
Dan begitulah bagaimana mereka melanjutkan perjalanan kembali.
"Penjaga barusan mungkin diminta untuk mencari para petualang tersebut namun mereka tidak berani bergerak dan malah meminta kita untuk melakukannya, bukannya itu sedikit menyebalkan," kata Purin sedikit kesal lalu disambung Latifa.
"Memang benar, tapi kurasa mereka juga memiliki alasan juga kenapa tidak mau mempertaruhkan nyawa mereka."
"Aku yakin karena ada hewan raksasa mirip cacing yang akan mengejar kereta yang dia lihat nyan."
"Dari mana kau mengetahuinya desu?"
"Sebenarnya monster itu ada di belakang kita nyan."
Ketika semua orang memastikannya semuanya telah terlambat. Semua orang melompat dari kereta sementara itu kereta mereka termasuk kuda yang menariknya telah ditelan utuh oleh cacing tersebut.
Ketika Ardhi hendak menarik pedangnya hewan itu telah masuk ke pasir kembali lalu menghilang.
"Makhluk itu tidak menyerang manusia."
"Siapa peduli itu nyan, kita berada di gurun pasir tanpa bekal... aaaah, kita akan mati nyan."
Nisa berguling-guling di pasir sementara Latifa berusaha menguburnya.
"Mery bantu aku, kita harus membuat pemakaman untuknya."
"Sepertinya menarik."
"Oi, hentikan aku masih hidup... uwaah, pasirnya masuk ke dalam mulutku."
__ADS_1
"Kondisi kita sedang sulit mereka malah bercanda desu."
Ardhi hanya menghela nafas panjang.
"Dari sini kita akan berjalan kaki, aku menemukan sedikit air minum dan makanan yang kita bisa bagi sementara waktu."
"Di saat seperti inilah Ardhi sangat bisa diandalkan, tolong gendong aku desu."
Ardhi melakukannya dengan setengah hati dan membiarkannya duduk di bahunya, dia memiliki fisik kecil karena itulah baginya itu bukan hal sulit dibandingkan latihannya selama ini.
"Kurasa jalannya ke sini."
Mereka semua mengikuti Ardhi, ketika menemukan sebuah pohon kaktus Ardhi membelahnya horizontal dengan pedangnya dan melihat bahwa isi batangnya memiliki air di dalamnya.
"Ini akan membantu kita untuk bertahan."
"Aku beberapa kali mengobrol dengan para petualang lain dan mereka banyak memberitahukanku hal baru saat mereka selesai menjalankan misi."
"Jadi begitu, dibandingkan pergi ke distrik lampu merah kau lebih suka menghabiskan waktu di guild rupanya."
"Kenapa kau mengatakan itu?"
"Petualang selalu pergi ke sana bukan."
"Kurasa petualang tidak memiliki nama baik di sana."
Ardhi mengisi kembali kantung airnya dan mereka kembali melanjutkan perjalanan, ia menyesali bahwa tidak memasukkan makanan dan minuman ke dalam tas penyimpanan padahal di saat seperti ini itu akan sangat membantu.
__ADS_1
Setelah berjalan sepanjang hari, mereka menemukan gua untuk bermalam, tepat saat itu dari dalam gua sosok wanita dengan rambut hitam di kepang sisinya muncul selagi mengarahkan ujung pedangnya.
Dia memiliki warna bola mata putih yang menandakan bahwa dia tidak bisa melihat.
"Siapa kalian?"
Ardhi yang hendak melangkah maju dihentikan Latifa sedangkan Risa turun dari pundaknya.
Nisa juga bersiap menarik belatinya.
"Kami hanya orang-orang yang kebetulan lewat kemari."
"Jangan terlalu sopan padanya Ardhi, dia petualang tingkat atas dari guild Lost Carnival bernama Anastasia."
Lost Carnival adalah guild yang kerap merebut petualang kuat untuk bergabung dengan mereka, terkadang mereka juga tidak ragu menggunakan cara kotor untuk melakukannya.
"Kalian mungkin salah paham, walau aku berada di guild itu aku sebenarnya masuk karena keterpaksaan, tolong jangan sampai ada pertarungan di sini."
"Kurasa yang dikatakannya benar, mari kita saling menjelaskan situasinya."
Anastasia memiringkan kepalanya dengan mata kebingungan walaupun sebenarnya dia jelas tidak bisa melihat.
"Maaf, apa kau ini seorang petualang?"
Tentu perkataan itu diarahkan pada Ardhi.
"Kami mengerti apa yang sedang kau rasakan itu," ucap Purin sebagai perwakilan.
__ADS_1