
Kedua pedangnya tak berhenti untuk menangkis setiap tebasan musuhnya, secara perlahan tanpa disadari Dark Knight, Ardhi telah membuatnya untuk masuk dalam jebakan.
Jika sulit untuk menghadapinya dia hanya harus menggunakan sebuah trik untuk melakukannya.
Tinggal sedikit lagi.
Ardhi terus menangkis senjata itu selagi mundur secara perlahan-lahan, ketika dia berhasil Ardhi melompat mundur untuk diselesaikan oleh Risa.
Bersamaan itu, sebuah lingkaran sihir raksasa muncul di bawah kaki Dark Knight.
Lingkaran itu mengeluarkan petir yang memaksa Dark Knight diam mematung untuk beberapa saat.
Logam sangat buruk saat dihadapkan oleh sihir semacam ini.
"Kau meremehkanku desu, rasakan ini."
Risa menaikan tingkat sihirnya 10 kali lipat, kemudian Dark Knight itu meledak dahsyat hingga hanya menyisakan kunci setelahnya.
Semua orang menjatuhkan dirinya ke tanah.
"Akhirnya selesai juga nyan, makhluk seperti ini mungkin hanya bisa dihadapi rank atas saja."
"Aku juga merasa demikian."
Ardhi mengambil kunci tersebut, membuatnya sebagai kalung yang dia lilitkan di lehernya di balik pakaiannya.
(Tak kusangka kalian bisa menghadapinya dengan cara seperti itu, aku memang tidak salah memilihmu)
__ADS_1
(Kamu terlalu memuji dewi)
(Aku mengatakan hal sesungguhnya)
Tidak ada pembahasan serius yang mereka lakukan setelah mengakhiri pertarungan melawan Dark Knight, yang menunggu mereka hanyalah sebuah dinding besar dari sebuah kota kerajaan Arvensia.
Nisa bersujud dengan wajah menangis.
"Akhirnya kita sampai, berjalan kaki benar-benar melelahkan nyan."
Karena kehilangan kereta di padang pasir mereka melalui semuanya dengan berjalan kaki.
"Menurutku tidak seburuk itu, berjalan kaki sangat menyenangkan desu."
"Apa yang kau katakan dengan berjalan kaki menyenangkan nyan, kau hanya duduk di bahu Ardhi sepanjang perjalanan."
"Kalau kau mau, kau juga bisa di sini, tapi mungkin kau tidak akan tahan saat Ardhi meraba-raba pahamu."
"Ardhi?"
"Kau terlalu berat."
Purin memotong.
"Dari sini akan sulit untuk memasuki kota untuk kalian... kita perlu sebuah penyamaran."
Ardhi juga memikirkan hal sama tapi apa mereka akan dengan mudah masuk hanya dengan mengenakan telinga hewan.
__ADS_1
Pertanyaan itu dijawab dengan cepat saat mereka mendekati gerbang masuk.
"Kalian bisa masuk."
"Terima kasih banyak nyan."
Menggunakan Nisa sebagai orang di depan mereka bisa melewati penjaga dengan mudah, kondisi kota sendiri tidak jauh dengan kota lainnya yang mengambil tema abad pertengahan. Yang membedakan hanyalah bahwa semuanya diisi oleh demi-human.
Ada yang memiliki telinga rubah, kucing, rakun, kelinci dan juga sebagiannya.
Semuanya terlihat makmur terlepas dari peperangan yang terjadi. Purin membawa mereka langsung ke istana.
Para prajurit tampak terkejut melihatnya dan segera memberikan kabar untuk ratu dari kerajaan. Tentu saja kelompok Ardhi tidak ikut bersamanya, mereka hanya mengawasi dari kejauhan.
"Dengan ini kita tidak akan dianggap orang yang menculik putri."
"Meski begitu, apa dia akan baik-baik saja? Pada dasarnya dia lari dari rumah dan malah menjadi seorang Idol di kerajaan manusia," tanya Latifa."
"Itu urusan keluarga tapi aku yakin dia hanya akan dimarahi oleh ratu."
"Kuharap ratu bisa mengerti tentang kita dan mau mendengarkan penjelasan Purin nyan."
Semua orang berharap seperti itu.
Mereka menyewa sebuah penginapan sampai keesokan paginya puluhan kesatria demi-human telah mengepung mereka dengan seorang kesatria wanita berambut pirang panjang sebagai pemimpin.
Dia mengenakan armor perak serta rok pendek yang nyaris menunjukkan yang berada di dalamnya, jika diperhatikan dia memiliki ekor lebat di punggungnya serta telinga serigala di atas kepalanya.
__ADS_1
"Namaku Luisa Rockman, aku diminta yang mulia ratu untuk membawa kalian ke istana, kuharap kalian mau menurut."
Mereka merasa bahwa ini lebih seperti perlakuan pada seorang kriminal.