
Menyelimuti dirinya dengan petir hitam, Ardhi melompati bebatuan tinggi di sekitar lantai 3, seharusnya anggota partynya sudah keluar dan sekarang mereka pasti sudah bersiap-siap untuk menghabisi laba-laba yang kini tengah mengamuk dengan ganas.
Efek sihir Buff Latifa telah habis membuat Ardhi harus secara susah payah menghindari dengan kemampuannya sendiri.
Satu kaki baru saja menghantam perutnya.
Dia memuntahkan darah dengan erangan sebelum terlempar sejajar dengan tanah.
(Ardhi kamu tidak apa-apa?) tanya dewi.
(Tak masalah, aku melindungi diriku dengan sihir untuk menimalisir serangannya)
(Ya ampun, aku sangat khawatir denganmu. Jangan mati)
(Tentu saja)
Laba-laba itu melompat ke atas untuk menindih Ardhi, dia berguling kemudian memberikan sedikit sayatan sebelum berlari naik ke lantai 2, berkat mereka yang sebelumnya menghabisi laba-laba di setiap lantai perjalanan kembali terasa lebih mudah.
Ardhi melompat saat sebuah mulut mencoba melahapnya dari bawah, laba-laba ini jelas sangat marah bagaimana dia tanpa pandang bulu melahap apapun yang masuk ke dalam mulutnya sesekali ia menyemburkan zat asam yang melelehkan bebatuan.
Dengan nafas tergesa-gesa Ardhi kembali berlari, di lantai satu ia bisa melihat cahaya yang keluar dari mulut gua.
Setiap langkah kakinya meninggalkan darah segar di belakangnya, tidak ada waktu untuk berhenti jika dia lengah ia bisa mati kapan pun.
Ia berhasil keluar lalu melihat bahwa setiap orang telah menunggunya, Latifa memeluknya erat hingga wajah Ardhi tenggelam di dadanya.
"Ugh, Latifa aku baik-baik saja."
__ADS_1
"Aku yang tidak baik-baik saja, aku khawatir."
Dari mulut gua ledakan menggema ke udara, Risa telah bersiap dengan lingkaran sihir yang sebelumnya dia tunjukkan di lantai akhir yang muncul di atas tubuh laba-laba.
"Atomic Strike."
Api dijatuhkan dari lingkaran sihir yang dibuatnya, yang dengan tepat mengenai tubuh laba-laba dengan kecepatan tinggi, begitu panasnya hingga semua orang bisa merasakan api merah yang membumbung tinggi tersebut.
Setelahnya hanya tercipta sebuah kawah raksasa dengan pasir yang gosong, setelah menyarungkan kembali pedangnya Ardhi berseluncur untuk masuk ke dalam kawah dan di sana ia menemukan tiga kristal yang tergeletak rapih.
Pekerjaannya telah selesai.
Di saksikan semua orang, tiga kristal ditempatkan kembali di bawah patung Dewi Naya, bersamaan itu air keluar dari bola yang dipegang oleh patung tersebut dan secara perlahan memenuhi kolam air tersebut.
Semua orang segera berdesak-desakan, Anastasia turut menjadi orang yang menenggelamkan kepalanya ke air.
"Apa dia akan kembali bisa melihat nyan?"
"Mungkinkah aku akan tumbuh lebih tinggi saat meminumnya juga desu."
"Itu tidak mungkin, bukannya dari awal kau memang cebol," balas Latifa.
"Mungkin saja tubuh kecilku adalah kutukan, Mery masukan aku ke dalam air."
Mery tanpa ragu melemparkannya ke dalam kolam, tidak ada yang berubah darinya kecuali pakaiannya yang basah.
Dia meletakkan tangannya di dadanya selagi memainkan ujungnya yang kecil.
__ADS_1
"Ini juga tidak tumbuh. Kurasa gagal, hmm aku akan mengeringkannya dengan sihir api."
"Sihir memang praktis," tambah Purin.
Anastasia mengeluarkan kepalanya dan semua orang bisa melihat matanya yang berwarna biru cerah.
"Ah, aku bisa melihat lagi."
"Berapa jari yang kutunjukan nyan."
"Jangan mengacungkan jari tengah padaku."
"Aku cuma bercanda kau tahu, ini lelucon petualang.. para pria selalu menunjukannya pada para gadis."
"Sebaiknya kau tidak meniru hal seperti itu," ucap Mery.
Pemilik tanah kota mendekati Ardhi untuk mengucapkan terima kasih, ia juga memberikan hadiah yang dijanjikan.
"Walau airnya sudah kembali aku masih tidak bisa mengingat sosok patung tersebut."
"Kurasa itu tidak apa, aku yakin suatu hari kalian akan bisa mengingatnya lagipula ia sosok yang berharga untuk semua orang."
(Aww.. aku dibilang sosok berharga oleh Ardhi, ini artinya pelaminan)
"Apa menurutmu begitu?"
Ardhi hanya menjawab dengan anggukan.
__ADS_1
"Sebaiknya taruh banyak penjaga juga untuk melindunginya agar tidak dicuci lagi."
"Aku mengerti."