
Dia duduk setelah dipersilahkan masuk ke dalam kediamannya.
"Maaf karena tempatnya seperti ini."
"Tidak, aku tidak masalah dengan ini, ngomong-ngomong boleh aku tahu apa maksudnya dengan pertama dan terakhir."
Shen meletakan teh buatannya sebelum membalas saat Ardhi mencicipinya.
"Soal itu, hidupku sudah tidak lama lagi."
"Apa Anda sedang sakit?"
Mendengar balasan itu, Shen tertawa.
"Kau ini petualang, tidak ada petualang yang berkata sesopan itu."
"Aku tidak terlalu suka berbicara kasar."
"Aku bisa melihatnya."
Shen menyeruput tehnya lalu melanjutkan.
"Aku sudah sakit cukup lama, kurasa hanya beberapa bulan lagi aku benar-benar mati haha."
Seorang yang bisa menertawakan kematiannya adalah sesuatu yang jarang dilihat oleh orang lain bahkan Ardhi sendiri.
Itu bukanlah bentuk keputusasaan melainkan bentuk dari seseorang yang sudah menerima takdirnya, dengan kata lain sebelumnya dia pasti sudah mencoba segala hal untuk menyembuhkannya, Ardhi bukanlah dewa ataupun orang hebat dia hanya manusia, jelas bahwa dirinya juga tidak akan bisa melakukan apapun untuk sosok di depannya.
"Kamu tidak bersimpati padaku?"
__ADS_1
"Anda tidak terlihat seperti seorang yang harus menerima simpati seseorang," jawabnya jujur.
"Aku suka murid yang mengerti keadaan, mulai dari sekarang kau akan aku latih sangat keras karena itulah bersiaplah."
Ardhi membungkuk rendah.
"Mohon bimbingannya."
Tanpa menunggu besok Ardhi telah menerima instruksi awal baginya, dia diharuskan mengenakan besi di seluruh tubuhnya khususnya di pergelangan tangan serta kakinya.
Itu memiliki berat yang cukup untuk membunuh seseorang.
"Setiap hari kau harus mengenakannya, karena itulah jangan dilepas kecuali kau ingin mandi."
"Dimengerti."
"Kau sepertinya berjuang keras di sana," ucap Eve.
"Apa kamu sedang menungguku atau sebagainya?"
"Tidak mungkin aku melakukan itu, aku bukan wanita kesepian," dia menjawabnya selagi memalingkan wajahnya.
Ardhi merasa banyak keanehan dengan orang-orang di rumahnya yang harusnya dia tidak ketahui.
Besok paginya dia kembali untuk berlatih kembali, Latifa menemaninya untuk melihat bagaimana Ardhi berlatih mengayunkan pedang dengan kondisinya sekarang.
"Gadis muda, kau khawatir dengan keadaannya."
"Jelas sekali, aku bertanya-tanya latihan sekeras apa sampai Ardhi pulang malam... sekarang aku melihatnya, kau monster tak berperasaan pak tua."
__ADS_1
Shen tertawa.
"Kau membuatku seperti orang jahat, petualang yang bertingkah seperti kesatria dan sekarang Arch Priest yang suka berbicara kasar."
"Terserah kau mau berfikir apa tentangku, aku tidak peduli."
Keduanya mengalihkan pandangannya ke arah Ardhi yang terus mempercepatnya langkahnya.
Beberapa hari berikutnya dia mulai berlatih satu lawan satu dengan Shen menggunakan pedangnya sendiri.
Dalam waktu singkat itu Ardhi bisa mengeluarkan petir dari tubuhnya.
Tidak seperti Shen, Ardhi memiliki petir hitam di tubuhnya.
"Apa ini baik-baik saja?" tanyanya ragu.
"Tidak masalah, kecocokan tubuhmu dengan elemen kegelapan sangatlah kuat, aku tidak tahu bagaimana kau bisa melakukannya namun elemen kegelapan cukup jarang didapatkan oleh seseorang terlebih setinggi ini."
Ini karena permintaan Ardhi sebelumnya terhadap dewi, dasar kekuatannya telah menyamai raja iblis yang dia perlukan hanyalah untuk melatihnya.
Saat petir ditubuh Ardhi menghilang dia diterbangkan dengan mudah oleh Shen hingga menatap langit.
"Kurasa hari ini sudah cukup."
"Tolong satu kali lagi."
"Kau sangat keras kepala, tapi aku tidak membencinya.. jika kau tidak bisa pulang karena babak belur, kau bisa tidur di sini."
Ardhi mengangguk mengiyakan.
__ADS_1