Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 18 : Sihir Tingkat Atas


__ADS_3

Ardhi bisa mendengar percakapan di belakangnya, sihir skala besar tidak akan bisa dilakukan kelompoknya tidak ada job mage terlebih dari mereka hanyalah petualang yang unggul sesuai jobnya.


Berbeda dari kelompok Yumi, mereka memiliki Yumi sendiri yang mengambil peran mage. Ketika Ardhi memikirkan langkah selanjutnya suara Florentine memanggilnya.


"Ardhi tolong ulur waktu bersama kelompokmu, aku yang akan menggunakan sihirnya."


Ardhi sedikit merasa kesal karena mereka selalu lolos dari bahaya karena sebuah keberuntungan, pertama mereka dibantu Yumi, selanjutnya Dewi dan sekarang Florentine. Kebanyakan orang mengatakan keberuntungan juga merupakan kekuatan tapi bagi Ardhi hal itu sama sekali tidak hubungannya, bisa saja bahwa keberuntungan mereka akan habis tanpa mereka sadari.


Menjadi kuat adalah jalan satu-satunya untuk dilakukan, semenjak bertemu raja iblis Agarta, Ardhi merasa dirinya tidak pernah mendapatkan perkembangan, dia sedikit frustasi meski begitu bukan waktunya untuk memikirkan hal itu.


Semua orang telah berjuang di sini maka dia juga harus melakukannya.


"Baik."


Ia memeriksa anggotanya termasuk Purin yang bersembunyi, semua orang masih dalam keadaan baik.


Pedang di tangan Florentine terbang ke udara bersamaan pedang yang lainnya, Ardhi juga menarik pedang di tubuh harimau tersebut yang merupakan pedang milik Florentine.


"Ardhi mulai serius nyan."

__ADS_1


"Yah bukannya dari awal dia serius."


"Benarkah."


Nisa, Mery dan Ardhi menyerang secara bersamaan. Mery akan menahan dan keduanya akan menyerang di sisi butanya.


Harimau yang marah mulai mengaum selagi menguatkan pijakannya, itu memiliki efek Stun membuat musuhnya lumpuh dalam waktu tertentu.


Seluruh pedang Ardhi telah jatuh ke tanah dan dari matanya yang penuh kebencian harimau itu membuka mulutnya menciptakan api dari dalamnya yang membakar seluruh tubuh Ardhi.


"Jangan remehkan sihirku!" teriak Latifa, di detik akhir dia telah mengirimkan sihir perlindungan untuk Ardhi, kecuali tanah yang terbakar hangus Ardhi masih berdiri dengan pedangnya.


Ketika efek Stun berakhir mereka kembali menyerang, seluruh pedang yang digerakkan Ardhi telah menancap baik di sekujur tubuhnya dan di waktu yang sama serangan kelompoknya menjadi lebih efektif.


"Kalian berhasil."


Jelas itu tidaklah cukup untuk mengalahkannya namun paling tidak bisa menahannya, Ardhi menarik seluruh pedangnya keluar bersama tubuhnya yang terlempar ke belakang, begitu juga Nisa dan Mery.


"Kerja bagus kalian, sekarang aku sudah siap," ucapnya datar

__ADS_1


Setelah merapalkan sihir yang cukup panjang, Florentine memunculkan sebuah lingkaran sihir merah raksasa di bawah kaki harimau tersebut.


"Pilar api neraka," bersama perkataannya api menyembur ke langit dengan dahsyat, itu menyerupai pilar raksasa yang membawa kehancuran pada satu titik targetnya.


"Hebat sekali, apa ras elf selalu sekuat ini nyan."


Setelah satu menit pilar menghilang sementara harimau itu jatuh ke bawah, bahkan dengan sihir besar itu harimau tersebut masih berdiri.


Nisa mengambil pedang Florentine lalu berjalan maju ke dekat harimau yang tumbang ke tanah, dia berdiri di atasnya selagi menusukan pedang tersebut untuk mengakhiri semuanya.


"Dengan ini aku telah membalas dendam desaku," katanya demikian.


Nisa memberikan pedang tersebut pada pemiliknya sementara semua orang kini berada dalam perawatan Latifa.


"Pedangmu, maaf aku menggunakannya untuk membunuh harimau tersebut."


"Tak apa, jika aku sendirian tidak mungkin untuk mengalahkannya. Kalau begitu aku permisi."


"Baik."

__ADS_1


Tanpa mengatakan apapun lagi Florentine kembali melangkah pergi setelah menyarungkan pedangnya.


"Kenapa dengan orang itu?" pertanyaan Latifa tidak mendapatkan jawaban dari siapapun.


__ADS_2