
Selagi menguap Risa duduk di atas bahu Ardhi dan melihat ke depan bersama seluruh penduduk kota dan menemukan kumpulan kura-kura yang bergerak maju ke arah mereka.
Walau disebut raksasa mereka tidaklah lebih besar seperti raksasa, tinggi mereka hanya 5 meter dengan punggung di belakangnya yang mengerucut mirip seperti duri. Itu mungkin bisa disebut pertahanan lapis selain dari cangkangnya.
Salah satu penduduk kota menunjukkan kekhawatirannya dan disusul lainnya.
"Apa kota kita akan hancur, jumlah mereka terlalu banyak."
"Jika petualang yang kita sewa melarikan diri maka kita juga tidak mungkin bisa melakukan sesuatu."
"Sial, seharusnya kita meminta petualang lain."
"Kalian tenanglah dulu, tuan Ardhi pasti bisa melakukan sesuatu," yang memotong mereka adalah manajer toko.
Dia hanya memberikan tanggung jawab semakin berat padaku, ucap Ardhi dalam hati.
"Nah Risa, apa kau bisa mengatasinya?"
"Itu mudah bagiku desu."
Ardhi menjelaskan bahwa bukan ia yang akan mengatasinya melainkan gadis kecil di punggungnya, tentu itu hanya penampilannya saja karena dia lebih tua dari siapapun di sini.
Ardhi mengernyitkan alisnya.
"Apa kau bisa tidak berdiri di bahuku."
"Sejak lama aku ingin merasakan menjadi orang tinggi, jadi begini rasanya desu."
__ADS_1
"Kau tidak mendengarkanku yah."
Risa mengulurkan kedua tangannya kemudian menggunakan rapalan dengan bahasa elf untuk memunculkan lingkaran sihir raksasa tepat di bawah kaki para kura-kura tersebut. Lingkaran tersebut berwarna merah terang dan cangkupannya sangat luas, tak lama kemudian sebuah pilar raksasa terbuat dari api menyembur ke langit beberapa saat sebelum menghilang dengan cepat meninggalkan kawah raksasa sementara para kura-kura tersebut lenyap tanpa sisa.
Tidak ada yang bicara ataupun bereaksi, semua orang hanya menunjukkan keterkejutannya dengan pemandangan indah sekaligus mengerikan itu.
Ardhi memprotes.
"Kau bilang bahwa sihirmu tidak terlalu kuat dari sihir es?"
"Memang benar, bagiku yang barusan sangat lemah."
Untuk pertama kalinya Ardhi meragukan soal penilaian Risa untuk dirinya sendiri. Yang terpenting kota baik-baik saja dan semua orang diminta kembali ke rumah setelah mengucapkan banyak terima kasih pada Risa.
Kelompok Ardhi yang lain muncul setelah ledakan.
"Kami bergegas datang kemari hingga aku lupa mengenakan bra."
"Aku juga," tambah Purin.
Mery mengecek pakaian tidurnya.
"Sepertinya aku tidak lupa."
"Kalian ini tidur telanjang desu."
Ardhi memilih mengabaikannya lalu menjelaskan yang terjadi. Nisa memberikan tanggapan cepat.
__ADS_1
"Jadi begitu nyan."
"Lebih baik kita kembali dan tidur lagi, besok pagi akan menjadi perjalanan melelahkan."
"Setuju."
Dan keesokan paginya kereta mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan lebih banyak makanan serta minuman juga. Area yang mereka lewati selanjutnya merupakan padang gurun yang kebanyakan semua orang hindari. Beberapa penjaga telah menghentikan kelompok Ardhi.
"Kenapa kami tidak bisa lewat?" tanya Latifa.
"Di depan sana belakangan ini banyak monster, sebelumnya beberapa petualang telah dikirim ke sana namun sampai sekarang mereka belum kembali."
"Belum kembali?"
"Walau ini padang gurun, bagi pedagang ini akses satu-satunya jalan untuk menunju kota Sandria, jadi mereka secara bersama-sama mengirim petualang untuk membuka jalan."
Kota Sandria adalah sebuah kota makmur di tengah gurun, mereka mengisolasi diri mereka dari dunia luar namun para pedagang kerap menjual belikan dagangan mereka di sana, karena memiliki keuntungan lebih besar maka para pedagang tidak mengeluh karena melewati jalan sulit.
"Kami juga seorang petualang, jadi biarkan kami lewat."
"Kamu yakin."
Semua orang mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu tak masalah namun saat kalian bertemu para petualang sebelumnya minta mereka kembali secepatnya."
"Kami mengerti."
__ADS_1