Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 2 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 38 : Kota Sandria


__ADS_3

Saat siang hari terasa panas dan malam hari terasa hangat dari malam-malam di tempat lain, begitulah apa yang dirasakan Ardhi sekarang.


Sepintas dia bisa merasakan embusan angin menyibak rambutnya bertepatan ketika dia menengadah ke langit berbintang.


Gurun pasir selalu terkenal dengan tanah tandus, panas dan kerap dihindari banyak orang, terlepas dari persepsi banyak orang tentang gurun pasir itu sendiri, tempat ini juga selalu menunjukkan keindahannya bagaikan sebuah permata yang tersembunyi di suatu tempat tertentu.


Latifa muncul dan duduk di sebelah Ardhi dengan malu-malu.


"Malam yang indah."


"Kamu tidak tidur Latifa?"


"Bagiku bisa menikmati waktu berduaan dengan Ardhi lebih berharga daripada tidur."


"Latifa?"


"Jangan mengatakan hal apapun lagi, aku tidak memaksa Ardhi untuk menyukaiku atau apapun. Aku hanya mengatakan hal yang kurasakan dan ingin kukatakan saja."


Ada perasaan lega muncul di lubuk hati Ardhi, dia sekarang tidak merasa mampu untuk menerima perasaan seseorang ataupun memberikan perasaan yang setara. Dia hanya ingin mencoba untuk menjalani kehidupannya sekarang.


Dia masih muda dan menikah bukan sesuatu yang dipikirkannya dalam waktu dekat, ia juga bukan karakter protagonis yang akan menikahi banyak wanita di tangannya dan membuat Harem tertentu.


Harem yang dimiliki Ardhi murni hanya kebetulan saja, jika ada pria yang turut bergabung di awal petualangannya, dia sama sekali tidak keberatan.


Melihat sekilas ekpresi yang ditunjukkan Latifa sekarang membuat Ardhi yakin bahwa ia murni menyukai sosok bintang.

__ADS_1


Ia menanyakannya dan Latifa menjawab tanpa ragu.


"Menurut orang, saat melihat bintang kamu akan merasakan begitu dekat dengan orang yang penting di hidupmu, hanya saat seperti inilah aku bisa mengingat orang tuaku."


"Apa mereka baik-baik saja?"


Latifa menggelengkan kepalanya.


"Aku seorang yatim piatu, dulu sekali aku hidup di jalanan sampai bertemu dengan tuan putri saat rombongan mereka datang ke kotaku... ia tiba-tiba saja mengatakan bertemanlah denganku? Dan saat itulah aku dibawa ke istana dan menjadi seorang pendeta sampai sekarang."


Latifa dan putri jelas sekali telah tumbuh bersama. Ardhi meletakan tangannya di kepala Latifa secara naluri.


"Ah, maaf entah kenapa aku?"


"Kenapa malah jadi bersemangat begitu?"


Latifa hanya membalas dengan senyuman kecil


Keduanya memilih kembali menatap ke atas langit, ketika ada sebuah bintang jatuh Latifa segera berdoa dengan suara pelan yang masih bisa didengar oleh Ardhi.


"Semoga hari-hari kami semakin menyenangkan ke depannya."


Latifa mungkin tidak terlihat seperti gadis yang lembut namun sesungguhnya dia lebih perasa dibandingkan siapapun, jika bukan karena Ardhi yang melarangnya dia akan terus menyembuhkan siapapun di party meskipun itu hanya luka gores.


Yang dilakukan Ardhi bukan sesuatu yang kejam, dia hanya tidak ingin membuat Latifa sembarangan menghamburkan mananya, terkadang ada luka yang lebih berbahaya dari luka gores dan saat itu terjadi Ardhi ingin membuat Latifa tidak menyesalinya. Tanpa disadari semua orang Ardhi juga menyiapkan beberapa potion di balik pakaiannya jika Latifa mengalami hal sulit nantinya.

__ADS_1


Dia adalah tipe orang yang berfikir sedia payung sebelum hujan.


Ketika pagi hari menjelang kelompok Ardhi maupun kelompok petualang berpisah, Ardhi menunjukkan arah untuk mereka kembali.


Tugas mereka sudah selesai dan hanya melaporkannya mereka akan mendapatkan upah dari pedagang.


"Kamu yakin bahwa mereka akan membayar kami?"


"Bukannya kalian sudah menghabisi setiap monster?"


"Meski kamu mengatakan itu, cacing raksasanya masih hidup."


"Asal seseorang tidak menggunakan kereta saat melewatinya maka kurasa itu akan baik-baik saja, lagipula perlu dari jumlah kalian untuk menaklukannya."


"Memang benar."


Setelah berpamitan mereka berjalan ke arah berbeda. Risa duduk di atas bahu Ardhi dia mungkin bisa disebut sebagai maskot di kelompok ini.


Karena tingkat kelucuannya mampu menipu setiap mata.


Nisa yang berada di paling depan menunjuk jauh dengan semangat.


"Kita sudah sampai nyan, itu pasti kota Sandria."


Sebuah kota luas dengan bangunan menjulang tinggi adalah sesuatu yang layak untuk diperhatikan.

__ADS_1


__ADS_2