
Memasuki dungeon, kelompok Ardhi kembali berhadapan dengan para Orc.
Nisa melompat di udara selagi menembakan pisau yang bagian ujungnya terlilit sebuah tali kawat, tepat saat dia melompat melewati Orc tersebut dia menarik talinya hingga leher monster tersebut terpenggal.
Itu gerakan yang indah termasuk mematikan.
Di sisi lain Latifa yang sudah selesai memberikan sihir support berubah menjadi sihir serangan, dia menciptakan pedang cahaya di udara dan mengirimkannya menusuk seekor Orc yang hendak menyerang Mery.
"Harusnya biarkan aku saja yang menumbangkannya desu."
"Hanya berdiri di belakang terkadang cukup membosankan, sesekali menyerang tidak apa."
Risa hanya membalas dengan mengembungkan pipinya.
"Ardhi di belakangmu nyan."
Dua Orc langsung tertembus pedang yang terbang menusuk kepala mereka. Perburuan di lantai pertama diselesaikan dengan kekalahan 50 Orc.
Latifa memasukan semuanya ke dalam tas penyimpanan sebelum berjalan ke arah Ardhi yang membersihkan darah dari pedangnya.
"Aku sudah selesai di sini."
"Kerja bagus, mari kita turun ke lantai dua."
Semua orang mengangguk mengiyakan.
Risa yang memiliki tubuh kecil kini duduk di bahu Mery untuk memaksimalkan langkahnya. Latifa berada di depannya kemudian Nisa dan Ardhi menjadi pilar utama serangan.
__ADS_1
Berbeda dari lantai pertama, di lantai kedua situasinya seperti dungeon pada umumnya, itu menyerupai gua dengan lebar yang bisa dimasuki lebih dari 10 orang.
Dari persimpangan sosok tengkorak muncul dari samping, mereka mengenakan armor ringan dengan berbagai senjata di tangannya.
Risa menerjang ke depan dengan gerakan zig-zag, sebelum Ardhi menarik pedangnya seluruh musuh telah dihabisi.
Karena mereka sejenis Undead Latifa menggunakan sihir suci untuk menyucikan mereka hingga berubah menjadi butiran cahaya.
Tak lama sesuatu telah mendekat pada mereka hingga Ardhi menarik pedangnya, dari kegelapan itu merupakan langkah kecil dari seseorang yang menyeret kakinya.
Dia seorang wanita dengan pakaian bajak laut.
"Bukannya dia anggota gadis singa itu desu."
"Anisa?"
Tepat seorang yang dipanggil Anisa itu hampir roboh Ardhi menangkapnya dengan kedua tangannya.
"Di mana semua orang?"
"Kami diserang makhluk mengerikan di lantai 4, semua orang terluka dan hanya aku yang masih bisa berjalan dan mencoba untuk mencari bantuan."
Latifa buru-buru menggunakan sihirnya, sementara itu Nisa memotong.
"Kita kedatangan para tengkorak lagi."
"Mery dan Nisa atasi yang di kiri, aku akan mengatasi yang kanan dan Risa atasi yang belakang.
__ADS_1
"Dimengerti."
Semua orang mengambil peran yang dikatakan Ardhi, tak perlu waktu lama untuk mereka bisa mengamankan area sekitar.
Latifa menggelengkan kepalanya.
"Lukanya terlalu parah, aku hanya bisa memberikan penanganan pertama saja."
"Apa boleh buat, aku akan menyelamatkan mereka di lantai empat kalian tunggu saja di luar dungeon jika sekarang kalian tidak akan bertemu dengan banyak Orc di lantai pertama."
"Itu terlalu ceroboh, biar aku juga turut membantu nyan."
"Aku mengerti."
Semua orang mengangguk mengiyakan dan akhirnya berpisah.
"Kalian yakin membiarkan mereka berdua pergi?"
"Lalu apa kau ingin kami tidak menolong rekanmu?"
Perkataan Latifa membuat Anisa tak bisa berkata apapun lagi.
"Jangan khawatir ketua kami sangatlah kuat."
Mery mengangguk sebagai tanggapan.
"Ini terjadi karena kalian terlalu percaya diri desu, lain kali cobalah untuk tidak bergerak secara ceroboh."
__ADS_1
Mery menebas demi membelah tubuh Orc yang menghadang jalan keluar mereka, bagaimana ia mengalahkannya membuat Anisa sendiri tidak percaya.
"Kalian benar-benar kuat."