Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 67 : Pemanah Jitu


__ADS_3

Menyadari bahwa serangan panahnya telah gagal seorang yang bergelantungan di atas bangunan, menghela nafas dalam.


Dia mengenakan seragam militer dengan bintang empat, dengan rambut pirang sebahu, tentu dia berasal dari ras iblis sama dengan seorang wanita lainnya yang berdiri untuk memperhatikan.


Berbeda darinya wanita itu memiliki dada yang lebih berisi serta memiliki rambut coklat panjang yang tergerai sampai pinggul. Di bahunya terdapat bintang tiga.


Dia bertanya pada wanita sebelumnya.


"Bagaimana Sui?"


"Gagal, seseorang menangkap panahku sebelum mengenai targetnya, dan sekarang Alcott yang mengatasi semuanya."


"Kalau begitu biarkan saja, kita akan mengatasi yang lainnya."


"Apa boleh buat, ada seekor kucing yang sedang berlari kemari, apa kau ingin mengatasinya Lanty."


"Aku hanya ingin melawan pria, kuserahkan padamu."


"Dasar, kau benar-benar pilih-pilih."


Sementara Lanty sudah melompat ke bawah dan menghilang, kucing yang dimaksud keduanya telah berada di hadapan Sui.


"Kau terlihat sangat tenang nyan."


"Tentu saja, ras kucing sangatlah lemah mereka tidak akan bisa membuatku melakukan hal serius."


Sebelum Sui menyelesaikan perkataannya, kilatan dari bilah tajam bersinar di depan wajahnya. Ia secara reflek melompat mundur ke bangunan di sebelahnya.


"Bikin kaget, ras kucing sangatlah licik."

__ADS_1


"Masih banyak yang akan kutunjukan dari sekarang nyan."


Sui mengerenyitkan alisnya kemudian menarik busurnya untuk menembakan rentetan anak panah yang dihindari Nisa dengan berlari ke samping.


"Sayang sekali menghindar tidak akan cukup," katanya.


Panah yang sebelumnya jatuh, naik ke atas kemudian kembali menyerang keberadaan Nisa. Itu semacam sihir pengendalian yang memungkinkan menggerakan panah walaupun dalam posisi diam.


Nisa memblokir beberapa melalui belati kembarnya sebelum bersembunyi di balik bangunan.


Di saat yang sama Sui telah menciptakan panah dengan dialiri sihir angin.


"Kena kau!"


Panah ditembakan dan itu menghasilkan lubang besar di sebuah bangunan yang digunakan Nisa untuk bersembunyi, tangannya sedikit terkikis dengan darah mengalir di sana.


"Kau bisa menghindarinya, sepertinya ini lebih menarik."


Sui dengan tidak sabaran menjilat ujung bibirnya dan kembali menembakan panahnya kembali hingga menciptakan ledakan besar setelahnya.


Panah-panah yang terlempar kembali masuk ke dalam keranjang di belakang punggung Sui seolah itu akan terus terisi secara manual.


Nisa melompat dari bangunan satu ke bangunan lainnya selagi menembakan sihir bola api, dia hanya harus lebih mendekat ke musuhnya kemudian tidak membiarkannya menembak. Hanya itu satu-satunya yang bisa dia lakukan sebelum panah yang lain bisa membunuhnya.


Kini lima panah yang masing-masing diperkuat dengan sihir angin meluncur padanya.


Masing-masing membuat goresan di kaki dan tangan kendati demikian tidak ada luka yang serius. Nisa melemparkan pisaunya yang bagian ujungnya terikat dengan tali kawat, ketika dia menariknya dia meluncur ke samping.


"Percuma, semua gerakanmu bisa kulihat dengan baik, aku sarankan kau menerima kekalahanmu."

__ADS_1


"Aku tidak akan kalah nyan."


"Keras kepala."


Tubuh Nisa terlempar ke belakang hingga dia sedikit menahan dirinya agar tidak semakin jauh. Setiap bangunan di sekelilingnya telah hancur dan sekarang dia menjadi target yang mudah.


Tentu Sui sudah berniat sejak awal, saat memburu seseorang pastikan mereka tidak memiliki tempat bersembunyi.


Nisa tersenyum saat panah meluncur padanya.


Melalui senjata miliknya panah itu dibelah menjadi dua bagian hingga musuhnya terkejut.


"Mustahil?"


Nisa segera berlari untuk mempersempit jarak, setelah terbiasa dia bisa menentukan lajur panah dengan baik kemudian memotongnya tanpa kesulitan bahkan belatinya kini mengeluarkan api.


Sui yang panik secara terus menerus menembakan panahnya yang dialiri sihir angin, sementara Nisa terus menerjang ke depan dengan gerakan lurus.


Kelemahan dari musuhnya adalah bahwa serangannya sangat akurat karena itulah dia bisa menebak jalur lintasannya.


Tepat dihadapkan Sui, Nisa telah melompat di depan wajahnya.


Ia memasukan belatinya untuk merubah ke pertarungan tangan kosong, beberapa pukulan mengenai wajah Sui, kemudian bagian perut sebelum Nisa berputar untuk memberikan tendangan yang membuat Sui menabrak dinding hingga tidak sadarkan diri.


"Sebaiknya kau diam saja di sini."


"Tidak kusangka kau tidak membunuhnya," suara itu muncul dari belakang Nisa.


"Aku diminta Ardhi untuk tidak melakukannya, jadi apa kau musuh berikutnya yang harus kulawan nyan?"

__ADS_1


"Aku sebenarnya kurang tertarik melawan wanita tapi di tempat ini sepertinya petualang prianya sangatlah lemah."


Dari kejauhan Nisa bisa melihat tumpukan pria-pria yang terbaring di tanah, sama seperti apa yang dilakukan Nisa tidak ada yang mati di sana.


__ADS_2