Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 51 : Pertemuan Kembali Dengan Elf


__ADS_3

Ardhi meletakan beberapa bunga di makam gurunya sebelum bangkit.


"Ardhi?"


"Guruku sudah tahu soal waktunya, kurasa dia sudah siap dengan kematiannya, bahkan di surat yang dia tulis dia kebanyakan tertawa."


"Orang yang aneh desu."


"Mari pergi, bukannya kau ingin menggunakan sihir."


"Gendong aku Ardhi, gendong."


"Padahal kau sudah besar."


Ardhi mau tidak mau melakukannya untuk menempatkan Risa di bahunya, dia terlihat seperti maskot dari kelompok ini.


Mereka mengunjungi kediaman master Shen, sementara Risa mencoba meledakan beberapa sihir kuat ke arah hutan, Ardhi telah mencari sesuatu yang gurunya berikan padanya.


Ia membuka pintu dan melihat sebuah deretan buku sihir termasuk porsi latihan untuknya.


"Terima kasih guru, aku akan selalu mengingat kebaikan Anda."


Saat Ardhi keluar dia bisa melihat Risa yang berdiri dengan puas sembari mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.


"Kau sudah selesai di sana Ardhi."


"Ah."


Ardhi mengalihkan pandangannya untuk memeriksa bahwa jauh dari tempatnya berdiri banyak kawah-kawah yang baru dibuat melalui sihir ledakan Risa.


"Kau bilang hanya satu atau dua sihir serangan."

__ADS_1


"Aku sepertinya sedikit berlebihan desu."


Akan jadi masalah jika Risa merusak ekosistem di dekat sini, karena itulah Ardhi menarik kerahnya untuk pulang.


"Tolong satu kali lagi Ardhi, aku pikir yang ini akan jauh lebih besar."


"Itu jelas akan jadi masalah."


Ketika mereka memasuki kota keduanya menemukan seorang elf sedang berlutut di depan elf lainnya yang mengenakan pakaian pelayan.


Jelas bahwa elf pelayan tersebut baru selesai berbelanja di pasar dengan tas di tangannya.


"Nona Nemesis, akhirnya saya menemukan Anda, aku kemari untuk membawa Anda ke wilayah elf lagi."


"Aku sudah bukan bangsawan, aku tidak perlu datang ke sana lagi setelah mereka menjualku sebagai budak."


"Tapi, sekarang berbeda aku akan bertarung dengan mereka jika mereka merepotkan Anda lagi."


"Tuan, tolong usir orang itu."


"Bukannya kau Ardhi, apa yang sedang kau lakukan di sini?"


Ardhi jelas tidak bisa membohonginya lagi hingga ia menjelaskan bagaimana pertemuannya dengan Nemesis hingga menjadi pelayan pribadinya.


"Nona, apa Anda masih perawan?"


"Eh, kenapa kamu mengatakan itu."


"Jika seorang pelayan diperkerjakan oleh pria muda mereka pasti melakukan itu."


"Aku belum melakukannya."

__ADS_1


Belum?


Risa dan Ardhi bergumam hal demikian secara serempak.


"Tolong kembalilah bersamaku, aku berjanji akan melindungi Anda."


"Tuan."


"Maaf Florentine sebaiknya kau menyerah, ia mungkin lebih suka jika tinggal di sini."


"Aku masih tidak terima bahwa Nona Nemesis jadi pelayan, Ardhi tolong berduel denganku, jika aku menang aku akan mengambil nona kembali dan jika aku kalah silahkan jadikan aku pelayanmu juga."


"Itu terlalu berlebihan."


Ardhi melihat tatapan Florentine yang dipenuhi tekad, pada akhirnya dia menyetujui tantangan duel dan mereka memutuskan untuk melakukannya di luar kota.


Ardhi menarik satu pedang di tangannya sementara lima lagi tetap berada di pinggangnya.


"Kalau begitu peraturannya tidak boleh menggunakan sihir dan siapa yang lebih dulu mengaku kalah atau tidak bisa melanjutkan pertandingan lagi mereka akan dianggap kalah desu."


"Aku mulai."


Florentine menerjang ke depan dengan gerakan tusukan, walau tidak menggunakan sihir dia sudah lebih cepat.


Ardhi menghindarinya setipis rambut sebelum balik menyerang, menyadari tebasan muncul dari samping, Florentine menahannya kemudian balik menyerang.


"Apa elf itu kuat desu?"


"Di negara elf Florentine di sebut sebagai putri pedang tak terkalahkan."


"Eh, sepertinya sulit desu. Pantas saja dia mengajukan untuk duel tanpa sihir."

__ADS_1


__ADS_2