
"Yah, syukurlah bahwa Ardhi tidak apa-apa, aku khawatir karena kamu setenda dengan nenek sihir nyan."
"Siapa yang kau panggil nenek sihir kucing garong?" teriak Latifa.
"Aku tidak mengatakan apapun nyan."
Mery memotong selagi mengulurkan mangkuk kosong di tangannya.
"Ardhi tolong tambah."
"Baik, Purin kau juga ingin tambah?"
"Iya, Ardhi kamu benar pandai memasak."
"Begitulah dia nyan... dia koki di kelompok ini."
"Entah kenapa malah kau yang terlihat bangga."
Pagi itu mereka bersama-sama mengelilingi perapian selagi memakan sup yang dibuat oleh Ardhi, beberapa orang telah meninggalkan tempat ini dan hanya beberapa lagi yang tersisa.
Saat Ardhi menyuapi dirinya seorang pria tua telah mendekatinya.
"Maaf apa kamu kesatria?"
"Sebenarnya aku hanya petualang, apa ada yang bisa aku bantu?"
"Sebenarnya."
Pria tua itu menjelaskan masalahnya dan ia mengatakan bahwa hanya 50 keluarga lagi yang tidak tahu harus pergi ke mana, mereka ingin meminta saran sekaligus perlindungan jika memungkinkan.
Mereka berasal dari wilayah kumuh di kota bawah tanah Arfadius.
"Aku pikir kalian akan ikut dengan kelompok sebelumnya?" ucap Latifa yang dijawab gelengan kepala.
__ADS_1
"Tidak, kami tidak akan bisa bertahan jika harus pindah ke kota besar," ucap pak tua tersebut sementara Ardhi diam memikirkannya.
Dia merasa tidak mungkin bisa menolak mereka, yang tersisa adalah ke mana kelompok Ardhi harus membawa mereka?
Purin memegangi kepalanya.
"Aku tidak punya ide, Mery kau dapat sesuatu?"
"Aku sebelumnya tinggal di bawah laut, aku tidak terlalu hapal dengan daratan."
"Sulit juga."
Nisa berteriak seolah mengingat sesuatu.
"Bagaimana kalau kalian semua tinggal di desaku, desaku sudah tidak ditinggali kalau di sana kurasa kalian akan aman nyan."
"Oi, oi, kau yakin Nisa.. bagaimana pun tempat itu?" Latifa jelas mengatakan hal yang akan dikatakan semua orang.
Melihat bagaimana reaksi semua orang, Nisa menjelaskannya tanpa beban.
"Aku tidak keberatan, dibanding desa itu menjadi desa mati aku akan lebih senang jika desa tersebut ditinggali kembali, paling tidak aku yakin semua orang juga merasa hal sama."
"Apa itu benar nona?"
"Dengan syarat kalian harus merawatnya dengan baik dan mengizinkan para ras kucing jika mereka mau tinggal di sana."
"Tentu saja, kami bersedia.. terima kasih banyak."
Ardhi tersenyum ke arah Nisa.
Nisa mengalami hal buruk sebelum memutuskan untuk jadi petualang, Ardhi merasa bahwa kini Nisa tidak terbebani oleh masa lalunya. Meski demikian, tujuannya tetaplah masih ada.
Jika mereka beruntung mereka akan menghadapi monster tersebut walaupun mereka belum mencapai peringkat rank-A.
__ADS_1
Setelah bersiap-siap mereka menaiki kereta untuk melakukan perjalanan, karena terbatasnya kereta beberapa harus berjalan meski demikian tidak ada yang mengeluh karenanya.
Wanita, anak-anak dan orang tua menjadi prioritas sementara para pria berjalan di sampingnya.
Ardhi sendiri yang memimpin perjalanan, jika ada monster atau binatang buas yang menyerang secara tiba-tiba pedangnya akan terbang untuk menusuknya.
Dua ekor beruang baru terbunuh olehnya dan beberapa serigala diusir dengan mudah.
"Ardhi?"
Nisa melemparkan botol minuman padanya.
"Terima kasih."
"Oke nyan."
Seorang pria menepuk punggungnya.
"Kau baik-baik saja, paling tidak istirahat sebentar."
"Aku tak apa."
"Padahal tubuhmu terluka bukan?"
"Aku benar-benar tidak apa-apa, lebih dari itu meski kita diserang hewan buas, itu bagus karenanya kita memiliki bahan makanan untuk perjalanan."
"Kau ini benar-benar seorang petualang?"
"Banyak orang yang menanyakan hal itu juga."
"Haha apapun itu, terima kasih.. jika kau lelah biar kami yang urus."
Ardhi mengangguk kecil.
__ADS_1