
Seratus persen sama saja dengan tak terkalahkan.
"Ardhi-chan bagaimana menurutmu?"
"Orang itu mungkin memiliki keberuntungan tinggi atau benar-benar curang."
"Pastinya."
"Siapa pemuda ini, dia terlihat menjanjikan."
"Namanya Ardhi-chan, ia petualang yang sedang naik daun belakangan ini."
"Ardhi-chan?"
"Aku akan lebih berterima kasih jika kau tidak menambahkan Chan di belakang namaku."
Roy tertawa kecil sementara Adaline tersenyum tipis lalu kembali ke topik pembicaraan.
"Dia ahli dalam pertarungan kartu, aku harap kalian bisa mengalahkannya atau paling tidak membuka kecurangannya."
"Dimengerti."
Pada sore hari orang yang dimaksud telah muncul di dalam rumah perjudian ini, dia seorang pria tua dengan rambut telah memutih sementara di sampingnya adalah pria lain sebagai pengawal.
Ada sebuah meja luas yang disediakan di tempat ini untuknya.
Adeline menyambut keduanya untuk duduk sementara Roy telah duduk lebih dulu dengan Ardhi, tentu saja banyak penonton di sekelilingnya juga yang turut memperhatikan.
"Kuharap hari ini kalian tidak menahan diri lagi dalam bertaruh."
"Tentu saja tuan, hari ini kami akan bertaruh dengan harga tinggi bahkan kami juga mengundang orang-orang ternama dari wilayah lain."
__ADS_1
Tak hanya Roy ada tiga orang lagi yang turut ambil dalam perjudian ini, dua adalah pria dan satu lagi wanita kucing dengan dua ekor putih di belakangnya, masing-masing dari mereka adalah orang kaya di bidangnya.
Si wanita memperkenalkan dirinya.
"Namaku Liwei, aku adalah pemilik wilayah distrik lampu merah, sungguh sebuah kehormatan bahwa nyonya Adaline mengundang saya juga dalam pertaruhan besar ini."
"Aku juga merasa terhormat Anda mau menerima tawarannya."
Yang lain juga turut tersenyum, dalam hati Ardhi menamai musuh Adaline sebagai pria penjudi satu dan pengawalnya, pria penjudi dua, pria penjudi tiga dan wanita kucing.
Roy tampak menahan kegugupannya.
"Ardhi-chan... sekarang aku merasa tidak percaya diri, apa kita akan baik-baik saja?"
"Tak masalah, permainan seperti ini hanya untuk anak kecil."
"Apanya yang anak kecil? Kita bertaruh koin emas di sini."
Adaline sendiri yang menjadi pengocok kartu, dia yang bertugas memberikan kartu ke setiap orang.
Satu persatu kartu telah dibagikan ke setiap orang.
"Silahkan tuan Roy."
"Aku bertaruh 1000 koin emas."
Itu sudah cukup membuat seseorang memekik terkejut namun bagi orang yang duduk di sini mereka bersama-sama berkata 'Ikut" lalu menambahkan taruhannya 1000 emas kembali.
Setelah beberapa saat semua orang mulai menunjukkan kartunya dan di saat yang sama Roy menang dengan Royal Flush.
"Hoh, sepertinya nona Adaline menemukan orang yang cukup ahli dalam hal seperti ini," ucap si wanita kucing.
__ADS_1
"Aku percaya diri dengan pilihanku."
Si penjudi dua dan tiga mendengus kasar, sedangkan penjudi satu tampak tersenyum.
Dia jelas sengaja mengalah untuk mendapatkan ikan yang lebih besar.
Adaline menyapanya.
"Ya ampun, ini pertama kalinya Anda kalah, persentase Anda kini menurun."
"Sepertinya begitu haha mungkinkah ini bukan hari keberuntunganku namun aku suka sekali bertaruh karena itulah permainan ini harus berlanjut."
"Anda selalu luar biasa."
Ardhi menganalisa bagaimana semua orang bersikap, sejauh ini tidak ada kecurangan sedikipun. Roy menang dua kali dan kalah tiga kali, yang lain juga memiliki kemenangan dan kekalahan sama rata.
Ardhi berbisik pada Roy.
"Sebaiknya kau juga sedikit memancingnya?"
"Kurasa begitu."
Roy berdeham sekali.
"Ngomong-ngomong tuan, saya mendengar bahwa Anda sering datang kemari untuk bermain, boleh saya tahu alasannya?"
"Apa kamu tertarik dengan itu."
"Benar."
Diam-diam Ardhi tersenyum kecil.
__ADS_1
Pertanyaan barusan bukanlah yang diinginkan Ardhi, melainkan pertanyaan yang selama ini ditunggu penjudi satu.
Ardhi hanya ingin mengikuti arus yang dibuat musuhnya untuk menjatuhkannya dengan satu pukulan besar.