
"Membaralah, Hell fire."
Melalui sihir Nisa, akar yang menyerang mereka langsung terbakar, Ardhi, Mery dan juga Latifa berlari ke depan menerobos maju.
Latifa berhenti untuk memunculkan tongkat di tangannya lalu merapalkan sihir pendukung.
"Blessing."
Itu meningkatkan statistik seseorang dua kali lipat termasuk keberuntungan, akar yang berjumlah lebih banyak mulai menyeruak dari dalam tanah. Beberapa menyatukan dirinya seperti sebuah bor raksasa yang ditahan baik oleh Mery walaupun tubuhnya terdorong sejauh beberapa meter ke belakang.
Nisa muncul di atasnya lalu dengan gerakan zig-zag memotongnya beberapa bagian. Ardhi di sisi lain melakukan hal sama hingga tak lama kemudian pohon-pohon di sekeliling mereka ikut bergerak juga dengan memunculkan kaki, tangan serta mulut.
"Nisa lakukan sihir api yang kau tunjukkan sebelumnya," teriak Latifa dari belakang.
"Mustahil, sihir itu hanya bisa digunakan satu kali... aku belum terbiasa menggunakannya."
"Ini akan merepotkan."
Pedang Ardhi yang sejak tadi bertarung sendiri kembali tersarung di pinggangnya kini ia hanya memakai satu pedang di tangan, ia kemudian menggunakan dua tangannya untuk memeganginya.
"Ardhi?" panggil Nisa.
"Lebih cepat jika dengan cara ini."
Dari tubuh Ardhi petir hitam mulai menyebar ke segala arah, tanah pijakannya merebas beberapa sentimeter ke dalam sebelum melesat dengan kecepatan tinggi.
Nisa maupun Mery segera memegangi rambutnya yang berkibar, sementara seluruh tanaman yang dilewati Ardhi sudah terpotong-potong ke udara.
Purin yang melihat gerakan itu, memandang dengan tatapan berbinar.
"Hebat sekali, ini kekuatan Ardhi yang baru."
__ADS_1
Ardhi meletakkan tangannya di pohon paling besar dan ketika dia menyalurkan mananya, pohon yang menyerang mereka berhenti bermunculan.
Semua orang mengikuti Ardhi untuk mendekat dan melihat bahwa pohon besar itu mulai mengeluarkan sesuatu dari batangnya.
Itu adalah tubuh seorang gadis kecil telanjang dengan rambut putih panjang. Jika dilihat sekilas dia setinggi Lila putri dari Carmen.
Ardhi menangkapnya dengan baik di tangan.
"Kau pasti bercanda nyan, apa dia Risa yang kita lihat di dalam mimpi."
"Ini juga mengejutkan, coba lihat baik-baik."
Latifa menyibak rambutnya dan jelas sekali ia memiliki telinga runcing.
"Dia seorang elf," gumam pelan Mery sebelum Latifa mengalihkan pertanyaan pada Purin.
"Apa kau pernah melihatnya sebelumnya?"
"Benar juga."
Mendengar keributan itu, Risa membuka matanya.
"Kalian melakukannya dengan baik desu, aku bebas kan."
Semua orang mengangguk kecil.
"Aku telanjang desu, boleh minta sesuatu untuk menutupi tubuhku."
Ardhi memberikan mantelnya setelah menurunkannya di tanah, tentu ukurannya terlalu besar untuknya.
"Yah, aku sangat berterima kasih desu, mulai sekarang aku akan mengikuti kalian sebagai anggota party apa tak masalah."
__ADS_1
Tak hanya penampilannya, gaya bicaranya juga terdengar lucu untuk orang yang telah hidup lebih lama dari siapapun.
"Karena sudah menyelamatkannya, maka tidak apa untuk merekrutnya juga."
Semua orang setuju dengan perkataan Latifa.
"Kami memerlukan seorang mage, apa kau bisa melakukannya nyan?"
"Sihir mudah bagiku desu."
Risa meletakan tangannya di pohon yang sebelumnya telah menyegelnya, tak lama kemudian pohon itu segera membeku dari ujung ke ujung lainnya.
Semua orang terbelalak.
"Oh, aku lupa... aku juga bisa menggunakan elemen lainnya walaupun tak sekuat elemen esku."
"Kau monster nyan."
Semua orang nyaris mengiyakan perkataan Nisa tersebut.
"Kapan esnya akan mencair?" tanya Ardhi.
"Esku tidak akan pernah mencair desu, itu abadi."
"Sekarang aku mengerti salah satu alasan kenapa kau disegel."
Risa memiringkan kepalanya layaknya gadis polos sampai Latifa memotong.
"Kami akan pergi ke kerajaan demi-human, sebaiknya kamu menyembunyikan telingamu sementara waktu."
"Dimengerti."
__ADS_1
"Ada kota setelah melewati hutan ini, mari beli beberapa pakaian untuknya," ucap Ardhi demikian.