
"Aku tidak keberatan untuk kita berpetualang bersama, apa kau ingin ikut Ardhi kami akan pergi ke lantai dua sekarang?"
Siesta tanpa ragu memberikan undangan pada kelompok Ardhi, pergi bersama kelompok kuat bukanlah sesuatu yang buruk namun Ardhi memilih menolaknya.
"Kami ingin sedikit lama di sini, aku pikir aku akan menolaknya."
"Begitu, sayang sekali tapi aku bisa mengerti, kalian tidak ingin memberi beban pada kami kan?"
Jelas sekali Ardhi tidak berpikir demikian, lagipula belakangan ini anggotanya juga lebih kuat.
Setelah berpamitan Nisa mendecapkan lidahnya.
"Apa-apaan sikapnya itu, jika mereka gagal menerobos setiap lantai apa mereka akan menyalahkan kita nyan?"
"Aku tidak suka dengan mereka desu."
"Petualang memang seperti itu, jika harus dikatakan kitalah yang malah berbeda, maksudku tidak semuanya."
"Kau pendeta mesum, kenapa kau melihatku seperti itu desu?"
"Bukan apa-apa, dan berhentilah memanggilku mesum."
"Lebih baik kita berpetualang sendiri agar bisa mendapatkan upah lebih banyak."
Ardhi hanya berpikir seperti itu.
Mereka berhadapan dengan empat Orc yang masing-masing membawa gada besar. Mery menggunakan skill provokasi. Membuat mereka mengincarnya.
Tepat mereka kehilangan kendali sihir api meledakan mereka. Bahkan tanpa keikutsertaan anggota yang lain keduanya bisa melakukannya tanpa masalah.
__ADS_1
Nisa dan Ardhi memilih mengalahkan Orc bersama dan di saat yang sama Latifa memberikan rapalan untuk memperlambat gerakan mereka hingga anggota yang lain dengan mudah mengalahkannya.
Mery menerjang ke depan, melalui pedang besarnya dia memenggal tiga Orc sekaligus membuat darah menyembur ke udara.
Mereka tumbang tanpa daya.
"Fire Bolt."
"Ice Circle."
Kekuatan api dan es Risa juga tidak kalah hebatnya. Jika kelompok Siesta berfikir mereka lemah maka hal itu memanglah salah.
Nisa menggunakan skill Double Slash disusul Back Stab dia juga menggunakan sihir api untuk membakar.
"Kerja bagus kalian, kita sudah mengalahkan 10 Orc."
"Dengan kekuatanku kita jadi lebih kuat desu."
"Tentu saja tidak, itu juga berkat aku nyan."
"Kita kuat karena bekerja sama jadi jangan lupakan itu."
"Lagi-lagi Ardhi bersikap seperti kesatria desu."
"Inilah bagian terbaik darinya."
Latifa mengatakan itu dengan percaya diri.
Ardhi menghentikan beberapa kelompok petualang yang hendak berjalan pergi.
__ADS_1
"Kalian sudah mau pergi?"
"Aah, kami sudah cukup menjelajahi lantai pertama lagipula jika lantai satu sudah diisi monster kuat tidak aneh jika lantai dua lebih kuat lagi."
Itu memang masuk akal.
Ardhi membiarkan mereka melanjutkan perjalanan sementara ia memutuskan untuk berkemah setelah malam hari. Tapi bukan di lantai satu melainkan di luar dungeon yang jauh lebih aman.
Mereka membuat tenda dan api unggun untuk memanggang beberapa daging burung yang selanjutnya mereka santap dengan senang.
"Eh, rasanya sangat enak apa ini benar-benar daging burung nyan?"
"Aku sebelumnya menaburinya dengan rempah-rempah jadi rasanya akan berbeda."
"Sesuai yang diharapkan Ardhi, meski aku tinggal di wilayah pohon besar nantinya aku pikir itu akan jauh lebih menyenangkan nyan."
Semua orang setuju dengan itu.
Mery melepaskan helmnya sebelum mengigit bagiannya dan tampak puas saat menggigitnya.
Ardhi mengambil sebuah koin perak di tangannya.
"Apa yang sedang kamu lakukan Ardhi?" tanya Latifa.
"Ini kemampuan yang diberikan dewi Naya, aku bisa menukar uang ini dengan apapun dari dunia aku sebelumnya."
"Eh, benarkah?"
"Tukar dengan buah jeruk," bersamaan dengan apa yang dikatakan Ardhi koin di tangannya lenyap dan digantikan dengan buah yang dikatakannya.
__ADS_1
Ia hanya mendapatkan empat buah dengan warna kuning cerah.