Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 17 : Raungan Dari Dalam Hutan


__ADS_3

Suaranya begitu keras hingga seolah bisa memekikkan telinga, burung-burung yang hinggap di pohon mulai berterbangan dan di saat yang sama tubuh Nisa menggigil sesaat.


Semua orang jelas menyadari hal itu, seekor monster yang paling dibenci oleh Nisa yang merupakan pelaku dari pembantaian desanya di masa lalu, dia adalah harimau bertaring pedang, begitulah orang-orang memanggilnya.


Di punggungnya tampak menancap pedang milik Florentine.


"Makhluk itu sangat kuat, lebih baik kita lari," saran Florentine.


Ardhi tidak menjawabnya langsung melainkan mengalihkan pandangan ke arah Nisa, seharusnya petualang yang bisa mengalahkannya berada di peringkat A, sekarang mereka berada di Rank-B jadi tidak mustahil untuk mereka menghadapinya.


"Aku tidak akan melepaskannya, jika aku tidak melawannya sekarang maka tidak akan ada hari lain untuk melakukannya nyan."


"Kamu sudah mendengarnya, kami akan tetap tinggal untuk menghadapinya."


"Manusia benar-benar keras kepala yah," balasnya dengan datar.


Mery dan Latifa mengangguk untuk menunjukan kesiapannya, dan di saat yang sama Ardhi memberikan arahan.


"Kita akan melakukan seperti biasanya, Mery."


"Baik."


Mery menerjang maju hendak menghantamkan perisai beratnya, sayangnya harimau itu telah mengantisipasi gerakannya dengan melompat ke udara lalu mengarahkan serangannya pada Latifa.

__ADS_1


"Mustahil?" ucap Mery.


Ardhi tidak membiarkannya dan menutup ruang diantara keduanya dengan menahan taringnya dengan dua pedang. Dari samping Nisa hendak menusukan kedua belatinya sayangnya harimau itu menyadarinya hingga dia membanting tubuh Ardhi ke samping sebelum mencakar keberadaan Nisa hingga dia terlempar dan ditahan Mery.


"Makhluk ini pintar."


"Seharusnya aku mengatakannya lebih awal," tambah Florentine lalu melanjutkan.


"Ardhi pinjam pedangmu."


Pedang itu terbang ke tangan Florentine dengan baik.


"Pedangnya cukup berat tapi aku masih bisa menggunakannya."


"Iya, lagipula aku juga tidak bisa tinggal diam, pendeta beri aku kemampuanmu."


"Jangan menyuruhku, hanya Ardhi yang bisa melakukannya."


Walau Latifa mengeluh dia memberikan sihir penguatan untuk Florentine termasuk yang lainnya, dengan keberadaan elf di kelompok Ardhi, Latifa tidak harus maju ke depan untuk membantu, ia akan fokus sesuai jobnya sekarang.


"Ardhi."


"Aah."

__ADS_1


Nisa bergerak di depan sementara Ardhi berada di belakangnya mengikuti, Harimau itu melompat untuk menghindarinya tapi tak seperti sebelumnya semua orang sudah menyadarinya.


Mery melemparkan perisainya ke udara membentur harimau itu dengan bunyi memekakkan telinga membuatnya terlempar dan jatuh ke bawah.


Sebelum dia bangkit Nisa telah mengirim Double Slash kemudian disusul tebasan Ardhi dan juga Florentine, itu menjadi pertarungan tiga lawan satu.


Ketika efek penguatan mereka hilang Latifa akan segera merapalkan mantera yang baru.


Mery mengambil perisainya dan lalu mengikuti yang lainnya bertarung.


Dua kaki depan harimau naik untuk melukai Florentine namun perisai sudah menahannya, dengan skill Counter Shield harimau itu menerima dua kali lipat serangannya sendiri hingga terlempar ke udara. Ardhi telah menyelinap di depannya lalu menggunakan Spin hingga dua pedangnya berputar untuk memberikan tebasan ganda.


"Roaarr."


Harimau terpental lebih jauh dan sekarang Nisa akan menyelesaikannya sendiri, dia bergerak dengan cepat untuk menghindari serangan mulut dan cakarnya. Gerakannya terlihat elegan dan juga begitu cepat saat dia menebas bagian samping tubuhnya.


"Ini untuk keluargaku."


Dia berseluncur melewati tubuhnya mencoba membedah perutnya, tepat saat itu kaki depan harimau hampir saja menginjaknya namun dia berhasil melewatinya juga lalu menggunakan Back Stab untuk menyerang sekaligus menjaga jarak.


"Apa itu benar-benar seekor monster peringkat A, dia sangat kuat saat menerima serangan bahkan setara dengan makhluk bencana," ucap Latifa yang dibalas oleh Florentine tanpa mengubah nada bicaranya.


"Aku sudah menebaknya saat berhadapan pertama kali, hanya sihir berskala besar saja yang bisa mengalahkannya."

__ADS_1


__ADS_2