Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 57 : Bertemu Dewi Lagi


__ADS_3

Setiap jeruk masing-masing diberikan pada anggota partynya.


"Ini pertama kalinya aku melihat jeruk nyan, rasanya enak dan menyegarkan."


"Benar, walaupun ada sedikit asam-asamnya desu."


"Kita akan menanam buah-buahan ini di hutan besar meskipun kita juga akan menanam hal lainnya nantinya."


"Aku bisa melihat berapa banyak uang yang dihasilkan dengan ini."


"Latifa bukannya kau kini sedikit serakah."


"Aku perlu uang juga untuk didonasikan ke gereja."


"Mungkin kau lupa karena asik berbelanja nyan."


"Dari mana kau tahu?"


"Hanya tebakan nyan."


Ardhi memutuskan untuk berjaga sedangkan yang lainnya telah tidur di tenda. Ketika gilirannya tiba ia menemukan dewi di depannya.


"Dewi Naya?"


"Hari ini aku tidak berbicara denganmu karena itulah hanya ini kesempatanku untuk mengobrol."


"Jangan bilang Anda sangat kesepian."


"Tentu saja aku kesepian hanya Ardhi saja yang bisa aku temui, tolong hibur aku dengan pelukan."


"Menjauh dewi, dadamu menekanku."


"Kamu bisa bermain dengan itu."

__ADS_1


Adhi menjatuhkan wajahnya di meja dengan lelah, sementara orang yang yang tidak bersalah dengan perbuatannya, hanya dengan santai meminum teh di tangannya.


"Semuanya sudah berjalan lancar, dengan ini kelompokmu memiliki peran penting di tiga kerajaan."


"Walaupun aku harus menjual 15 persen ke masing-masing kerajaan," kata Ardhi lemas.


"Bukannya itu bagus, meski 15 persen mereka tetap akan membayarnya."


"Aku pasti memerlukan banyak pegawai."


"Soal itu mudah.. kamu bisa mempekerjakan budak seperti sebelumnya atau merekrut orang-orang tidak beruntung untuk membantu."


"Kalau para budak kurasa aku sudah membelinya."


"Ah benar, bukannya ras kucing seperti Nisa juga bisa... mereka selalu bekerja di distrik lampu merah, aku pikir kamu harus membuat mereka keluar dari bisnis seperti itu."


Ardhi memikirkannya sejenak.


"Aku sering mengawasi dunia tersebut aku pikir ini karena Dewi Herina yang jahat."


"Anda tidak mencoba untuk memfitnahnya bukan?"


Ardhi menyipitkan matanya sementara Naya mengalihkan pandangannya sembari berdeham sekali.


"Tentu saja tidak, aku mengatakan hal sebenarnya," balasnya selagi menempatkan tangan di dadanya percaya diri sebelum melanjutkan.


"Ras kucing sebelumnya adalah ras terkuat karena itulah kekuatan mereka memungkinkan untuk membahayakan dunia, agar tidak terjadi hal seperti itu, ia menyegel kekuatan mereka dan menjadikannya seperti manusia biasa.


Itu jelas tidak tergolong sesuatu yang jahat. Namun,


"Karena kekuatan mereka disegel desa Nisa juga dihancurkan?"


"Itu takdir sebaiknya jangan menutut balas dendam pada Herina."

__ADS_1


"Aku tidak berniat seperti itu."


Naya melirik ke arah Ardhi lalu mengangguk kecil untuk mengkonfirmasi bahwa perkataan itu benar adanya.


"Meski disegel bukan berarti mereka tidak bisa bertarung."


"Benar, para kucing hanya merasa malas setelah kehilangan kekuatan mereka beberapa dari mereka malah bekerja di prostitusi."


Ardhi menghela nafas panjang, dia tidak ingin terlibat dengan tempat seperti itu namun jika ia ingin mengubah pikiran semua orang terhadap ras kucing maka ia harus melakukannya.


Alih-alih untuknya ini semua untuk Nisa, saat bertemu dengannya ia juga memiliki impian agar ras kucing tidak dipandang sebelah mata.


Ardhi memasukan dua gula kubus ke dalam cangkirnya sebelum meminumnya.


"Aku tidak berfikir dari mana dewi mendapatkan teh yang enak ini?"


"Ini hanya mimpi jadi aku bisa menciptakan apapun yang kuinginkan."


"Jelas sekali."


"Kalau ada permintaan silahkan saja?"


"Boleh aku minta roti lapis."


"Itu mudah."


Ardhi menemukan beberapa roti di dekat cangkir tehnya.


"Ini enak."


"Fufu."


Keduanya hanya menghabiskan waktu dengan obrolan ringan.

__ADS_1


__ADS_2