Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 50 : Kenyataan Pahit


__ADS_3

"Kamu malah memutuskannya sendiri Ardhi."


"Maafkan aku, aku hanya tidak bisa memiliki waktu banyak tentang itu."


Di ruangan pribadi milik Eve, Ardhi menceritakan apa yang telah dia sepakati dengan kerajaan demi-human. Bagi Ardhi itu kesepakatan yang bagus untuk membuat tiga kerajaan bisa berdamai namun bagi Eve yang sepenuhnya bertanggung jawab untuk keamanan kota merupakan hal merepotkan.


Khususnya soal keberadaan elf yang nanti akan masuk ke dalam kota ini, jika elf dari luar ia merasa itu tidak masalah namun jika elf dari kerajaan Prista merupakan cerita lain.


Mereka mungkin akan membuat kekacauan atau mungkin lebih dari itu menjadi sebuah peperangan.


Meski begitu.


Dia ingin berusaha mempercayai sosok di depannya.


"Baiklah, aku akan mengurus semuanya tapi lain kali pastikan untuk memberitahu dulu sebelum mengambil keputusan."


"Terima kasih banyak," balas Ardhi membungkukan badannya sebelum akhirnya keluar guild.


Dia harus segera kembali untuk beristirahat, bagaimana pun perjalanannya adalah sesuatu yang melelahkan.


Ketika dia membuka pintu para penghuni mansion menyambutnya dengan sebuah potongan kertas dan sorak sorai.


Rasanya seperti sedang ulang tahun, gumamnya demikian.


"Selamat datang kembali tuan."


Terlepas dari apapun, bagi Ardhi rasanya sangat membahagiakan jika ada seseorang menunggunya kembali.

__ADS_1


"Aku pulang."


Satu hari setelahnya, Carmen masuk ke ruangan Ardhi untuk melaporkan hasil penjualan toko, dia sedikit terkejut saat melihat seorang gadis kecil yang baru masuk ke rumah ini tampak akrab dengan Ardhi.


"Tuan seharusnya anak ini dikirim ke panti asuhan, aku yakin mereka akan senang."


"Kau benar-benar tidak menyembunyikan niat untuk menyingkirkanku desu."


Carmen membuang wajah begitu juga Risa. Seiring waktu Adhi harap mereka berdua bisa akrab.


"Terima kasih atas kerja kerasnya Carmen."


"Bukan masalah, tapi tuan sepertinya setengah dari penjualan kita kebanyakan diminta oleh distrik lampu merah, aku pikir bisnis kita malah lebih populer di sana."


"Sepertinya itu wajar karena di sana banyak diisi wanita, mereka cenderung suka yang manis-manis."


"Tuan memang sangat perhatian... mungkin para bangsawan cenderung meremehkan cokelat kita karena harganya murah, mereka cenderung memiliki ego tinggi."


"Cokelat premium, padahal menurut saya cokelat kita sudah sangat enak."


"Aku tidak mengatakan cokelatnya tapi kemasannya, mari buat pembungkus dari emas dan bilang bahwa itu cokelat premium."


Carmen memikirkannya.


"Jika tuan melakukannya mungkin Anda akan dianggap penipu dan itu cukup berbahaya jika ada beberapa yang berniat menjatuhkan."


"Kalian berdua sebenarnya ngomongin apa dari tadi desu."

__ADS_1


"Kau diam saja tak perlu ikut campur."


"Dasar Pelit."


Ardhi memiliki sedikit ide untuk mengubah resep cokelatnya.


"Mari masukan kacang ke dalamnya dan itu akan sedikit berbeda dari yang biasa kita jual."


"Dimengerti, aku akan membuatnya dalam waktu dekat."


"Terima kasih."


Keduanya hanya melihat kepergian Carmen dari tempat mereka duduk.


"Ngomong-ngomong Ardhi, apa kita tidak pergi berpetualang desu? Sebagai petualang aneh jika kita tetap berada di kota."


"Sampai masalah dengan tiga kerajaan selesai kita akan libur."


"Apa? Lalu bagaimana aku bisa mengeluarkan sihirku desu, aku punya penyakit gatal-gatal jika tidak menembakan sihir satu sampai dua kali dalam sehari."


"Memangnya ada penyakit seperti itu, tapi mari pergi ke rumah guruku mungkin kau bisa mengeluarkannya di sana."


"Kedengarannya bagus."


Ketika Ardhi akan bangkit, dia dipotong Eve yang melangkah lebih dulu masuk ke ruangannya.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Aku lupa bilang, gurumu master Shen sudah meninggal satu hari sebelum kalian kembali."


Keheningan terasa memenuhi ruangan tersebut.


__ADS_2