Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 25 : Sebuah Kemenangan


__ADS_3

Sebelum perjudian ini dimulai, Ardhi telah meminta Adaline untuk menandai kartu milik Roy namun kartu itu tiba-tiba saja berubah menjadi kartu bagus hingga dia mampu memenangkannya, hal seperti keberuntungan buruk atau tinggi penjudi satu tidak lain hanya buatan sihir pengawalnya.


Tentu hanya dengan itu tidak akan bisa menjadikannya sebagai bukti, yang bisa dilakukan sekarang adalah memenangkan pertandingan ini untuk membuat mereka bangkrut.


"Kalau begitu, silahkan tunjukan kartu kalian."


Mengikuti perkataan Adaline, ketiganya menunjukannya dan jelas tidak ada yang mendapatkan Joker.


"Karena tidak ada, silahkan pilih lagi."


Penjudi satu berbisik pada pengawalnya.


"Bagaimana?"


"Aku tidak bisa melihatnya ataupun merubahnya."


"Apa?"


Roy memotong dengan senyuman di wajahnya.


"Apa yang kalian gumam 'kan? Cepatlah pilih kartunya lagi, bukannya tidak ada siapapun yang diperbolehkan mundur saat taruhan sudah terpasang."


"Apa yang kau lakukan pada kartunya?"


Adaline menjawabnya dengan tenang.


"Kartu ini dilapisi sihir agar tidak bisa dicurangi, ini saran pemuda di sana, dan mulai sekarang akan diterapkan di tokoku."


Pada akhirnya si penjudi terpaksa mengambil dengan tangannya, saat ketiganya menunjukkan kartu yang mereka pilih. Roy mendapatkan Jokernya.

__ADS_1


"Mustahil, aku tidak terima.... ini curang?"


"Tidak ada kecurangan di sini, semuanya dilakukan dengan jujur. Jikapun kalah itu hanya keberuntunganmu yang jelek."


Saat pengawal hendak mengeluarkan senjata enam pedang Ardhi telah mengepungnya dari segala arah.


"Dengan ini semua bisnis Anda akan menjadi milikku tapi jika Anda bisa memberikan sejumlah uang yang setara, aku tidak akan mengambilnya."


"Sial."


Penjudi satu menggebrak meja dengan frustasi, dengan ini dia jelas telah bangkrut. Adaline mengalihkan pandangan ke arah Liwei.


"Bagaimana denganmu?"


"Sepertinya kota ini akan semakin menarik ke depannya sayang jika aku tidak memiliki bisnis di sini, aku akan menggantinya dengan uang, tak masalah bukan."


"Tentu saja."


"Melegakan sekali, kita dapat bonus juga... ini semua karena Ardhi-chan, ini bagian untukmu."


Masing-masing mendapatkan 2.000 koin emas, sesuatu yang mustahil untuk didapatkan mereka dari quest hanya dengan sekali jalan dengan peringkat mereka yang sekarang.


"Kalau begitu sampai nanti."


"Bagaimana kalau besok kita rayakan."


"Sebenarnya besok kami akan meninggalkan kota lagi, mungkin lain kali."


"Ardhi-chan benar-benar sibuk, apapun itu semoga beruntung."

__ADS_1


Ardhi melambaikan tangan lalu berjalan pergi, setelah kepergiannya Adaline dan Liwei berdiri di belakang Roy hingga dia terkejut.


"Kalian?"


"Bukannya pemuda itu cukup menarik?" ucap Adaline yang dibalas Liwei.


"Kurasa begitu, sebelumnya aku mendengarnya dari penjual budak, dia membeli semua budak yang hendak aku beli dan dipekerjakan di toko baru miliknya."


"Itu terdengar seperti kerugian untukmu."


"Hal seperti itu tidak aneh, keberuntungan dan kerugian satu hal yang tidak dipisahkan."


Roy memilih untuk diam-diam meninggalkan keduanya.


Pagi berikutnya Ardhi bisa merasakan seseorang menindihnya di tempat tidur.


"Sudah pagi tuan, sudah waktunya Anda bangun."


"Carmen kah, bisakah kau tidak menerobos kamarku."


"Ini sudah tugas seorang pelayan."


"Aku sedikit terlambat bangun. Bagaimana dengan semuanya?"


"Semuanya sudah siap, tapi apa tuan yakin akan pergi ke kerajaan demi-human. Mereka mungkin akan menolak tuan."


"Tak apa, kami punya sesuatu yang akan membuat mereka membukakan pintu, ngomong-ngomong cepatlah berdiri, itu benar-benar menyentuhku sekarang."


"Apa maksud tuan?"

__ADS_1


"Aku tidak ingin mengatakannya."


Ini adalah pagi biasa di hari biasanya.


__ADS_2