Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 16 : Florentine


__ADS_3

Jatah makanan yang mereka dapatkan adalah sebuah sup jamur dengan daging di dalamnya serta roti, walau makanannya sederhana itu tetap terasa enak dimakan di udara yang dingin menjelang malam.


"Berpetualang dengan kalian memang menyenangkan, aku pikir kelompok ini akan membosankan tapi menyenangkan juga."


"Syukurlah jika kau merasa begitu nyan... hanya tahu saja, beberapa petualang pria begitu iri dengan kelompok kita."


"Sebenarnya lebih tepat jika mereka hanya iri padaku," ucap Ardhi lemas.


Saat di kota dia bisa merasakan tatapan menusuk padanya.


Latifa tersenyum selagi membusungkan dadanya.


"Ardhi hidup dengan penuh Harem."


"Itu terdengar bahwa aku memang sengaja melakukannya."


Mery menambahkan.


"Setiap pejantan selalu menarik banyak betina kudengar pria seperti itu bisa kawin dengan banyak betina di waktu bersamaan."


"Jangan menganggap hidupku seperti seekor singa."


Mereka semua tertawa sedangkan Ardhi menjatuhkan bahunya lemas. Selesai makan mereka hanya mengobrol ringan sebelum tidur dan keesokan paginya mulai mengitari untuk mengawasi situasi di sekeliling desa.


Mereka harus memastikan dulu bahwa desa ini benar-benar aman sebelum mereka pergi, Nisa memanjat pohon dengan cepat untuk mengawasi dari atas.


Orang bilang tempat tinggi adalah tempat yang cocok untuk pengintaian.


"Aku sangat penasaran, bukannya kau ini penyihir tapi kau sama sekali tidak menggunakan apapun selama kita bertarung," perkataan Latifa itu dilimpahkan kepada Purin yang berada di sampingnya.


"Ini hanya penampilanku saja, bukannya pria suka penyihir yang berpenampilan terbuka."

__ADS_1


"Jadi cuma cosplay kah, Mery apa kau ingin mengenakan gaun sepertinya?"


"Bagaimana mengatakannya tapi aku tidak benar-benar mau menunjukan bagian bawahku pada orang lain."


Sebuah panah menusuk hati Purin.


"Benar juga, aku juga tidak ingin melakukannya.. hanya orang-orang yang tidak tahu malu yang melakukannya."


Panah yang lain menusuk hati Purin.


"Berhentilah menyerangku secara mental, ini tuntutan pekerjaan, pekerjaan."


Ardhi memilih untuk mengabaikannya selagi memeriksa Nisa yang telah sampai di bagian puncaknya. Dia meletakkan tangannya membuat sesuatu seperti sebuah teropong.


"Aku menemukan sesuatu, ada seseorang di sana!"


"Seseorang?"


Ia memegangi tangan kanannya yang terputus selagi membuka matanya secara perlahan.


"Kalian semua?"


"Dia terluka parah."


Latifa segera menggunakan sihirnya untuk menyembuhkannya.


"Berikan tanganmu."


"Baik, tapi apa yang akan kau lakukan dengan itu?" katanya dengan nada datar seperti biasanya.


"Tentu saja menyambungnya kembali."

__ADS_1


Ini adalah sihir yang tidak bisa dilakukan sebarang orang, paling tidak sejauh ini di kota Georginia hanya Latifa yang bisa menggunakannya.


"Dewi Cahaya Herina, tolong sembuhkanlah Heal."


"Ugh... tanganku kembali menyatu lagi."


"Bagaimana apa kau bisa menggerakkannya?"


"Iya, terima kasih."


"Sesuai yang diharapkan dari Latifa, kau memang kebanggaan kita nyan."


"Tentu saja."


Purin tidak bisa menahan keterkejutannya.


"Barusan, apa barusan itu keajaiban, aku baru lihat tubuh manusia bisa disambung kembali."


Untuk Purin yang di masa lalunya sering berpergian pun merasa jarang untuk melihatnya.


Ardhi mengulurkan tangannya untuk membantu wanita Elf tersebut.


"Kami masih belum tahu namamu?"


"Maafkan aku, namaku Florentine seperti yang kalian lihat aku Elf."


"Aku Ardhi dan juga..."


Semua orang bergantian memperkenalkan dirinya. Florentine mengatakan bahwa manusia mungkin membencinya karena itulah dia sebelumnya tidak memperkenalkan dirinya.


Ardhi menyadari bahwa Florentine tidak membawa pedangnya lalu tiba-tiba saja sebuah raungan terdengar jauh dari dalam hutan.

__ADS_1


__ADS_2