
"Aah, aah, aah, hentikan.. tidak, jangan di sana nyan."
"Apa kamu menikmatinya."
"Kenapa jadi begini nyan... aah."
Sementara Nisa dipeluk oleh Lanty dari belakang, tubuhnya seutuhnya tidak bisa bergerak. Salah satu tangan Lanty telah memijat dadanya sementara tangan lain telah masuk ke dalam celananya.
Itu mengambil sudut tertentu hingga Nisa terus mengeluarkan suara bergairah.
"Jangan khawatir aku akan melakukannya dengan baik."
Nisa terus menerima stimulan yang mengerikan itu, telinganya bahkan telah basah oleh bibir hingga kepalanya tidak bisa berpikir dan ketika dia terus terengah-engah tangan Lanty telah masuk ke dalam mulutnya.
Nisa tidak bisa melakukan apapun lagi kecuali lidahnya bermain-main dengan tangan tersebut, wajahnya merah merona.
"Ini sangat memalukan, aku belum tahu ada teknik seperti ini."
Ketika Lanty asik dengan tindakan senonohnya, Sui yang telah bangun memukul wajahnya hingga dia menukik tajam menembus dinding.
"Sakit," teriaknya.
Nisa terkulai lemas dengan keringat yang membasahi tubuhnya.
Melihat itu Sui lebih kasihan padanya.
"Kau baik-baik saja?"
Nisa tidak bisa menerka perkembangan alur ini.
"Ah ya."
__ADS_1
"Maafkan aku, orang itu seorang lesbi.. saat dia melawan wanita dia lebih suka menggunakan cara barusan, sungguh aku minta maaf."
Melihat bagaimana musuhnya membungkuk ke arahnya, Nisa tambah bingung.
"Kamu tidak sopan telah menghentikan pertarunganku barusan."
"Pertarungan apaan bego? Sudah kukatakan kau tidak boleh melakukan hal barusan."
"Tapi aku tidak tahan."
"Ampun, padahal saat aku melawan gadis ini terlihat keren."
Tak lama kemudian burung-burung berterbangan di atas kota, dan Roy muncul di dekat ketiganya.
"Pertarungan dihentikan, kalian diminta untuk datang ke guild, Nisa apa yang terjadi denganmu?"
"Aku tidak ingin mengatakannya, nanti aku menyusul."
"Baiklah."
Orihime hanya menggunakan ekornya dan itu sudah cukup memblokir serangan termasuk pedang yang terbang mengincarnya.
Ketika mereka terus bertukar serangan seekor elang muncul lalu mendarat di bahu Ardhi, itu juga cukup untuk membuat Orihime menghentikan dirinya untuk menunggu.
Ardhi membaca isinya lalu menatap ke arah musuhnya.
"Keempat raja surgawi sudah kamu tahan, sebaiknya kau menyerah."
"Tidak mungkin, mereka kuat aku tidak yakin bahwa mereka bisa kalah."
"Tapi begitulah hal yang ditulis di sini."
__ADS_1
Setelah Orihime membacanya wajahnya memucat.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka?"
Ardhi membawa Orihime ke ruangan Eve dan ia menemukan bahwa para pelayannya sedang duduk santai selagi meminum teh.
"Eh?"
"Kalian sudah datang rupanya duduklah," kata Eve.
Di ruangan itu juga ada kelompok Yumi dan Nisa.
"Kau baik-baik saja Nisa?"
"Aku tak apa, tapi rasanya aku kehilangan sesuatu yang berharga."
Lanty tertawa menanggapinya sedangkan Ardhi memiringkan kepalanya tidak mengerti.
"Jadi apa yang kalian inginkan manusia?"
"Aku dengar bahwa kalian membuat kesepakatan dengan sekte untuk mengambil pahlawan di kota ini?"
"Benar, mereka bilang akan memberikan wilayah untuk para ras iblis hidup... semenjak tiga kerajaan menang peperangan kami diusir dari wilayah pohon besar."
Eve berdeham sekali sebelum melirik ke arah Ardhi yang memasang wajah bermasalah dia sudah tahu apa yang dipikirkannya.
"Sebenarnya wilayah pohon besar telah menjadi wilayahku."
Mendengar itu semua orang terkejut, untuk menengahi tiga kerajaan bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan dengan mudah, apalagi menyangkut para elf yang disebut paling arogan.
Ardhi melanjutkan.
__ADS_1
"Jika kalian tidak keberatan, aku akan memberikan wilayah kalian lagi yang ada di barat dengan satu syarat bahwa kalian bisa menjaga perdamaian, anggap saja ini kesepakatan baru untuk kalian."
Keempat raja surgawi bersujud ke arah Ardhi untuk mengucapkan terima kasih, sementara Orihime tidak tahu apa yang harus diperbuat.