Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 11 : Pertarungan Di Kota Bawah Tanah Bagian Tiga


__ADS_3

Aku melompat di udara untuk memberikan tendangan terbang demi menjatuhkan dua orang yang saat ini menghadang kami. Entah karena kami sering bertarung melawan monster kuat bagi kami sendiri para bandit ini bukanlah ancaman.


Aku berlari secara zig-zag di hadapan para musuh dan dengan sedikit tebasan mereka jatuh ke tanah.


"Sudah aman nyan, maju."


Aku memberikan kode tangan pada semuanya untuk melanjutkan perjalanan. Mery masih menggendong wanita asing, sementara di sampingnya Latifa dan Purin terus waspada.


Hanya separuh perjalanan lagi maka kami akan keluar, aku berharap bahwa ini menjadi sebuah perjalanan mudah sayangnya seorang pria telah menghalangi kami dengan kumpulan wanita yang mirip dengan wanita yang digendong dipunggung Mery sekarang.


Secara lebih spesifik hanya pakaiannya saja.


"Kalian tidak bisa pergi sebelum menyerahkan gadis itu."


Dia menunjuk Purin dengan mata cabul di wajahnya.


"Uang yang kau hasilkan untukku sangatlah besar, aku tidak sabar untuk mendapatkannya."


"Dia adalah pemimpin Skull Darkness, Lufidol," atas pernyataan Purin kami akhirnya tahu siapa otak dari penculikannya.


Mery memotong.


"Ada enam wanita asing, apa aku harus ikut bertarung juga."

__ADS_1


"Sepertinya begitu, turunkan saja dia."


"Aku mengerti."


Purin dan wanita sebelumnya dibiarkan di belakang sementara kami menerjang maju. Lufidol juga memberikan arahan untuk mengirim anak buahnya maju dan benturan tak bisa dihindari.


Seperti biasa formasi kami mengandalkan Mery sebagai penyerang depan, aku dan Latifa bersembunyi di belakang Mery saat sebuah shuriken terbang pada kami.


"Aku sudah memikirkannya sejak lama, kita sejujurnya harus memiliki seorang mage untuk serangan jauh."


"Ini bukan waktunya mengatakan itu," Latifa segera membantah perkataanku.


Tung, tung.


Para wanita asing berlari ke samping melewati perisai dan bersama-sama mereka menjatuhkan bom asap di bawah kaki kami.


Dan firasatku memang benar.


Itu meledak sehingga dalam kepulan asap tersebut kami berpencar.


Mery ke depan, aku ke kanan dan Latifa ke kiri selagi membawa tongkat di tangannya. Kami menghajar sebanyak yang kami bisa berikan dan menerima balasan seminimal mungkin.


Aku menggunakan skill Double Slash yang disusul dengan Back Stab, sayang sekali bahwa salah satu wanita yang kuserang mampu membaca pergerakanku dengan baik hingga kami saling membenturkan senjata sebelum melompat mundur, satu orang lagi menyerangku setelah menyelinap dari belakang.

__ADS_1


"Jangan remehkan klan ninja, kami lebih unggul dari seorang pencuri."


Klan ninja kah.


Itu mengingatkanku, mereka dikenal sebagai assassin jelas mereka ahli dalam pertarungan seperti ini, aku bersalto ke belakang untuk menghindar sekaligus menjaga jarak.


Dengan kami bertiga maka pertarungan yang terjadi sekarang menjadi dua lawan satu.


Mery melawan musuhnya dan Latifa juga demikian, kami selalu merasa bersalah membuat Latifa berada di garis depan padahal sebenarnya dia memiliki job yang selalu bekerja di belakang.


"Berapa uang yang kalian terima dari pria itu nyan, jika uang maka kami akan membayar dua kali lipat," kataku.


"Kami memiliki prinsip bahwa siapa yang lebih dulu menyewa adalah orang yang pertama dilayani, masalah uang tidak berguna."


Mereka pembunuh profesional.


Ini sulit.


Aku diam-diam melirik ke arah Mery yang harus menahan dengan perisainya serta pedang pendek di tangan lain, sedangkan Latifa harus bersusah payah menggunakan sihir cahaya sebagai serangan.


"Bukan waktunya memikirkan orang lain, kau juga dalam masalah kucing kecil."


Aku menahan seseorang yang melompat ke depanku, satu orang mengambil celah untuk menendang perutku hingga aku berguling-guling sebelum menabrak bangunan terbakar.

__ADS_1


"Whoaaa, ekorku terbakar nyan."


Aku berlarian ke sana kemari dengan panik, sebelum akhirnya menggunakan sihir air untuk memadamkannya.


__ADS_2