
Sudut pandang Ardhi.
Untuk berfikir bahwa aku melawan seekor Kabold adalah sesuatu yang tidak pernah terlintas di benakku, bahkan saat aku menebasnya dengan dua pedang. Tubuhnya benar-benar keras, hampir seluruh badannya diselimuti bulu abu-abu yang bercampur dengan warna putih di sekitar dadanya.
Adapun yang membuat semua orang berfikir untuk tidak memilih melawannya adalah mulut yang dipenuhi taring serta cakar yang melebihi sebuah pedang.
Aku mengelak dari serangan darinya, sayangnya karena pergerakanku yang ceroboh dia berhasil menendangku hingga menabrak dinding gua dengan sebuah ledakan kecil.
Tak ada waktu untuk berdiam diri jadi aku bangkit kemudian melompat ke samping saat dua cakar mengincarku secara brutal.
Melihat seberapa kuat makhluk ini jelas sekali bahwa kelompok Siesta tidak akan bisa mengatasinya, bukannya berarti aku mampu hanya saja aku tidak memiliki pilihan dalam situasi ini.
Jika aku lari bukan hal aneh makhluk ini akan mengejar Nisa yang membawa Siesta. Bertarung adalah hal yang bisa kulakukan.
Darah menyembur dari mulutnya saat sebuah lutut menghantam perutku, aku berusaha menebas sayangnya pedangku malah terlempar hanya karena ayunan cakarnya disusul serangan berikutnya.
Darah terciprat dari pakaianku.
__ADS_1
Kuat dan cepat adalah dua hal yang dimilikinya.
Aku terlempar, sebelum bisa bangkit sebuah tebasan kembali melesat padaku, aku menempatkan dua tangan di pedang selagi bergerak mundur untuk menangkis.
Diam-diam aku menggerakkan pedang yang terlepas sebelumnya untuk mengincarnya dari belakang, di luar dugaan Kabold menyadari hal itu dan ia melompat dengan bersalto ke belakang, tentu pedang yang melesat hanya berhenti 10 cm dari wajahku sebelum berputar dan kembali ke tanganku.
Mengendalikan enam buah sesuatu yang menyulitkan, jika aku bisa mengendalikan ratusan pedang itu akan jauh lebih kuat dalam bertarung.
"Roaarr!"
Mereka adalah serigala yang sebelumnya aku temui, seharusnya dengan kilatan petir itu bisa membuat mereka ketakutan sayangnya sudah jelas bahwa kabold sebelumnya telah mengendalikan mereka seolah rasa takut dari mereka dibuang selamanya.
Aku menyelimuti tubuhku dengan petir sebelum menerjang dengan kecepatan tinggi, kepala mereka berhamburan ke udara bersamaan darah yang menyembur setelahnya.
Aku tidak terlalu ingin membunuh mereka sayangnya hal ini tidak bisa dihindari. Aku kembali menambahkan kecepatan dua kali lipat pada tubuhku untuk bergerak lebih cepat.
Ketika aku berhasil mengakhiri mereka, aku segera menerjang penuh ke arah Kabold, belum siap dengan kemunculanku Kabold secara reflek menahan tebasannya dengan tangan yang mengakibatkan darah memucrat darinya.
__ADS_1
Itu tetap saja belum mampu memotongnya sehingga saat dia menghempaskannya ke depan aku telah dikirim sejajar dengan lantai dungeon.
Kabold tersebut berteriak, dia menabrakku dari depan lalu menyeretku untuk menabrakkannya ke dinding sebelum membiarkanku terbang dengan kecepatan tinggi.
Sembari mengerang kesakitan aku membuang puing-puing bebatuan yang menimpaku, aku bersiap dengan enam pedang yang kukirim padanya.
Pedang membelah udara untuk menyayat bagian luar Kabold ketika dia berlari padaku, aku mengeluarkan pisau lalu melakukan hal sama.
Ini pertarungan hidup dan mati, sedikit saja aku ragu nyawa adalah bayarannya.
Aku berteriak keras begitu juga musuhku, ketika pergerakanku terhenti pisauku telah menembus dadanya begitu juga Kabold yang berhasil melukai bahuku. Jika bukan karena petir yang membelokan serangannya aku juga akan mati saat ini.
Kabold tersebut ambruk.
Aku berusaha untuk tetap berdiri sementara ke-enam pedangku telah kembali tersarung pada tempatnya.
Mengalihkan pandanganku, aku bisa melihat Nisa dan Siesta yang terlihat lega. Padahal aku meminta mereka untuk pergi duluan.
__ADS_1