
Pria tua itu kembali menjelaskan apa yang dia ingat, di dekat kaki patung tersebut ada sebuah tiga tempat kosong yang masing-masing berbentuk Hexagon, ukurannya tidak besar maupun kecil jika diibaratkan itu adalah tempat dari sebuah permata.
Setiap permata memiliki kemampuan berbeda, permata biru yaitu untuk mengisi tempat ini dengan air, permata putih untuk memperbaiki kulit agar terlihat awet muda dan permata hijau untuk membuat seseorang terbebas dari segala penyakit.
Ketiga unsur ini yang membuat kolam air mancur tersebut menjadi tempat suci bagi kota ini, tentu semua itu berkat berkah Dewi Naya yang diberikan pada kota ini.
Pria tua tersebut memegangi kepalanya seolah berusaha mengingat sesuatu hingga pada akhirnya dia menyerah.
"Kami tidak tahu, sebenarnya patung siapa ini?"
"Kamu pasti bercanda, bukannya ini patung Dewi Naya."
"Aku baru mendengar nama Dewi Naya," balas pria tersebut.
Jelas itu jawaban yang tidak masuk akal saat sebuah kota dari awal memang sengaja membuat patung tersebut.
Ardhi sedikit heran dan mengalihkan pertanyaan pada semua rekannya.
"Bukannya kalian tahu juga tentang patung ini bukan?"
"Eh, benarkah nyan? Kalau dipikir-pikir patungnya memang cantik, tapi siapa dia?"
"Kalianlah tolong berhentilah bercanda bukannya kalian sudah tahu, bagaimana denganmu Risa?"
__ADS_1
"Aku baru melihatnya jadi aku tidak tahu desu."
"Apa ada sesuatu yang salah Ardhi?" tanya Latifa sedikit khawatir namun Ardhi sudah mengetahui apa yang terjadi di sini.
Siapapun yang memasuki kota ini, ingatan tentang Dewi Naya menghilang kecuali dirinya.
Mungkinkah.
Untuk sekarang Ardhi mencoba mengesampingkan hal itu lalu mencoba untuk beralih ke topik yang lebih penting untuk diatasi.
"Ngomong-ngomong apa yang terjadi dengan permatanya?"
"Beberapa bulan lalu ada beberapa orang luar yang mencurinya, kami mengejarnya namun mereka pergi ke labirin dan sejak itu permatanya tidak pernah lagi ditemukan."
"Tidak, kami yakin bahwa monster di dalam sana telah melahap mereka... itu juga alasan kenapa kami tidak mengejar terlalu jauh saat mereka memasuki labirin, kulihat bahwa kalian seorang petualang. Maukah kalian mengambil ketiga permata tersebut kembali tentu aku akan membayar kalian dengan harga tinggi."
"Jika itu sebuah barang kami tidak tertarik desu."
"Di tempat ini koin emas tidak terlalu berharga, aku akan membayarnya dengan 3.000 koin emas, bagaimana?"
Semua orang memasang wajah terkejut.
"Apa masih kurang kalau begitu 5.000 koin emas."
__ADS_1
"Tiba-tiba saja jiwa petualangku membara nyan."
"Ada sesuatu yang ingin kubeli, aku rasa aku membutuhkannya," Mery mengutarakan hal demikian disusul Purin.
"Itu uang yang besar."
Jelas Ardhi akan menerimanya.
Sebelum itu mereka menyewa penginapan, Ardhi memilih untuk tidur sendirian sekarang. Sebelumnya dia bisa tidur dengan Risa namun jika dipikirkan lagi mungkin dia harus mempertimbangkan Risa sebagai seorang wanita dewasa juga.
Membuka jendela, Ardhi mengitari pemandangan kota di sekelilingnya, di tempat ini tampak patung Dewi Naya begitu terlihat jelas terutama misteri yang menyelimuti dirinya.
Ardhi mengeluarkan ponsel ke tangannya dan sekali lagi melihat pesan yang ditulisnya dalam sebuah alarm.
"Pergi ke kuil di wilayah kerajaan demi-human, jika aku bisa bertemu dengan Dewi aku ingin menanyakannya, aku akan memaksanya untuk mengatakan semuanya."
Ketika malam tiba Ardhi menemukan dirinya telah bersama Dewi Naya yang dimaksud.
"Kamu akan memaksaku bicara lalu apa yang akan kamu lakukan?"
"Yah, aku cuma asal bicara."
"Bagaimana dengan coba menggrepe dadaku, aku mungkin akan mengatakannya setelah lemas"
__ADS_1
"Jelas itu tidak mungkin aku lakukan."