
Meski disebut hutan terkutuk para pedagang ini memaksakan diri untuk melewatinya dibandingkan memutarinya, alasannya karena lebih cepat dan tidak ada bandit yang akan menghadang walaupun kerugian yang diterima mereka lebih tinggi dari yang dipikirkan mereka.
Ketika hari sudah gelap dan semua orang diam untuk menikmati makan malamnya Ardhi menjelaskan semuanya pada Latifa hingga dia pun mengangguk sedikit.
"Jika itu bukan aku, aku pikir di kota tidak akan ada yang bisa menghilangkan sihir ilusi seperti itu."
Dengan kata lain Latifa mengakui bahwa kutukan itu sangatlah kuat, tidak aneh bahwa mereka akan menjadi gila jika dibiarkan terus begitu.
Ardhi menatap para pedagang di sekelilingnya, kurasa mereka memiliki keberuntungan tinggi karena bertemu dengan Latifa dalam perjalanan.
Pagi berikutnya mereka semua berpisah dan kelompok Ardhi melanjutkan perjalanan. Ada dua opsi yang bisa mereka ambil yaitu dengan mengambil jalan memutar atau menerobos hutan.
Latifa menyarankan untuk menerobos sementara Mery dan Nisa memilih memutar karena keinginan mereka masuk dalam pertempuran.
Untuk Purin dia memilih netral, karena pada dasarnya mana pun dia tidak akan keberatan.
"Kalian semua tahu apa yang kalian pilih? Jika para bandit mengalahkan kalian mereka pasti tidak akan menahan diri untuk melecehkan kalian, meski kalian berteriak kalian hanya akan terus merasakan kesakitan, hingga lemas dan kemudian dipaksa lagi melakukan itu."
"Bukannya perkataan pendeta ini sangat bejat," potong Purin namun semua orang sudah mengetahuinya.
"Dia memang selalu memikirkan fantasy gila di kepalanya nyan."
__ADS_1
"Setuju," tambah Mery.
"Mari kita putuskan dengan batu kertas gunting, lagipula mana pun tak masalah."
Atas saran Ardhi. Latifa dan Nisa yang akan melakukannya.
Jika mereka memilih menerobos hutan maka mereka akan mencoba menghilangkan kutukannya agar semua orang nantinya bisa melewatinya dan jika mereka memutar mereka akan berakhir mengalahkan bandit dan pada akhirnya juga semua orang kedepannya bisa melewatinya.
Keduanya memiliki hasil yang sama.
Nisa ambruk ke bawah dengan wajah kecewa.
"Apa? Aku kalah nyan."
Latifa merapalkan sihir pelindung untuk membungkus mereka dengan bola cahaya.
Asap secara misterius menyebar ke sekelilingnya membuat mereka kesulitan menentukan arah.
"Ardhi, apa mereka juga mengatakan soal kabutnya nyan?"
"Tidak, aku yakin mereka tidak mengalami hal seperti ini."
__ADS_1
Bersamaan itu pelindung yang digunakan Latifa hancur.
"Tutup hidung kalian," ucap Ardhi namun sayangnya mereka semua langsung tak sadarkan diri. Lebih tepatnya tertidur.
Ardhi merasakan kepalanya pusing dan dalam hitungan detik dia juga kehilangan keseimbangannya lalu terjatuh ke tanah tak sadarkan diri.
Ia membuka matanya dan menyadari bahwa dirinya berada di sebuah padang rumput luas, dengan Latifa, Purin, Mery dan juga Nisa dengan pakaian kelinci.
"Uwah, Kenapa aku mengenakan pakaian seperti ini? Ini memalukan," teriak Purin yang dibalas oleh Nisa.
"Yah bukannya yang biasanya lebih memalukan nyan."
Ardhi juga memiliki penampilan aneh namun dia tidak jadi kelinci melainkan serigalanya.
Latifa diam memikirkan untuk mengambil kesimpulan yang terjadi sampai satu pemikiran muncul di benaknya.
"Sepertinya kita terjebak di alam mimpi, mungkin ada sangkut pautnya dengan pakaian kita.. misal agar kita bisa keluar dari sini Ardhi harus memangsa kita dan melecehkan kita secara bersamaan."
"Lupakan orang ini, dia sudah tidak tertolong lagi nyan, Ardhi kamu punya ide yang lain bukan? Kyaaa... jangan menarik ekorku."
"Kurasa orang di sana mungkin bisa membantu."
__ADS_1
Ardhi menunjuk ke arah depan, di tanah lapang yang luas itu ada seorang tengkorak manusia yang mengenakan gaun pernikahan sedang meminum teh dengan santai.