
Pedang Ardhi terbang ke atasnya, kemudian menukik tajam. Walau mengenai hampir seluruh bagian dari monster tersebut pedangnya berhasil dipantulkan layaknya mengenai sebuah baja.
Anastasia dan Nisa bergiliran untuk menyerang bagian mata, tentu saja laba-laba raksasa tersebut melindungi dirinya dengan kaki depan dan kemudian balik menyerang.
Mereka terhantam di bagian perut membuat mereka terlempar menabrak dinding.
Ardhi menyelinap di bagian bawah, menggunakan Spin, udara di sekitarnya membentuk spiral namun tidak menciptakan damage apapun.
Dari arah samping kaki depan mirip sabit bergerak dan di saat yang sama Mery sudah memblokirnya dengan perisai meskipun keduanya juga turut terlempar. Risa telah memunculkan beberapa lingkaran sihir di atas laba-laba tersebut selagi menyeringai lebar.
Dia tepat berdiri di pusat lingkaran sihir di bawah kakinya.
"Akan kutunjukan bagaimana sihir ledakan itu dibuat."
Latifa yang ada di belakangnya menjitak kepalanya hingga rapalan tersebut berhenti seketika.
"Oi, apa yang kau lakukan pendeta?"
"Kau ingin meledakan kita semua juga yah, dengan sihir brutal seperti itu kita akan mati."
"Tak masalah juga kan, yang penting kita mengalahkannya."
Latifa mengikat tubuh Risa dengan tali lalu melemparkannya ke arah Purin untuk dijaga olehnya.
"Jangan lepaskan dia."
"Aku mengerti."
Latifa menggunakan Blessing untuk semua orang sebelum mereka kembali menyerang. Semua orang bisa merasakan bahwa kekuatan mereka telah ditingkatkan lebih jauh.
__ADS_1
(Aku benci mengatakannya tapi Herina memiliki seorang Arch Priest yang kuat)
Ardhi memilih mengabaikan perkataan Naya di dalam kepalanya, berbeda dari sebelumnya pedangnya mampu memotong kaki yang terlihat keras tersebut. Anastasia di sisi lain juga melakukan hal sama.
Ketika laba-laba tersebut hanya bisa mengerang kesakitan, Mery muncul di atas menghantamkan perisainya jatuh ke bawah membuat laba-laba tersebut merebas ke dalam tanah.
Nisa melukai beberapa matanya melalui Back Stab sebelum melompat mundur menjaga jarak, kemenangan mereka hanya sesaat sampai tubuh laba-laba tersebut mulai meregenerasi dirinya ke bentuk semula.
"Ini curang nyan, kalau begini tidak ada habisnya."
"Hati-hati Nisa."
Trang.
(Sudah pasti akan begitu, kristal yang kutinggalkan di kota Sandria telah memberikannya kekuatan)
(Apa ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk mengalahkannya)
(Lalu bagaimana kristalnya?)
(Kristalnya tidak akan hancur, aku jamin itu)
Anastasia menyentuh bahu Ardhi.
"Apa kamu sudah menemukan ide untuk mengalahkannya?"
"Aah, ini cukup berbahaya tapi kalian semua keluar lebih dulu, aku akan memancingnya keluar juga dan membiarkan Risa menggunakan sihirnya."
"Itu sangat berbahaya."
__ADS_1
"Cepatlah."
"Kami mengerti, semoga beruntung."
Mery membawa Risa di punggungnya lalu berlari mengikuti semua orang.
Ardhi menaikkan seluruh pedangnya ke udara.
(Ardhi kamu benar-benar nekat, bahkan kamu mau mempertaruhkan nyawamu untuk ini)
(Jika tidak nekat bagaimana nantinya kalau aku melawan raja iblis ataupun Dewi Herina)
(Aku suka semangatmu, Dewi dan manusia bisa menikah loh aku tidak keberatan kamu melamarku)
(Berhentilah bercanda)
(Kamu tidak peka)
Ardhi melompat ke udara saat beberapa pasang kaki menyerangnya. Dia menggunakan Double Slash untuk memotong kakinya, sebanyak dia melakukannya itu akan kembali tumbuh bersama luka di tubuhnya yang kembali sedia kala.
Situasi yang terburuk adalah bahwa efek Blessing milik Latifa habis.
(Mengingat Anda memberikan permata berharga ke kota Sandria, apa ada alasan tertentu?)
(Kota ini seluruhnya adalah pengikutku yang beriman, aku hanya memberikan mereka sedikit hadiah, lagipula mereka mungkin akan kesulitan tinggal di gurun seperti ini)
(Mungkin ada benarnya)
Ardhi berlari mundur tanpa menghilangkan keberadaan laba-laba, ia berusaha membuatnya mengejarnya dan itu cukup efektif dilakukan.
__ADS_1
Kalau saja ada seseorang yang bisa menggunakan sihir teleportasi dengan cangkupan luas bisa saja hal seperti mengeluarkan semua orang bersama monsternya akan lebih mudah.
Diam-diam Ardhi ingin mempelajarinya nanti.