vares yang mengalami luka yang sama. Bertarung bahkan dengan kondisi seperti ini terlalu berlebihan untuk keduanya.


"Bukannya lebih baik kita keluar dari sini dan menghentikan pertarungan ini?" saran Ardhi.


"Sudah sejauh ini, harus ada pemenangnya, lagipula aku yakin bahwa pimpinan kami telah mengatasi temanmu bahkan membawa Purin sendiri."


"Kau terlalu percaya diri."


Ardhi menggunakan Double Slash untuk memojokkan kekuatan Vares, namun salah satu pedangnya terlempar darinya dan jatuh di sisi lain, menggunakan kesempatan itu Vares memberikan tusukan yang menembus tubuh Ardhi tanpa ampun.


"Guakh."


"Kurasa aku pemenangnya."


"Masih belum."


"Apa?"


Pedang yang terlempar itu bergerak si udara selanjutnya menembus tubuh Vares tepat di jantungnya.

__ADS_1


"Mungkinkah kau sengaja melepaskan pedangmu?"


Ardhi tersenyum kecil sebagai jawaban.


"Begitulah, ini hanya jalan satu-satunya agar kau lengah."


"Benar-benar nekat."


Sementara Vares ambruk, Ardhi menarik pedang musuh di tubuhnya kemudian melemparkannya ke dalam api, salah satu pedang dia masukan ke dalam sarungnya sementara satu lagi dia gunakan untuk menopang tubuhnya keluar dari kota bawah ini.


Perlahan dia menyeret kakinya dan tak peduli luka yang dia dapatkah, ia hanya harus terus berjalan ke luar kota.


Walau Vares bilang bahwa anggotanya mungkin sudah dikalahkan, dia tidak begitu percaya, Nisa belakangan ini semakin kuat dalam bertarung, Mery dan Latifa juga telah berjuang keras.


Hal mereka bisa dikalahkan hanya oleh pemimpin bandit di luar pemikiran Ardhi sendiri. Mereka pasti menang, dia percaya hal itu mengingat Latifa bahkan terus melatih kekuatan serangannya walaupun dia seharusnya berada di garis belakang.


Langkah Ardhi mulai terhuyung-huyung seiring pandangannya yang kabur, ketika tubuhnya tak kuat menahannya dia kehilangan keseimbangannya dan hendak jatuh ke depan sebelum wajahnya tertahan sebuah bantalan empuk.


"Ini?"


"Kau terlalu memaksakan diri nyan."


"Nisa?"


"Memangnya siapa lagi, yang lainnya khawatir jadi aku datang menjemputmu, biar aku bantu."


"Terima kasih."


"Apa semuanya selamat?"


"Begitulah nyan, Purin juga baik-baik saja."


Ardhi tersenyum kecil sebelum menutup matanya. Saat Ardhi membuka matanya dia telah berada di dalam tenda dengan tubuh terselimuti perban.

__ADS_1


"Aku masih hidup."


Di sebelahnya tidur Latifa dan jelas bahwa dia yang telah merawatnya. Ia membuka matanya dan kemudian melompat padanya.


"Ardhi, kau sudah siuman."


"Sakit."


"Ah maafkan aku."


"Di mana yang lainnya?"


"Mereka istirahat di tenda yang lain, kota bawah tanah Arfadius sudah tidak bisa ditinggali lagi karena Itulah semua orang memilih tidur di dalam hutan."


Ardhi keluar tenda bersama Latifa dan melihat bahwa sekelilingnya telah dipenuhi tenda juga. Beberapa bahkan tidur di alam liar beralaskan daun serta perapian sebagai penghangat.


"Sepertinya aku tidur terlalu lama."


"Iya, sebelumnya aku harus minta maaf pada Ardhi."


"Minta maaf untuk apa?"


Latifa terlihat malu-malu selagi mengulurkan cermin padanya.


Ketika Ardhi melihat dirinya ia akhirnya menyadari bahwa di wajahnya penuh dengan bekas bibir.


"Latifa?"


"Ah, aku minta maaf... aku tidak bisa menahan diri, tadinya aku akan menghapusnya pagi nanti."


Ardhi menghela nafas panjang, ini mungkin yang dinamakan mengambil kesempatan dalam kesulitan.


"Aku akan tidur di luar."

__ADS_1


"Heeh, Ardhi masih sakit, ayo tidur bersama lagi."


Dia jelas tidak bisa lari dari ini.


__ADS_2