Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 52 : Pelayan Baru


__ADS_3

"Meksi begitu aku yakin Ardhi lebih kuat."


"Siapa desu?" Risa maupun Nemesis mengalihkan pandangan ke arah sebelah mereka yang tiba-tiba muncul seorang berzirah besi. Ia membawa pedang besar serta perisai sementara kepalanya tertutup helm yang menyerupai sosok naga


"Apa maksud kalian, aku Mery."


Keduanya sontak terkejut, sebelumnya Mery sudah terlihat berat dengan peralatannya dan sekarang dia semakin tertutup besi. Mungkin ini yang dimaksud dengan ada sesuatu yang ingin dibelinya?


Latifa dan Nisa kemudian muncul dengan penampilan biasanya.


"Wanita elf itu lagi."


"Sepertinya itu menjadi pertarungan yang menyenangkan nyan."


Risa menjelaskan.


"Mereka berdua sedang memperebutkan Nemesis, jika Ardhi kalah Nemesis akan kembali ke kerajaan elf sementara jika elf itu kalah dia akan jadi pelayan baru desu."


"Jadi begitu nyan."


Kembali ke arah pertarungan, Ardhi memberikan tebasan dengan cepat setelah memosisikan diri bertahan selama ini, celah yang diberikan lawannya sama sekali tidak ada. Itu merupakan sebuah kemampuan yang jelas ditempa dari medan perang yang tak terhitung jumlahnya.


Trang Trang Trang Trang.


Percikan menyembur ke udara di saat pipi Ardhi sedikit tergores.


"Sudah kuduga kau memang kuat Ardhi," kata Florentine masih dengan nada datarnya.


"Tidak bisakah kau menyerah, Nemesis sudah nyaman tinggal di sini. Aku hanya ingin kau membiarkannya seperti itu, jika soal pelayan aku tidak terlalu memikirkannya jadi kau bisa melupakan perjanjiannya."


"Tidak, apapun yang kau katakan aku tidak akan menerima kondisi seperti itu."

__ADS_1


Keduanya saling tertahan satu sama lain dengan pedang di tangan mereka sebelum melompat mundur.


"Kalau begitu aku akan sedikit serius."


"Itukah yang kuinginkan."


Ardhi secara perlahan mengeluarkan beban yang selama ini dia lekatkan di tubuhnya, ia satu persatu menjatuhkannya ke tanah menciptakan ledakan kehancuran di sana.


Melihat itu, Florentine mengerenyitkan alisnya.


Ardhi sudah cepat dengan beban seperti itu, jika dia melepaskannya itu membuat kekuatannya terlihat berlipat ganda. Dia melesat maju dan sebelum semua orang bisa menyadarinya pedang Florentine terlempar ke udara bersama dirinya yang bersalto di atasnya.


Ardhi menangkapnya dipelukannya.


"Kau tak apa?"


"Sepertinya aku kalah... ini pertama kalinya seseorang mampu mengalahkanku."


"Aku sudah tidak aneh lagi nyan, kau tidak marah Latifa?"


"Mau bagaimana lagi Ardhi memang mempesona, aku tidak bisa menghalangi siapapun untuk mendekatinya."


"Kau jadi terlihat dewasa nyan."


Nemesis tampak menangis lalu melompat ke arah Ardhi dengan wajah memerah.


"Tuan, Anda menyentuh dadaku."


"Ah, maafkan aku."


Ardhi bisa merasakan bagaimana tangannya dimanjakan dengan kelembutan.

__ADS_1


"Nona Nemesis apa Anda yakin bahwa tidak terjadi apapun dengan kalian berdua?"


"Heh? Tidak ada, aku belum melakukan apapun."


"Anda terdengar seperti akan melakukannya."


Dia depan semua orang Ardhi memperkenalkan Florentine sebagai pelayan barunya, walau Ardhi menolak taruhannya tetap saja dia menolak. Karena tidak ingin menodai harga dirinya akhirnya Ardhi sendiri yang memilih menyerah.


Lila memeluk kakinya.


"Kakak elf yang keren."


"Gadis imut."


"Ara, sebagai ibu aku sedikit iri bahwa putriku lebih mengaguminya."


"Jika dipikirkan lagi, tidak ada sikap yang bisa dikagumi darimu."


"Lynn kejam."


"Yah, aku hanya mengatakan hal sebenarnya."


"Terkadang kejujuran sangat menyakitkan."


Mira yang melayang di dekat Ardhi sedikit memberikan komentar.


"Jadi semakin ramai di sini, ini jauh lebih menyenangkan, entah kenapa aku sudah tidak kesepian lagi."


Ardhi merasa lega bahwa Mira berfikir demikian. Karena dia hantu kemungkinan besar banyak orang yang lari sebelum mereka mengenalnya.


Risa yang duduk di pangkuan Ardhi menyeringai.

__ADS_1


"Apa kau takut ratu?" katanya dengan nada mengancam.


__ADS_2